Kawan, tahun akan berakhir, begitu juga kita yang lebih dulu berakhir. Hanya masih belum percaya, mungkin saja belum bisa menerimanya. Aku tidak lupa, bagaimana kita dulu bisa berjumpa. Meski aku tidak tahu, bagaimana kau mengenalku lebih dulu. Pada mulanya memang sudah terbaca ada tanda tanda, bahwa kau ingin menyapa. Tetapi aku hanya membaca, belum merasakannya. Sangat kuat upayamu, untuk dekat denganku. Itulah yang ku tahu setelah kita bertemu. Ah, mungkin hanya rasa terlalu percaya diri. Bukan hanya aku yang membaca tanda-tandanya, teman ku pun juga membacanya. Itu pun aku tahu, setelah kita saling berbicara tentang rasa.
Kawan, tahun akan berlalu. Dan aku masih seperti dulu. Kini kau sedang menjalani hidupmu, yang baru. Untuk tahun yang berganti, maaf, aku lupa bagaimana kita melewati. Karena waktu itu kita masih terpatri, dengan yang telah kita sepakati. Meski terkadang aku mencoba untuk menggoda, agar kita mengingkari yang telah disepakati. Namun kau ingin agar kita tetap menjalani yang sudah disepakati.
Kawan, meski tahun akan berlalu aku masih saja ingat pada dirimu. Ingat bagaimana kita melewati tahun yang berganti. Tahun yang hanya kita lewati bersama. Karena hanya kita yang memiliki kalendernya. Yang pada penanggalannya ada tiga yang kita beri tanda. Meski sederhana namun sampai saat ini masih kurasa warna dan maknanya.
Kawan, kalender tahun ini akan berakhir. Begitu juga kalender kita, yang lebih dulu menutup tanggalnya, tanpa kita menggantinya dengan kalender yang baru. Kini kita memiliki kalender yang bebeda. Dalam kalendermu mungkin tetap tiga, tanggal yang kau beri tanda. Dan dalam kalenderku hanya satu tanggal yang kuberi tanda. Yaitu tanggal untuk diriku sendiri. Meski begitu tetap kuingat tanggal yang pernah kita beri tanda bersama.
Kawan, pada tahun yang baru nanti aku ingin seperti dirimu menjalani hidup yang baru. Meski saat ini aku masih ingin menjalani hidup baru, bersamammu. Yang aku alami saat ini, coba tuk kuterima. Karena bisa jadi inilah musabab yang harus kuterima atas perlakuanku padamu. Mungkin seperti yang orang katakan bahwa yang ku alami ini sudah menjadi kehendak Sang Pengatur. Maka dari itu, dengan segala yang ada harus kuterima. Tetapi apa kau tahu, jika kau mengetahui keadaanku saat ini, aku masih merasakan kepedulianmu padaku. Sungguh itu sangat ku rindu dari dirimu.
Kawan, aku cemburu pada temanmu yang juga baru saja menjalani hidup baru. Karena kita ketahui bersama, meski sesungguhnya engkau yang lebih mengetahui, kisah temanmu. Aku juga ingin kita seperti itu. Tetapi itu hanyalah inginku, mungkin dulu juga menjadi inginmu. Tetapi keinginan Sang Pengatur tidak seperti itu. Kita, terlebih diriku tidak bisa memaksa. Yang menjadi sesalku adalah cara kita mengakhiri. Bukan, yang menjadi sesalku adalah sebab kita menutup kalender tanpa menggantinya dengan yang baru. Harus diakui, itu karena diriku.
Kawan, sesungguhnya aku sangat ingin tahu kabar dirimu. Aku akan sangat gembira bila kau baik baik saja. Meski aku akan lebih gembira bila diriku menjadi sebab kau baik baik saja. Aku masih sangat ingin mendengar celotehmu. Aku masih sangat ingin kau marah padaku karena kelakuanku. Aku masih sangat ingin kau peduli kepadaku. Aku masih sangat ingin kita berbagi rasa, berbagi cerita. Aku sangat ingin mencubit pipimu yang mengembang itu. Tetapi itu hanya inginku. Dan aku sangat sangat tahu, bahwa aku tak berhak atas kelakuanmu itu.
Kawan, tahun akan berlalu. Tapi kau tetap menjadi rindu, bagiku. Aku sangat ingin menjalani hidup yang baru. Maka dari itu, akan kulepaskan rindu padamu dengan caraku. Cara yang tentu sudah kau tahu. Ku harap kau juga tahu, tentang rinduku. Meski aku tahu, saat ini kau tak mungkin menyambut rinduku. Tapi biarlah, karena rinduku bukan lagi urusanmu. Kawan, pada hidupku yang baru nanti aku ingin kau tahu. Tapi pintamu dulu apakah masih berlaku?. Jika kau tak ingin tahu lagi tentangku maka kau tak akan kuberi tahu ketika aku memulai hidup baru.
Kawan, tahun akan berganti. Mari sama sama kita amati kemudian berbenah diri atas apa yang telah dilewati. Kita sama sama berdoa atas apa yang kita lalui. Semoga bukan menjadi sebab atas apa yang akan dirimu hadapi. Juga kita berdoa bersama untuk yang akan kita temui nanti. Karena kita tak tahu, apa yang menjadi rencana dan kehendak-Nya. Semoga apa yang menjadi rencana dan kehendak-Nya bisa kita terima. Dan apa yang akan terjadi nanti, semoga dengan izin-Nya kita diberikan daya untuk menghadapi.
Baguss pak saya baper bacanya wkwk 😂
BalasHapusSiapa ini?
Hapus