Ada seorang ulama yang mengemukakan pendapatnya, yang menurut penulis pendapat tersebut merupakan sebuah rumus hidup. Pendapat yang dikemukakan sang ulama adalah bahwa hidup di dunia itu tiga hari. Yaitu kemarin yang telah lewat, hari ini yang sedang dihadapi, dan hari esok yang belum tentu kita temui. Rumus itu dikemukakan untuk dirinya sendiri khususnya dan untuk masyarakat lain pada umumnya. Mengapa disebut sebagai rumus hidup? Karena dengan rumus itu kita bisa menentukan langkah langkah untuk menjalani hidup kita.
Bagaimana kita bisa menentukan langkah langkah untuk menjalani hidup dengan rumus itu? Untuk menjawabnya kita harus mengerti dan memahami maksud rumus dari ulama itu. Pertama, hari kemarin yang telah lewat dan kita tak bisa kembali padanya. Hal yang sudah lewat hanya bisa kita jadikan sebagai pelajaran untuk menjalani hari ini dan menentukan langkah untuk hari esok. Banyak hal yang tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita. Banyak kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan pada hari kemarin. Tentu ada juga hal hal baik yang kita alami. Hal hal tersebut perlu kita perbaiki, pertahankan, maupun kita tingkatkan.
Yang kedua yaitu hari ini yang sedang kita hadapi. Kita hadapi hari ini sebagai akibat dari yang kita lakukan kemarin. Kita hadapi hari ini sebagai bekal untuk menghadapi hari esok, meskipun belum tentu kita temui. Kita hadapi hari ini, sesuai dengan yang telah kita rencanakan. Kita hadapi hari ini meski terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan. Kita hadapi hari ini dengan segala tantangan yang menghadang. Kita hadapi hari ini bukan hanya untuk diri kita. Tetapi hadapilah hari ini untuk berbuat sesuatu kepada semua orang, karena kita tidak tau seperti apa hari esok yang menunggu untuk dihadapi. Bisa jadi banyak orang yang bisa kita bantu hari ini, tetapi kita memilih untuk tidak membantunya. Dan esok bisa jadi kita yang memerlukan bantuan orang lain.
Dan yang ketiga yaitu hari esok yang belum tentu kita temui. Bukan berarti hari esok itu tidak ada, tetapi apakah kita tetap ada untuk bertemu hari esok. Kita tetap bisa percaya bahwa hari esok itu ada. Kita tetap perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok. Kita tetap perlu membuat rencana apa saja yang harus kita lakukan untuk menghadapi hari esok. Kita tetap harus berbuat sesuatu hari ini, dan hari esok harus kita hadapi dengan lebih baik dari pada hari ini.
Ulama tersebut memiliki pengertian tersendiri tentang rumus yang dia buat. Kita juga bisa mengartikan rumus yang ulama itu buat. Tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita terhadap rumus itu terhadap orang lain. Dan juga ulama itu tidak bisa memaksakan rumus itu untuk orang lain. Rumus itu ia buat dan ia kemukakan sebab ia sudah paham mengapa ia hidup di dunia, untuk apa kehidupan yang ia jalani di dunia, dan akan ke mana ia setelah kehidupan di dunia. Ada hal yang diyakini oleh ulama itu, maka munculah rumus itu.
Rumus hidup yang dikemukakan oleh ulama itu bukanlah satu satunya rumus hidup dan bukanlah sebuah rumus hidup yang mutlak. Kita juga bisa membuat rumus hidup sendiri, minimal rumus hidul untuk diri kita sendiri. Ulama itu hanya menyampaikan dan mengingatkan kebaikan. Selanjutnya kembali kepada diri kita sendiri apakah akan melakukan kebaikan atau tidak. Tetapi yang menajdi keputusan penulis terhadap rumus itu adalah, memasukkan rumus itu ke dalam salah satu rumus hidup penulis. Karena rumus itu bukanlah rumus hidup yang buruk, kita memang hidup pada hari kemarin dan hari ini, dan memang kita belum tentu hidup pada hari esok. Tetapi kita tetap harus percaya bahwa hari esok ada. Maka belajarlah dari hari esok, dan berbuat baiklah pada hari ini. Dan menjadi lebih baiklah pada esok hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar