Selepas istirahat di lapangan upacara, dua murid berdiri di bawah terik matahari. Mereka mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka. Melalui jendela kelas mereka menjadi tontonan, itu menjadi peringatan bagi semua untuk taat pada aturan. Agar semua paham, setiap pengingkaran aturan akan ada ganjaran. Dan setiap ketaatan pada aturan, mereka pun juga mendapat ganjaran.
Semua murid sudah mengetahui itu. Tetapi mengapa masih ada pengingkaran terhadap aturan? "Nak, kalian semua kan sudah tahu bahwa di sini terdapat aturan, tetapi mengapa masih saja kalian mengingkari aturan? Kalian juga tahu aturan ada untuk kebaikan, adanya aturan saja masih banyak terjadi hal hal tidak baik yang tidak diinginkan, bagaimana jika aturan itu tidak ada, apa yang akan terjadi pada kehidupan?" Ceramah guru kepada para muridnya mengingatkan.
Sesaat kedua murid itu merasa, mereka menjadi topik pembicaraan di seluruh ruang. Termasuk di ruang guru. Terjadi dialog, tentang perbuatan apa yang mereka lalukan, tentang ganjaran yang mereka dapatkan. Selain itu juga terdapat perdebatan, tentang ganjaran yang mereka dapatkan, sebagian berpendapat memang pantas ganjaran yang mereka dapat, yang lainya berpendapat ada ganjaran yang lebih pantas mereka dapatkan.
Sesunguhnya mereka semua tahu aturan, hanya saja sebagian dari mereka belum sepenuhnya sadar terhadap ganjaran yang akan didapat atas perbuatan yang dilakukan. Seperti halnya dalam beragama, ganjaran atas perbuatan sebagian akan didapat setelah melalui hari berbangkit. Jika seluruh ganjaran atas perbuatan bagi yang mengingkari aturan langsung didapatkan, akankah masih ada kehidupan?
Bagus, teman satu kelas dari kedua murid tadi bercerita kepada bapaknya tentang yang terjadi di sekolah pada hari ini. Seperti biasa, ia bercerita selepas Isya. "Gus, bapak mau kamu perhatikan sebuah lirik lagu setelah itu kamu pikirkan dan bapak mau tahu pendapatmu tentang lirik lagu tersebut, 'jika surga dan neraka tak pernah ada masihkah kau bersujud kepada-Nya.' Itu lirik lagunya, coba kamu pikirkan dan apa pendapatmu." Bapak Bagus bernyanyi.
Bagus kebingungan dan ia belum bisa berpendapat. "Yang pasti bagi mereka yang mengakui dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan, ampunan dan kesempatan untuk memperbaiki perbuatan akan mereka dapatkan. Karena Allah Maha Pengampun dan juga Maha Menyayangi ciptaannya." Bapak Bagus menutup dialog malam dengan sepotong nasihat. Meski raut kebingungan masih nampak, Bagus tidak terbawa arus kebingungannya. Karena ia memohon dalam shalatnya, untuk selalu diberikan petunjuk.
Sabtu, 12 Januari 2019
Kamis, 10 Januari 2019
Si Bagus : Soal - Jawaban
Pada suatu hari di sebuah sekolah dalam ruang kelas. Setelah istirahat para murid langsung memasuki kelas bersiap untuk mengikuti pelajaran. Seorang guru memasuki sebuah ruang kelas. "Ayo anak anak duduk rapih siapkan kertas dan alat tulis, yang lainnya disimpan dimasukan ke dalam tas." Ucap seorang guru setelah memasuki kelas dan mengucap salam. "Lho pak ko ga dikasih kisi kisi dulu kaya kelas sebelah?" Celetuk seorang murid. Sejenak guru tersebut diam tidak langsung menjawab pertanyaan murid tadi. "Lohh memang untuk apa kisi kisinya? Kan kamu sudah belajar tohh seminggu dua kali bertemu bapak jadi tidak perlu lagi diberikan kisi kisi," jawab guru tersebut.
Sebelum memulai ulangan guru tersebut memberikan motivasi kepada para muridnya. "Nak ada sebuah ujian yang pertanyaannya itu sudah diberitahu kepada seluruh peserta ujian, bahkan jawabannyapun juga sudah diberitahu. Tetapi tidak semua peserta ujian bisa menjawab soal ujian tersebut pada pelaksaan ujian. Soal tersebut diberikan ketika kalian, kita berada di dalam kubur. Kita tidak bisa menjawab soal itu karena perbuatan kita tidak sesuai dengan soal dan pertanyaan dari malaikat."
Setelah bercerita guru tersebut melanjutkan omongannya. "Sama halnya seperti sekarang, ketika kalian diberikan kisi kisi ulangan tetapi tidak membaca atau mempelajarinya kalian tidak bisa menjawab soal tersebut dan tidak akan mendapatkan nilai yang baik. Jika kalian meminta kisi kisi supaya bisa menjawab soal dan mendapatkan nilai yang baik, bukan itu sesungguhnya tujuan belajar yang utama." Guru tersebut menutup motivasinya kepada para murid saat sebagian murid masih nampak belum memahami maksud dari perkataan guru itu.
Pada akhirnya ulangan tetap dilaksanakan namun guru tersebut memberikan waktu beberapa menit kepada para muridnya untuk membaca terlebih dahulu. Setelah ulangan para murid langsung mengetahui nilai mereka karena seketika itu juga ulangan diperiksa bersama. Sebagian murid tidak puas dan sebagian murid merasa puas dengan nilai yang diperoleh. Namun salah satu murid, si Bagus, tak acuh dengan nilai yang dia peroleh karena memang meski nilai yang ia peroleh tak terlalu tinggi tapi nilai dia melebihi nilai minimal yang ditetapkan. Yang Bagus pikirkan adalah cerita dari gurunya tentang soal dan jawaban yang sudah dibocorkan tetapi banyak yang tidak bisa menjawabnya. Dia takut akan menjadi golongan orang yang tidak bisa menjawab soal yang sudah dibocorkan jawabannya tersebut.
Sebelum memulai ulangan guru tersebut memberikan motivasi kepada para muridnya. "Nak ada sebuah ujian yang pertanyaannya itu sudah diberitahu kepada seluruh peserta ujian, bahkan jawabannyapun juga sudah diberitahu. Tetapi tidak semua peserta ujian bisa menjawab soal ujian tersebut pada pelaksaan ujian. Soal tersebut diberikan ketika kalian, kita berada di dalam kubur. Kita tidak bisa menjawab soal itu karena perbuatan kita tidak sesuai dengan soal dan pertanyaan dari malaikat."
Setelah bercerita guru tersebut melanjutkan omongannya. "Sama halnya seperti sekarang, ketika kalian diberikan kisi kisi ulangan tetapi tidak membaca atau mempelajarinya kalian tidak bisa menjawab soal tersebut dan tidak akan mendapatkan nilai yang baik. Jika kalian meminta kisi kisi supaya bisa menjawab soal dan mendapatkan nilai yang baik, bukan itu sesungguhnya tujuan belajar yang utama." Guru tersebut menutup motivasinya kepada para murid saat sebagian murid masih nampak belum memahami maksud dari perkataan guru itu.
Pada akhirnya ulangan tetap dilaksanakan namun guru tersebut memberikan waktu beberapa menit kepada para muridnya untuk membaca terlebih dahulu. Setelah ulangan para murid langsung mengetahui nilai mereka karena seketika itu juga ulangan diperiksa bersama. Sebagian murid tidak puas dan sebagian murid merasa puas dengan nilai yang diperoleh. Namun salah satu murid, si Bagus, tak acuh dengan nilai yang dia peroleh karena memang meski nilai yang ia peroleh tak terlalu tinggi tapi nilai dia melebihi nilai minimal yang ditetapkan. Yang Bagus pikirkan adalah cerita dari gurunya tentang soal dan jawaban yang sudah dibocorkan tetapi banyak yang tidak bisa menjawabnya. Dia takut akan menjadi golongan orang yang tidak bisa menjawab soal yang sudah dibocorkan jawabannya tersebut.
Serangkai Kata
Kita diperintahkan untuk membaca
Membaca semua tanda
Tidak hanya dengan mata
Tetapi dengan semua indra
Dengan membaca kita bisa merangkai kata
Melalui kata kita bisa menyampaikan berita
Dan juga rasa
Dengan membaca kita mengenal nama
Melalui nama kita saling menyapa
Setelah menyapa kita bertukar cerita
Dengan membaca kita lihat realita
Kemudian bisa memilah, yang fana
Agar kita selalu terjaga
Dengan membaca kita bisa tahu makna
Tanpa membaca kita tak bermakna
Untuk menjadi bernakna maka ;
"Bacalah dengan nama Tuhanmu."
Membaca semua tanda
Tidak hanya dengan mata
Tetapi dengan semua indra
Dengan membaca kita bisa merangkai kata
Melalui kata kita bisa menyampaikan berita
Dan juga rasa
Dengan membaca kita mengenal nama
Melalui nama kita saling menyapa
Setelah menyapa kita bertukar cerita
Dengan membaca kita lihat realita
Kemudian bisa memilah, yang fana
Agar kita selalu terjaga
Dengan membaca kita bisa tahu makna
Tanpa membaca kita tak bermakna
Untuk menjadi bernakna maka ;
"Bacalah dengan nama Tuhanmu."
Selasa, 08 Januari 2019
Jalan
Suatu waktu pada suatu malam. Sekelompok pemuda berkumpul dalam ruang maya. "Yuk kita kemana," buka seorang pemuda memecah sunyi ruang. Tiga, dua, satu, waktu hanya berlalu. Sunyi kembali mengisi, hingga pemuda lain membuka sapa. "Yuk kemana kita". Pemuda pemuda lain mulai membalas sapa. Satu hal yang mereka tanya dan ingin pastikan, hendak berjalan kemana jiwa mereka?
Para pemuda itu berjalan, keluar dari ruang maya, karena dalam ruang maya tak menjawab tanya. Kini mereka bertatap sapa, berbalas tawa. Hingga seorang pemuda membuka kata, "jalan yuk kita." Dan pemuda lain menjawab kata, "yuk kita jalan." Pada akhirnya mereka tetapkan sebuah keputusan, yaitu terlebih dahulu menyusuri jalan, baru tetapkan tujuan. Meski mereka belum mendapatkan sebuah kepastian, tetapi mereka harus mulai berjalan.
Pemuda pemuda harus berjalan, agar mereka tau kehidupan. Pemuda pemuda harus tau kehidupan, agar mereka dapat mengisi kehidupan. Pemuda pemuda harus mengisi kehidupan, karena mereka bagian dari kehidupan.
Dalam perjalanan terlebih dahulu mereka putuskan untuk mengunjungi kawan, sambil mereka diskusikan, tujuan. "Ke sana yuk kita." Celoteh seorang pemuda. "Yuk kita ke sana," pemuda lain menetapkan. Tidak harus terus berjalan. Sejenak, perlu untuk berhenti dan menepi, kemudian melihat kembali dalam kehidupan apa yang belum terisi. Karena sebagai bagian dari kehidupan, pemuda mesti memberikan bukti bahwa mereka berarti.
Untuk memberikan bukti bahwa pemuda berati, jalan yang mereka lalui mestilah berkelok, naik dan turun serta tajam dan curam. Jika mereka berhasil lalui kemudian kembali dengan membawa bukti, saat itulah pemuda membuktikan diri bahwa mereka mampu berarti dalam mengisi kehidupan. Lalu jika kita tak mampu untuk berjalan kembali, dan memang sesunguhnya kita perlu petunjuk untuk kembali, maka memohonlah kepada Yang Maha Kuasa, "Tunjukilah kami jalan yang lurus".
Para pemuda itu berjalan, keluar dari ruang maya, karena dalam ruang maya tak menjawab tanya. Kini mereka bertatap sapa, berbalas tawa. Hingga seorang pemuda membuka kata, "jalan yuk kita." Dan pemuda lain menjawab kata, "yuk kita jalan." Pada akhirnya mereka tetapkan sebuah keputusan, yaitu terlebih dahulu menyusuri jalan, baru tetapkan tujuan. Meski mereka belum mendapatkan sebuah kepastian, tetapi mereka harus mulai berjalan.
Pemuda pemuda harus berjalan, agar mereka tau kehidupan. Pemuda pemuda harus tau kehidupan, agar mereka dapat mengisi kehidupan. Pemuda pemuda harus mengisi kehidupan, karena mereka bagian dari kehidupan.
Dalam perjalanan terlebih dahulu mereka putuskan untuk mengunjungi kawan, sambil mereka diskusikan, tujuan. "Ke sana yuk kita." Celoteh seorang pemuda. "Yuk kita ke sana," pemuda lain menetapkan. Tidak harus terus berjalan. Sejenak, perlu untuk berhenti dan menepi, kemudian melihat kembali dalam kehidupan apa yang belum terisi. Karena sebagai bagian dari kehidupan, pemuda mesti memberikan bukti bahwa mereka berarti.
Untuk memberikan bukti bahwa pemuda berati, jalan yang mereka lalui mestilah berkelok, naik dan turun serta tajam dan curam. Jika mereka berhasil lalui kemudian kembali dengan membawa bukti, saat itulah pemuda membuktikan diri bahwa mereka mampu berarti dalam mengisi kehidupan. Lalu jika kita tak mampu untuk berjalan kembali, dan memang sesunguhnya kita perlu petunjuk untuk kembali, maka memohonlah kepada Yang Maha Kuasa, "Tunjukilah kami jalan yang lurus".
Jumat, 04 Januari 2019
Si Bagus : Punya Kita - Bukan Milik Kita
Pelajaran hari ini telah selesai. Setelah shalat Zuhur berjamaah di masjid sekolah Bagus langsung pulang menuju rumahnya. Sesampainya ia di rumah, ia kaget ada kucing dengan bulu yang lebat dan bagus seperti kucing persia atau anggora. Bagus tidak mengerti jenis jenis kucing. Dilihatnya, kucing tersebut tergeletak sedang tertidur. Perutnya nampak besar. Sepertinya kucing tersebut sedang hamil. Ketika Bagus melewati kucing itu, kucing terbangun dan me-ngeong seolah kucing itu memanggil Bagus. "Kayanya laper nih kucing, keliatan lemes begitu," gumam Bagus.
Bagus masuk ke rumah, mengucap salam, membuka sepatu, menaruh tas dan mencari ibunya untuk cium tangan. Setelah itu Bagus langsung menuju meja makan untuk melihat ada makanan apa yang telah dimasak ibunya. Terdapat nasi, tempe, tahu, sambal dan sayur sop sudah ada di meja. Meski jarang ada orang di rumah pada siang hari ibu Bagus tetap masak untuk makan siang dirinya sendiri dan si Bagus. Bagus mengambil tempe untuk diberikan kepada kucing yang ada di depan rumahnya. "Niihh cing kayanya lu laper ya, makan nih adanya tempe didoyanin aja dari pada kelaperan," ucap Bagus sambil memberikan tempenya. Bagus melihat kucing itu bernafsu makan. Bagus mengambil lagi tempenya dan diberikan lagi kepada kucing itu. Saat kucing itu makan Bagus masuk rumah juga untuk makan siang.
Setelah mencuci tangan, Bagus makan siang di meja makan sendiri karena ibunya sudah makan terlebih dahulu. Sesaat sebelum selesai makan, Bagus sedikit tersendak karena makan terburu buru. Bagus langsung mengambil air dan meminumnya. Kemudian Bagus teringat kepada kucing yang diberi tempe tadi, dia makan tetapi tidak diberikan minum. Segera setelah selesai makan Bagus menuju dapur untuk mengambil air di mangkuk kemudian memberikannya kepada kucig tadi. "Lohh Gus buat apa air di mangkuk itu?" Tanya ibu Bagus yang masih membereskan dapur. "Buat minum kucing bu, emang ibu ga tau ada kucing di depan rumah?" Jawab Bagus. Ibu Bagus hanya menggelengkan kepala karena memang tidak tau kalau ada kucing di halaman rumahnya. Setelah memberikan minum kucing, Bagus masuk ke rumah dan menutup rapat pintunya supaya kucing itu tidak masuk ke dalam rumah.
Bagus beristirahat di kamarnya sambil mendengarkan musik. Ketika memasuki waktu shalat Ashar Bagus bersegera bersiap untuk shalat berjamaah di musola dekat rumahnya. Bagus kaget kucing tadi masih ada di halaman rumahnya dan masih tertidur. Bagus pikir karena kucing itu hamil hingga ia enggan untuk bergerak. Sepulangnya Bagus dari musola kucing tadi masih tertidur. Bagus membiarkan saja kucing itu tertidur. Seperti sore hari pada biasanya, Bagus berkeliling menggunakan sepeda. Sesekali dia main ke rumah temannya sejak kecil atau bermain di taman.
Hari semakin sore. Bagus bergegas pulang dari taman. Sesampainya di rumah, bapak Bagus sudah menunggu. "Gus, itu kucing siapa? Kata ibu kamu yang kasih makan sama minum." Tanya bapak Bagus ketika ia baru masuk rumah. "Ngga tau Pak, Bagus pulang sekolah udah ada di halaman rumah," jawab Bagus sambil menaruh sepedanya. Setelah itu Bagus beristirahat sebentar di kamar sambil menunggu keringatnya kering, kemudian ia mandi dan aktivitas Bagus di malam itu berjalan seperti biasanya.
Keesokan paginya saat Bagus hendak berangkat ke sekolah Bagus melihat kucing itu masih berada di teras rumah dan masih tertidur. Sesampainya di sekolah Bagus bercerita kepada Agus, "Gus di rumah gua ada kucing anggora, Lagi hamil pula. Bulunya baguss sih sebenernya cuma kaya belom dimandiin gith jadi keliatan kucel." "Lu yakin itu kucing anggora?" Tanya Agus memastikan. "Hehehe ga tau sihh gua," jawab Bagus. "Yaudah nanti gua ke rumah lu ya," ucap Agus yang ingin melihat kucing yang dimaksud Bagus.
Setelah pulang sekolah, Agus dan Bagus pulang bersama. Rumah mereka sebenarnya tidak terlalu berjauhan. Hanya saja jika Agus melewati rumah Bagus ia akan menempuh jalan sedikit memutar. "Tuhh kucingnya masih ada," ucap bagus menunjuk kucingnya yang berwarna abu abu kehitaman. "Ohh ini kucingnya, kasih makannya yang khusus makanan kucing itu Gus, ditaro aja di mangkok gitu minumnya juga biar sehat nih kucing," ucap Agus memberikan saran. "Iyaa nanti gua bilang bapak gua dulu," jawab Bagus. Agus pun pulang dan Bagus mengambilkan makanan yang ada di meja makan dan juga minuman untuk kucing. Kemudian Bagus makan siang, beristirahat serta bersepeda pada sore hari seperti biasanya.
Setelah shalat Isya, makan malam, dan menyelesaikan tugas sekolah Bagus menghampiri bapaknya yang sedang membaca koran. "Pak, kucingnya dibeliin makanan dong sama sekalian beliin kandang nanti kalo udah ngelahirin jadi nyimpen anak anaknya juga gampang," ucap Bagus memulai pembicaraan. "Emangnya ga ada yang nyariin itu kucing?" Bapak Bagus bertanya. "Ga ada pak, tadi pagi ibu belanja sambil tanya tanya ke orang ada yang kehilangan kucing apa ngga, tetangga kita ga ada yang melihara kucing," ibu Bagus menjawab mendengar pertanyaan suaminya. "Iya pak, tadi sore juga sambil sepedaan Bagus tanyain ke orang orang ada yang keilangan kucing apa ngga, ga ada yang ngerasa punya atau kehilangan kucing," ucap Bagus menimpali jawaban ibunya. "Yasudah besok pagi kamu bapak kasih uang terus kamu beliin makanan kucing, kandangnya nanti bapak yang cariin," bapak Bagus mencoba memenuhi permintaan anaknya. Setelah itu Bagus ke kamar untuk istirahat.
Keesokan harinya selepas pulang sekolah Bagus sudah membeli makanan kucing, dan setibanya ia di rumah ia langsung menyiapkan makanan dan minuman untuk kucingnya. Pada sore harinya Bagus tidak bersepeda seperti biasanya karena menunggu bapaknya pulang, yang bisa jadi sudah membawakan kandang untuk kucingnya. Bagus menunggu bapaknya sambil baca komik di teras rumah. Dari kejauhan terdengar suara motor khas bapak Bagus. "Lohh tumben Gus ga sepedaan?" Bapak Bagus bertanya tetapi pertanyaannya tidak langsung dijawab karena Bagus fokus pada kardus yang dibawa bapaknya. Setelah mencium tangan bapaknya Bagus membereskan dan membuka kardus yang dibawa oleh bapaknya yang ternyata adalah kandang kucing. Kandang kucing yang dibelikan oleh bapak Bagus cukup besar karena sekaligus untuk anaknya ketika lahir nanti. "Oohh jadi kamu ga sepedaan karna nungguin bapak bawa kandang kucing ya," ucap bapak Bagus dengan nada tinggi dan keras. "Ehh iya pak, hehehe."
Meski telah disediakan kandang, kucing itu jarang sekali berada di dalam kandangnya. Ia berada di kandangnya ketika malam hari atau ketika di rumah sedang tidak ada orang. Terkadang pada sore hari saat pintu rumah terbuka kucing itu tidur di sofa ruang tamu. Sekarang Bagus tidak sering lagi bersepeda pada sore hari. Ia terkadang bermain dengan kucingnya atau membersihkan kandang kucingnya. Beberapa hari kemudian tanpa diketahui orang rumah kucing itu sudah melahirkan dan anak anaknya sudah berada di dalam kandangnya. Jumlah anaknya tujuh dengan berbagai warna. Setelah beberapa hari dan anak kucing sudah besar, beberapa anak kucing tidak terlihat seperti ibunya atau lebih terlihat seperti kucing liar. Mungkin inilah hasil perkawinan silang.
"Gus kucing gua udah ngelahirin, anaknya ada tujuh. Lucu dahh masa ada beberapa anaknya kaya kucing liar gitu heran gua. Bulunya itu ga kaya bulu induknya yang rapih lembut," ucap Bagus menceritakannya kepada Agus. "Yaudah nanti pulang sekolah gua ke rumah lu ya liat anak kucingnya." Selepas sekolah Agus dan Bagus kembali pulang bersama menuju rumah Bagus. "Ini mah bisa jadi kucingnya kawin sama kucing liar atau kucing kampung gitu," kata Agus setelah melihat keadaan anak kucing yang baru lahir itu. "Yaa kita liat aja kalo udah gede bulunya sama atau ngga kaya induknya," Agus melanjutkan perkataannya. Semenjak itu Agus dan Bagus lebih sering pulang bersama untuk melihat kondisi anak kucing Bagus.
Suatu hari di waktu malam datang seseorang ke rumah Bagus. "Assalamualaikum, permisi, selamat malam." Kemudian Bagus membukakan pintu rumahnya. "Dek, ini kucingnya punya ade?" Tanya orang itu. "Bukan, kucing itu tiba tiba di siang hari ada di halaman rumah saya," jawab Bagus. "Siapa itu Gus, disuruh masuk dulu," ibu Bagus menyuruh Bagus mempersilahkan tamu itu masuk. "Jadi begini bu, saya kehilangan kucing saya dia lagi hamil, tadi siang saya lihat kucing ini mirip kucing saya cuma ko ga kelihatan hamil, waktu saya perhatikan lagi ternyata ada anak anaknya. Kalo memang bukan punya ibu atau ade ini berarti bisa jadi kucing ini punya saya kalo gitu boleh kan saya bawa kucing sama anak-anaknya?" Tamu itu meminta kucingnya dan ibu Bagus mempersilahkan tamu itu membawa kucingnya. Bagus terlihat sedikit sedih karena kucingnya akan dibawa oleh pemiliknya. Kemudian pemiliknya memberikan Bagus satu anak kucing yang memiliki bulu cukup rapih dibanding yang lainnya.
"Gus, kucing gua dibawa sama yang punya." Bagus bercerita kepada Agus sewaktu istirahat sekolah bahwa kucingnya sudah tidak lagi di rumahnya. "Itu emang bukan kucing elu," ucap Agus sambil menepuk pundak Bagus cukup keras. "Itu kucing dari awal emang bukan punya elu jadi jangan ngaku kalo kucing itu milik elu." Agus melanjutkan perkataannya. Bagus tersadar dari sedihnya bahwa kucing itu bukan punya dia jadi wajar kalo ada pemiliknya yang datang untuk membawanya pulang. "Iya Gus, tapi gua dikasih satu anaknya, bulunya bagus rapih itu anak keturunan emaknya mungkin bulunya halus gitu, nanti lu liat deh ya ke rumah gua." Bagus mengajak Agus ke rumahnya.
Pada suatu hari sewaktu Bagus pulang sekolah, Bagus mendapati kucingnya tidak ada di rumahnya. Dan sudah beberapa hari kucing itu tidak pulang. Bapak Bagus yang melihat Bagus murung sejak kucing itu hilang memanggil Bagus setelah shalat isya. "Gus mestinya kamu sudah belajar dari kejadian induknya kalo kucing itu bukan milik kita ya wajar yang punya ngambil lagi. Kalo kasih contoh tukang parkir dititipin motor terus motornya diambil yang punya gak apa apa tuh tukang parkir ga sedih malah yang tadinya ga pegang duit dapet duit itu tukang parkir. Atau tau gak kenapa kita tidak boleh melukai, jangankan sampe bunuh diri, sengaja ngelukain diri kita sendiri aja ga boleh, tau gak kenapa? Diri kita ini sebenernya punya siapa sihh?" Bapak Bagus mencoba memberikan pengertian kepada Bagus tetapi Bagus hanya diam saja. "Yaudah kalo tau alamat rumah ini juga tuh kucing balik lagi, kalo ga tau yaa naik ojol ato pake google maps juga nyampe." Tutup bapak Bagus kemudian menyalakan televisi. Dan Bagus tanpa sepatah kata masuk ke kamarnya.
Selang beberapa hari Agus membawakan kucing Bagus yang dia temukan di lapangan bulutangkis dekat rumahnya. Bagus terlihat tidak terlalu gembira bukan berarti dia tidak senang dan juga dia sudah tidak sedih lagi karena dia sadar sewaktu waktu kucing itu bisa hilang lagi. Tetapi meskipun begitu selama kucing itu ada di rumahnya Bagus akan merawatnya dengan baik.
Selasa, 01 Januari 2019
Si Bagus : Berdiam Diri - Bersikap Tenang
Malam ini
malam minggu. Bagus biasa berkeliling di sekitar rumahnya dengan bersepeda. Hal
itu dilakukan atas perintah bapaknya. Bapaknya ingin Bagus kenal dengan
lingkungannya. Bukan karena supaya Bagus terkenal. Tetapi dengan saling
mengenal akan banyak kebaikan yang akan datang kepada kehidupan Bagus. Bagus diminta
bukan hanya berkeliling, tetapi menegur sapa dengan orang orang yang
ditemuinya. Selain itu Bagus juga diminta untuk memperhatikan apa saja yang
terjadi atau apa saja yang ditemuinya pada saat dia berkeliling.
Bagus berkeliling
setelah melaksanakan shalat isya. Sekitar tiga puluh menit sampai satu jam dia
berkeliling. Bapaknya meminta Bagus seperti itu untuk melatih supaya Bagus
memiliki kepekaan sosial yang baik. Karena hal itu akan menjadi bekal hidup
yang baik. Bagus selesai berkeliling dan pada saat dia pulang dia mendapati
bapaknya sedang menonton televisi. “assalamualaikum,” Bagus seperti biasa
mengucap salam ketika memasuki rumah. “pak nonton film apa?” Tanya Bagus. “sini
duduk, kamu ikut nonton aja sekalian.” Bapaknya menonton film tentang bela diri
kungfu. Seorang anak yang ingin belajar bela diri kungfu.
Cerita film sampai kepada anak
tersebut di bawa oleh gurunya ke suatu tempat perguruan bela diri. Tempat tersebut
berada di pegunungan. Anak tersebut diajak untuk berkeliling perguruan bela
diri itu. Dan dia diajak ke suatu tempat atas pegunungan. Sesampainya di sana
terdapat telaga air. Gurunya meminta anak tersebut meminumnya. Dia merasakan
kesegaran hingga dia mencelupkan mukanya ke telaga air itu. Dan film pun telah
selesai.
“Gus, walaupun kamu gak nonton
dari awal tapi pasti kamu bisa ceritain ulang film ini. Atau ada gak pelajaran
yang bisa kamu ambil dari film ini?” Tanya bapak Bagus ketika film tersebut
telah selesai. “Iya Pak, film itu sebelumnya juga udah pernah ditayangin. Jadi Bagus
sudah lihat film itu dari awal. Kalo disuruh cerita lagi ya bisa aja. Tapi ada
satu adegan yang Bagus pikirin.” Jawab Bagus. Mendengar jawaban Bagus, bapaknya
tertarik adegan seperti apa yang Bagus pikirkan. “Emang adegan yang mana Gus yang
kamu pikirin?” Tanya bapak Bagus. “itu Pak yang tadi yang orang gerakannya
ngikutin ular, ehh ular yang gerakannya ngikutin orang itu ya?”. Bagus mulai
bercerita.
Bapak Bagus kaget ternyata adegan
seperti itu yang Bagus pikirkan. Karena bapaknya mengira bahwa adegan si anak
yang belajar kungfu yang menjadi perhatian Bagus. “ohh yang itu, kenapa memang
sama adegan yang itu?” jawab bapak Bagus merespon pernyataan Bagus. “iya pak
awalnya Bagus berpikirnya sama kaya anak itu, kalo orang itu ngikutin gerakan
ular, tapi ternyata ular itu yang ngikutin gerakan orang itu. Nahh dari situ
juga Bagus tahu bersikap tenang itu bukan tidak ngelakuin apa apa. Bersikap tenang
itu juga melakukan sesuatu, yaitu berpikir dan merasakan.” Bapak Bagus kaget
mendengar penjelasan Bagus. Dia juga senang ternyata Bagus sudah bisa mengamati
dan membuat kesimpulan atau analisis dengan baik.
“Iya terus apalagi?” ucap bapak
Bagus memancing pemikiran Bagus. “iya kalo kita tenang, merasakan yang terjadi
di sekitar kita, terus kita berpikir dengan cepat dan tepat orang orang bakalan
dengerin dan ngikutin omongan kita. Kaya ular itu yang ngikutin gerakan orang
di depannya.” Bapak bagus nampak senang bahwa ternyata Bagus sudah mulai
menyadari hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Setidaknya kalaupun
dia belum benar benar paham tapi pemikirannya itu akan tersimpan di dirinya dan
suatu hari akan timbul pada waktunya.
“Selain itu ada hal lain lagi gak
Gus?” Tanya bapak Bagus merespon sekaligus mencoba terus menggali pemikiran
Bagus. “nahh belom lama Bagus nonton anime
tentang detektif. Ada adegan yang nyontohin sikap tenang tadi itu. Jadi ceritanya
ada stasiun tv nyiarin tentang kasus pembunuhan. Polisi pengen siaran itu
diberhentiin supaya ga terjadi kegaduhan. Pihak tv sudah dicoba ditelpon tapi
ga bisa, akhirnya ada seorang polisi yang ke studio tv buat ngeberhentiin
siarannya. Tapi tiba tiba polisi itu tewas waktu sampe pintu masuk gedung
studio tv. Ternyata ada orang yang bisa ngebunuh cuma dengan ngeliat muka
orang. Trus ada polisi lain yang nyoba dateng ke studio tv itu. Tapi dicegah
sama pemimpin penyelidikan kasus pembunuhan yang lagi diusut. Pemimpin itu
minta polisi tadi supaya bersikap tenang, tapi polisi itu ga terima karena dia
tahu temannya baru aja tewas. Sampe polisi itu mengira pemimpin itu ga mau
berbuat apa apa karena takut mati. Tapi pemimpin itu bilang dia siap mati, tapi
ga mau mati cuma cuma. Dan kalo polisi itu ceroboh dia yang bakalan mati sia
sia. Tangan dan kaki pemimpin itu gemeteran sewaktu dia menjelaskan suasana yang
terjadi saat itu kepada polisi. Akhirnya polisi itu ngerti kondisinya. Bagus juga
ngerti dari adegan ini.” Bagus bercerita panjang lebar tentang apa yang dia
pahami.
Bapak Bagus semakin senang
mendengar penjelasan Bagus yang dia pahami tentang berdiam diri itu berbeda
dengan bersikap tenang. “wahh hebat nihh anak bapak, bisa paham sekaligus
ngejelasin ke bapak kalo berdiam diri sama bersikap tenang itu berbeda.” Bapak Bagus
merespon apa yang telah Bagus sampaikan. “tapi inget Gus, ada juga orang yang
bersikap tenang tanpa merasakan juga berpikir. Bukan berarti mereka ga bisa
merasakan atau ga bisa berpkir. Cuma mereka belum terbiasa atau terlatih
perasaan dan pikirannya. Nahh kamu bapak suruh bersepeda keliling itu untuk
membiasakan dan melatih perasaan juga pikiran kamu. Yang kamu jelasin tadi itu
udah nunjukin kalo perasaan dan pikiran kamu itu sudah mulai terlatih dan
terasah. Terus biasain yang sudah kamu lakuin. Nantinya kamu juga yang
ngerasain manfaatnya.” Tutup bapak Bagus pada percakapan malam itu. Kemudian bagus
ke kamarnya membaca buku juga bermain game
sebelum dia tidur
Langganan:
Postingan (Atom)
