Pelajaran hari ini telah selesai. Setelah shalat Zuhur berjamaah di masjid sekolah Bagus langsung pulang menuju rumahnya. Sesampainya ia di rumah, ia kaget ada kucing dengan bulu yang lebat dan bagus seperti kucing persia atau anggora. Bagus tidak mengerti jenis jenis kucing. Dilihatnya, kucing tersebut tergeletak sedang tertidur. Perutnya nampak besar. Sepertinya kucing tersebut sedang hamil. Ketika Bagus melewati kucing itu, kucing terbangun dan me-ngeong seolah kucing itu memanggil Bagus. "Kayanya laper nih kucing, keliatan lemes begitu," gumam Bagus.
Bagus masuk ke rumah, mengucap salam, membuka sepatu, menaruh tas dan mencari ibunya untuk cium tangan. Setelah itu Bagus langsung menuju meja makan untuk melihat ada makanan apa yang telah dimasak ibunya. Terdapat nasi, tempe, tahu, sambal dan sayur sop sudah ada di meja. Meski jarang ada orang di rumah pada siang hari ibu Bagus tetap masak untuk makan siang dirinya sendiri dan si Bagus. Bagus mengambil tempe untuk diberikan kepada kucing yang ada di depan rumahnya. "Niihh cing kayanya lu laper ya, makan nih adanya tempe didoyanin aja dari pada kelaperan," ucap Bagus sambil memberikan tempenya. Bagus melihat kucing itu bernafsu makan. Bagus mengambil lagi tempenya dan diberikan lagi kepada kucing itu. Saat kucing itu makan Bagus masuk rumah juga untuk makan siang.
Setelah mencuci tangan, Bagus makan siang di meja makan sendiri karena ibunya sudah makan terlebih dahulu. Sesaat sebelum selesai makan, Bagus sedikit tersendak karena makan terburu buru. Bagus langsung mengambil air dan meminumnya. Kemudian Bagus teringat kepada kucing yang diberi tempe tadi, dia makan tetapi tidak diberikan minum. Segera setelah selesai makan Bagus menuju dapur untuk mengambil air di mangkuk kemudian memberikannya kepada kucig tadi. "Lohh Gus buat apa air di mangkuk itu?" Tanya ibu Bagus yang masih membereskan dapur. "Buat minum kucing bu, emang ibu ga tau ada kucing di depan rumah?" Jawab Bagus. Ibu Bagus hanya menggelengkan kepala karena memang tidak tau kalau ada kucing di halaman rumahnya. Setelah memberikan minum kucing, Bagus masuk ke rumah dan menutup rapat pintunya supaya kucing itu tidak masuk ke dalam rumah.
Bagus beristirahat di kamarnya sambil mendengarkan musik. Ketika memasuki waktu shalat Ashar Bagus bersegera bersiap untuk shalat berjamaah di musola dekat rumahnya. Bagus kaget kucing tadi masih ada di halaman rumahnya dan masih tertidur. Bagus pikir karena kucing itu hamil hingga ia enggan untuk bergerak. Sepulangnya Bagus dari musola kucing tadi masih tertidur. Bagus membiarkan saja kucing itu tertidur. Seperti sore hari pada biasanya, Bagus berkeliling menggunakan sepeda. Sesekali dia main ke rumah temannya sejak kecil atau bermain di taman.
Hari semakin sore. Bagus bergegas pulang dari taman. Sesampainya di rumah, bapak Bagus sudah menunggu. "Gus, itu kucing siapa? Kata ibu kamu yang kasih makan sama minum." Tanya bapak Bagus ketika ia baru masuk rumah. "Ngga tau Pak, Bagus pulang sekolah udah ada di halaman rumah," jawab Bagus sambil menaruh sepedanya. Setelah itu Bagus beristirahat sebentar di kamar sambil menunggu keringatnya kering, kemudian ia mandi dan aktivitas Bagus di malam itu berjalan seperti biasanya.
Keesokan paginya saat Bagus hendak berangkat ke sekolah Bagus melihat kucing itu masih berada di teras rumah dan masih tertidur. Sesampainya di sekolah Bagus bercerita kepada Agus, "Gus di rumah gua ada kucing anggora, Lagi hamil pula. Bulunya baguss sih sebenernya cuma kaya belom dimandiin gith jadi keliatan kucel." "Lu yakin itu kucing anggora?" Tanya Agus memastikan. "Hehehe ga tau sihh gua," jawab Bagus. "Yaudah nanti gua ke rumah lu ya," ucap Agus yang ingin melihat kucing yang dimaksud Bagus.
Setelah pulang sekolah, Agus dan Bagus pulang bersama. Rumah mereka sebenarnya tidak terlalu berjauhan. Hanya saja jika Agus melewati rumah Bagus ia akan menempuh jalan sedikit memutar. "Tuhh kucingnya masih ada," ucap bagus menunjuk kucingnya yang berwarna abu abu kehitaman. "Ohh ini kucingnya, kasih makannya yang khusus makanan kucing itu Gus, ditaro aja di mangkok gitu minumnya juga biar sehat nih kucing," ucap Agus memberikan saran. "Iyaa nanti gua bilang bapak gua dulu," jawab Bagus. Agus pun pulang dan Bagus mengambilkan makanan yang ada di meja makan dan juga minuman untuk kucing. Kemudian Bagus makan siang, beristirahat serta bersepeda pada sore hari seperti biasanya.
Setelah shalat Isya, makan malam, dan menyelesaikan tugas sekolah Bagus menghampiri bapaknya yang sedang membaca koran. "Pak, kucingnya dibeliin makanan dong sama sekalian beliin kandang nanti kalo udah ngelahirin jadi nyimpen anak anaknya juga gampang," ucap Bagus memulai pembicaraan. "Emangnya ga ada yang nyariin itu kucing?" Bapak Bagus bertanya. "Ga ada pak, tadi pagi ibu belanja sambil tanya tanya ke orang ada yang kehilangan kucing apa ngga, tetangga kita ga ada yang melihara kucing," ibu Bagus menjawab mendengar pertanyaan suaminya. "Iya pak, tadi sore juga sambil sepedaan Bagus tanyain ke orang orang ada yang keilangan kucing apa ngga, ga ada yang ngerasa punya atau kehilangan kucing," ucap Bagus menimpali jawaban ibunya. "Yasudah besok pagi kamu bapak kasih uang terus kamu beliin makanan kucing, kandangnya nanti bapak yang cariin," bapak Bagus mencoba memenuhi permintaan anaknya. Setelah itu Bagus ke kamar untuk istirahat.
Keesokan harinya selepas pulang sekolah Bagus sudah membeli makanan kucing, dan setibanya ia di rumah ia langsung menyiapkan makanan dan minuman untuk kucingnya. Pada sore harinya Bagus tidak bersepeda seperti biasanya karena menunggu bapaknya pulang, yang bisa jadi sudah membawakan kandang untuk kucingnya. Bagus menunggu bapaknya sambil baca komik di teras rumah. Dari kejauhan terdengar suara motor khas bapak Bagus. "Lohh tumben Gus ga sepedaan?" Bapak Bagus bertanya tetapi pertanyaannya tidak langsung dijawab karena Bagus fokus pada kardus yang dibawa bapaknya. Setelah mencium tangan bapaknya Bagus membereskan dan membuka kardus yang dibawa oleh bapaknya yang ternyata adalah kandang kucing. Kandang kucing yang dibelikan oleh bapak Bagus cukup besar karena sekaligus untuk anaknya ketika lahir nanti. "Oohh jadi kamu ga sepedaan karna nungguin bapak bawa kandang kucing ya," ucap bapak Bagus dengan nada tinggi dan keras. "Ehh iya pak, hehehe."
Meski telah disediakan kandang, kucing itu jarang sekali berada di dalam kandangnya. Ia berada di kandangnya ketika malam hari atau ketika di rumah sedang tidak ada orang. Terkadang pada sore hari saat pintu rumah terbuka kucing itu tidur di sofa ruang tamu. Sekarang Bagus tidak sering lagi bersepeda pada sore hari. Ia terkadang bermain dengan kucingnya atau membersihkan kandang kucingnya. Beberapa hari kemudian tanpa diketahui orang rumah kucing itu sudah melahirkan dan anak anaknya sudah berada di dalam kandangnya. Jumlah anaknya tujuh dengan berbagai warna. Setelah beberapa hari dan anak kucing sudah besar, beberapa anak kucing tidak terlihat seperti ibunya atau lebih terlihat seperti kucing liar. Mungkin inilah hasil perkawinan silang.
"Gus kucing gua udah ngelahirin, anaknya ada tujuh. Lucu dahh masa ada beberapa anaknya kaya kucing liar gitu heran gua. Bulunya itu ga kaya bulu induknya yang rapih lembut," ucap Bagus menceritakannya kepada Agus. "Yaudah nanti pulang sekolah gua ke rumah lu ya liat anak kucingnya." Selepas sekolah Agus dan Bagus kembali pulang bersama menuju rumah Bagus. "Ini mah bisa jadi kucingnya kawin sama kucing liar atau kucing kampung gitu," kata Agus setelah melihat keadaan anak kucing yang baru lahir itu. "Yaa kita liat aja kalo udah gede bulunya sama atau ngga kaya induknya," Agus melanjutkan perkataannya. Semenjak itu Agus dan Bagus lebih sering pulang bersama untuk melihat kondisi anak kucing Bagus.
Suatu hari di waktu malam datang seseorang ke rumah Bagus. "Assalamualaikum, permisi, selamat malam." Kemudian Bagus membukakan pintu rumahnya. "Dek, ini kucingnya punya ade?" Tanya orang itu. "Bukan, kucing itu tiba tiba di siang hari ada di halaman rumah saya," jawab Bagus. "Siapa itu Gus, disuruh masuk dulu," ibu Bagus menyuruh Bagus mempersilahkan tamu itu masuk. "Jadi begini bu, saya kehilangan kucing saya dia lagi hamil, tadi siang saya lihat kucing ini mirip kucing saya cuma ko ga kelihatan hamil, waktu saya perhatikan lagi ternyata ada anak anaknya. Kalo memang bukan punya ibu atau ade ini berarti bisa jadi kucing ini punya saya kalo gitu boleh kan saya bawa kucing sama anak-anaknya?" Tamu itu meminta kucingnya dan ibu Bagus mempersilahkan tamu itu membawa kucingnya. Bagus terlihat sedikit sedih karena kucingnya akan dibawa oleh pemiliknya. Kemudian pemiliknya memberikan Bagus satu anak kucing yang memiliki bulu cukup rapih dibanding yang lainnya.
"Gus, kucing gua dibawa sama yang punya." Bagus bercerita kepada Agus sewaktu istirahat sekolah bahwa kucingnya sudah tidak lagi di rumahnya. "Itu emang bukan kucing elu," ucap Agus sambil menepuk pundak Bagus cukup keras. "Itu kucing dari awal emang bukan punya elu jadi jangan ngaku kalo kucing itu milik elu." Agus melanjutkan perkataannya. Bagus tersadar dari sedihnya bahwa kucing itu bukan punya dia jadi wajar kalo ada pemiliknya yang datang untuk membawanya pulang. "Iya Gus, tapi gua dikasih satu anaknya, bulunya bagus rapih itu anak keturunan emaknya mungkin bulunya halus gitu, nanti lu liat deh ya ke rumah gua." Bagus mengajak Agus ke rumahnya.
Pada suatu hari sewaktu Bagus pulang sekolah, Bagus mendapati kucingnya tidak ada di rumahnya. Dan sudah beberapa hari kucing itu tidak pulang. Bapak Bagus yang melihat Bagus murung sejak kucing itu hilang memanggil Bagus setelah shalat isya. "Gus mestinya kamu sudah belajar dari kejadian induknya kalo kucing itu bukan milik kita ya wajar yang punya ngambil lagi. Kalo kasih contoh tukang parkir dititipin motor terus motornya diambil yang punya gak apa apa tuh tukang parkir ga sedih malah yang tadinya ga pegang duit dapet duit itu tukang parkir. Atau tau gak kenapa kita tidak boleh melukai, jangankan sampe bunuh diri, sengaja ngelukain diri kita sendiri aja ga boleh, tau gak kenapa? Diri kita ini sebenernya punya siapa sihh?" Bapak Bagus mencoba memberikan pengertian kepada Bagus tetapi Bagus hanya diam saja. "Yaudah kalo tau alamat rumah ini juga tuh kucing balik lagi, kalo ga tau yaa naik ojol ato pake google maps juga nyampe." Tutup bapak Bagus kemudian menyalakan televisi. Dan Bagus tanpa sepatah kata masuk ke kamarnya.
Selang beberapa hari Agus membawakan kucing Bagus yang dia temukan di lapangan bulutangkis dekat rumahnya. Bagus terlihat tidak terlalu gembira bukan berarti dia tidak senang dan juga dia sudah tidak sedih lagi karena dia sadar sewaktu waktu kucing itu bisa hilang lagi. Tetapi meskipun begitu selama kucing itu ada di rumahnya Bagus akan merawatnya dengan baik.