Kronologi Penembakan Letkol Dono oleh Anggota TNI AU
Rabu, 26/12/2018 12:41
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota TNI Angkatan Darat Letnan Kolonel CPM Dono Kuspriyanto tewas meninggal setelah ditembak di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (26/12) malam.
Kapendam Jaya Kolonel Inf Kristomei Sianturi menjelaskan sekitar pukul 22.30 WIB korban sedang yang mengenakan pakaian preman atau sipil melintas di kawasan Jatinegara Barat, Jakarta Timur.
"Terjadi serempetan dengan kendaraan motor oleh terduga pelaku penembakan karena korban tidak berhenti pelaku mengejar korban," kata Kristomei di Kodam Jayakarta Jakarta, Rabu siang.
Lalu lintas yang masih padat, membuat pelaku turun dari motor dan menembak korban. Ada dua tembakan pertama dari arah depan korban. Kemudian dua tembakan lagi dari arah belakang.
"Korban mendapat luka tembakan di pelipis dan tembakan yang tembus di perut," kata dia.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono menyatakan sekitar pukul 23.30 WIB polisi mendapat laporan terdapat sebuah mobil menyala dengan korban terluka di dalam mobil. Polisi yang tiba langsung melarikan Letkol Dono ke RS Polri Kramat Jati.
"Ternyata korban sudah meninggal dunia. Selanjutnya kita lakukan autopsi dan visum di RS Polri Kramat Jati," kata Argo.
Dari tempat kejadian perkara, polisi menemukan selongsong peluru, kendaraan dinas TNI. Polisi juga sudah memeriksa saksi yang melihat kejadian.
"Ada dua saksi yang kita mintai keterangan dan kita tunjukkan foto benar ciri-cirinya seperti itu. Kita melihat pelaku diduga TNI. Makanya kita depankan dengan Pom," tutur dia.
Terduga pelaku sudah ditangkap sekitar pukul 04.00 WIB. Ia adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara berpangkat Serda dengan inisial JR. Polisi sudah menyerahkan kasus ini ke Polisi Militer Angkatan Udara. (ctr/dea)
Terjadi lagi penembakan sesama anggota TNI di kawasan Jakarta Timur. Kasus ini bukanlah kasus pertama kali terjadinya perselisihan antaranggota TNI maupun Polri. Berbagai motif telah menjadi dasar perselisihan antaranggota penegak keamanan negeri ini. Kasus penembakan anggota TNI ini menjadi kasus kedua perselisihan anggota keamanan negeri dalam waktu kurang lebih satu bulan terakhir. Sebelumnya terjadi pembakaran polsek Ciracas yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI. Hal ini buntut dari pengeroyokan anggota TNI di Cibubur oleh petugas parkir.
Sungguh ironis rasanya jika penegak keamanan negeri ini saling berselisih. Meskipun beberapa kasus mungkin oknum yang berselisih tidak menyadari bahwa mereka berselisih dengan sesama anggota penegak keamanan. Meskipun demikian ada cara cara yang lebih baik yang sudah diatur oleh hukum negeri ini untuk menyelesaikan berbagai perselisihan. Namun sepertinya kepastian hukum tidak didapat sehingga mereka menyelesaikan dengan cara mereka sendiri. Hingga terjadilah penembakan dan pembakaran seperti yang telah diberitakan.
Tetapi mengapa mereka sampai bisa berbuat demikian? Bukankah mereka sebelumnya mendapatkan pembekalan atau pendidikan sebelum secara resmi bertugas menjadi anggota penegak keamanan? Kalau seperti itu pendidikan seperti apa saja yang didapat hingga merek bisa berbuat seperti itu? Sungguh perlu ada evaluasi mendalam mengenai pendidikan anggota keamanan karena sudah tersebar juga di masyarakat bahwa terdapat kekerasan dalam lingkungan pendidikan tersebut.
Dari satu kasus saja tentunya menjadi kerugian yang besar bagi masyarakat maupun negeri ini. Dimulai dari pendidikannya yang banyak menggunakan anggaran negara. Juga masyarakat bukannya merasa aman malah menjadi khawatir terhadap penegakkan keamanan di negeri ini. Dari contoh kasus pembakaran polsek Ciracas saja bisa menghambat jalannya pelaksanaan tugas anggota polsek sebagaimana mestinya. Meskipun bisa menjadi rahasia umum bahwa perkembangan kasus pembakaran ini tidak akan lagi muncur ke permukaan, hal itu malah bisa membuat masyarakat antipati terhadap para anggota keamanan masyarakat. Dan keamanan di masyarakatpun bisa menjadi terganggu.
Sekali lagi hal ini perlu diadakan evaluasi yang lebih dalam, lebih lanjut, dan lebih serius supaya kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Memang tidak semua anggota keamanan bertindak anarkis seperti yang telah terjadi. Tetapi satu atau dua kasus bisa membuat masyarakat mengeneralisir atau mengambil kesimpulan mengenai anggota penegak keamanan. Kuncinya yaitu kita harus saling percaya bahwa masih ada orang orang baik dan kita juga mesti berusaha berbuat baik dengan begitu keamanan dengan sendirinya bisa kita rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar