Jangan kau rusak rantainya. Kalimat tersebut merupakan sebuah judul dari vidio motivasi. Kalimat yang juga sering kali diucap oleh para motivator meskipun diucap dengan sedikit berbeda namun tetap memiliki maksud yang sama. Bukan rantai besi dalam wujud benda, tetapi pencapaian sebuah target yang dicanangkan setiap hari, yang ditandai dengan menyilangkan sebuah tanggal pada kalender sebagai bukti target telah dicapai. Misalnya seperti yang penulis lakukan yaitu membuat sebuah tulisan per hari selama 31 hari pada bulan Desember di tahun 2018. Pada tanggal 3, 4, 5 dan seterusnya tulisan berhasil dibuat dan tanggal tersebut diberi tanda silang dengan alat tulis sebagai bukti target tercapai. Jika semua tanggal dalam kalender disilang maka tanda silang tersebut akan terlihat seperti rantai.
Apakah hal itu penting? Bagi penulis hal tersebut merupakan hal yang penting. Untuk mencapai sebuah target atau pun tujuan terdapat tahapan tahapan yang harus dilalui. Rasanya sulit atau bahkan mustahil kita mencapai target bila kita melewatkan tahapan yang harus dilalui. Terdapat pengalaman yang penulis alami beberapa waktu yang lalu berkaitan dengan jangan merusak rantainya untuk mencapai target. Sekitar setahun yang lalu, penulis mengidap flek paru paru yang mengharuskan mengkonsumsi obat rutin selama 6 bulan. Pada 2 bulan pertama penulis diharuskan meminum 3 tablet obat yang cukup besar berwarna merah setiap hari tanpa boleh terputus. Jika melewatkan meminum obat satu hari saja akan berpengaruh pada proses pengobatan dan diharuskan untuk memulai kembali meminum obat setiap hari selama 2 bulan dari awal. Jika itu tidak dilakukan dan flek paru paru semakin berkembang proses pengobatan akan semakin sulit bahkan harus dilakukan penyuntikan yang rutin agar flek nya hilang. Itulah contoh yang penulis alami betapa pentingnya untuk tidak merusak rantai agar tujuan tercapai.
Dan hal lain yang menjadikan pentingnya kita untuk tidak merusak rantainya supaya mencapai tujuan yaitu, hal yang kita lakukan setiap harinya akan terekam oleh seluruh anggota tubuh kita. Setelah suatu hal atau kegiatan yang kita lakukan setiap harinya terekan oleh anggota tubuh kita hal tersrbut akan menjadi pembiasaan bagi diri kita. Pembiasaan tersebut akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan kita. Sebagai contoh membuat tulisan per hari selama 31 hari. Pada hari pertama, kedua, ketiga, keempat kita berhasil membuat tulisan. Bagaimana dan apapun tulisannya mulailah untuk membuat tulisan. Dan hal itu akan terekam oleh seluruh anggota tubuh kita, oleh jari jari bahkan oleh otak kita. Jika terus dilakukan maka akan menjadi pembiasaan bagi diri kita, dan anggota tubuh kita akan dengan mudah untuk melakukan hal tersebut. Jika pada awalnya otak kesulitan untuk mencari referensi tulisan, maka dengan sendirinya nanti otak kita akan dengan mudah untuk menemukan referensi sebagai tulisan karena sudah terekam dan menjadi pembiasaan bagi otak kita.
Lalu bagaimana jika karna satu dan lain hal kita melewatkan satu hari pembiasaan yang telah kita lakukan? Tentu hal itu akan berdampak negatif jika tidak disikapi dengan baik. Sekali saja memutus rantai pembiasaan makan akan terekam oleh seluruh anggota tubuh dan menjadikan sebuah pembiasaan baru. Melalui kalimat jangan rusak rantainya penulis memahami ungkapan menulislah seperti shalat yang diungkapan oleh (alm) Nusa Putra yang menjadi dosen sekaligus inspirator dalam menulis. Bagi seorang muslim wajib melakukan shalat lima kali dalam sehari. Kita akan merasa akan ada hal yang kurang dalam hidup jika belum melaksanakan shalat bagi yang sudah terbiasa melaksanakan shalat. Dan kita tidak akan pernah bosan melaksanakan shalat bukan karna sebuah kewajiban tetapi karna sudah menjadi pembiasaan dan sesungguhnua shalat itu merupakan kebutuhan bagi kita. Kontinuitas dan konsistensi dalam shalat menjadi modal bagi kita agar bisa menulis secara konsisten.
Namun dari semua hal yang diuraikan di atas ada hal yang penting yang disampaikan dalam sebuah vidio motivasi. Yaitu untuk apa kita tetap menjaga rantainya agar tak terputus? Kita menjaga rantainya tak terputus untuk mencapai tujuan. Kemudian setelah tujuannya tercapai lalu apalagi? Menetapkan tujuan baru. Jika hal itu yang menjadi jalan hidup kita maka hidup kita akan seperti roda yang berputar ditempat. Dia tidak akan bergerak maju. Apalagi jika tujuan yang kita tetapkan merupakan tujuan duniawi saja. Dan jika kita tidak berada di dunia lagi, kehidupan kita seperti benar benar telah berakhir. Padahal terdapat kehidupan setelah kehidupan di dunia.
Segala tujuan yang kita capai di dunia akan tak ada gunanya bagi kita jika tujuan kita tidak diridoi oleh Allah. Semuanya akan menjadi tak bernilai. Begitu juga dengan tantangan yang sedang dijalani ini. Meskipun tatangan menulis selesai dilakukan namun jika tulisan yang dibuat bukan tulisan yang baik, bukan tulisan yang bermanfaat, tidak menginspirasi orang untuk berbuat baik (meskipun inspirasi/hidayah itu datangnya dari Allah) maka akan terasa kosong semua hal yang dilakukan dan tujuan yang telah dicapai. Akan tetapi tetap hiduplah untuk sebuah tujuan, tetap jagalah rantainya agar tak terputus supaya mencapai tujuan, dengan catatan pastikanlah tujuan yang kita tetapkan itu diridoi oleh Allah karena tanpa ridho Allah semua yang kita lakukan akan menjadi nol. Dan dengan ridho Allah semua yang kita lakukan akan sangat bernilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar