Pakansari,
Cibinong, Bogor. Stadion yang selesai dibangun pada tahun 2014 ini menjadi
saksi -bersama puluhan ribu rakyat, supporter Indonesia- kemenangan Timnas
Indonesia atas Timnas Thailand dalam leg pertama final AFF Suzuki Cup 2016
dengan skor 2-1. Meskipun menang dalam pertandingan final Rabu 14 Desember
2016 malam tetapi Indonesia belum juara karena masih akan memainkan satu laga
final di Bangkok, Thailand pada Sabtu 17 Desember 2016. Untuk menjadi juara
dalam ajang ini Indonesia boleh kalah dengan selisih tidak lebih dari satu gol
dan Indonesia mencetak gol lebih dari satu, serta hasil seri bahkan kemenangan
akan memastikan Indonesia menjadi juara ajang sepakbola terbesar se-ASEAN ini.
Setelah disanksi oleh FIFA -federasi
sepakbola dunia- selama satu tahun lebih, serta satu grup bersama tim kuat
ASEAN lainnya yaitu juara bertahan dan kandidat juara Thailand, tuan rumah
Filipina, serta Singapura, pelatih Indonesia Alfred Riedl menargetkan Indonesia
lolos dari grup dalam ajang ini. Hal tersebut menjadi wajar mengingat lamanya
Indonesia tidak menjalani laga internasional serta pemilihan pemain yang
dibatasi dua pemain dari setiap club yang bisa masuk timnas dan kuatnya lawan
Indonesia di fase grup. Namun lolosnya Indonesia ke final serta berhasil mengalahkan
Thailand yang merupakan juara bertahan sekaligus kandidat kuat juara pada leg
pertama final merupakan pencapaian yang diluar dugaan mengingat kondisi
sepakbola Indonesia yang dalam setahun lebih terakhir terkena sanksi FIFA.
Hasil ini merupakan sebuah hiburan yang besar bagi rakyat Indonesia yang sedang
dihinggapi berbagai persoalan yang sedang berlangsung.
Kondisi ini mendapatkan beragam respon dari
pecinta sepakbola Indonesia. Tentunya respon positif yaitu asa, harapan, dan doa
agar Indonesia bisa juara setelah terakhir kali menjuarai SEA GAMES pada tahun
1991 menjadi respon yang paling banyak dikemukakan oleh rakyat Indonesia. Bahkan
yang paling menarik banyak yang membandingkan kondisi sepakbola saat ini dengan
berbagai hal yang terjadi terhadap sepakbola dunia khususnya yang terjadi di
tahun 2016 ini. Dimulai dari membandingkan Indonesia dengan Leicester City tim
yang ditahun ke duanya promosi di Liga Inggris berhasil menjadi juara dengan
pemain yang “tidak dikenal” dunia dan berhasil mengalahkan tim kuat seperti
Chelsea dan Manchester United. Indonesia dibandingkan dengan Leicester City
pada gelaran AFF Suzuki Cup tahun ini karena keterbatasan memilih pemain dan
statusnya yang bukan tim unggulan yang berpotensi menjadi kejutan menjadi juara
seperti yang dilakukan Leicester City di Liga Inggris. Cederanya Andik
Vermasyah di babak pertama sampai harus digantikan oleh Zulham Zamrun bahkan
ada yang menyandingkannya dengan keberhasilan Portugal menjuarai UERO 2016 yang bahkan
menurut ingatan penulis timnas Portugal tidak pernah menang dalam waktu 90
menit namun berhasil menjadi juara. Pada saat itu kapten timnas Portugal
Cristiano Ronaldo cedera di babak pertama final UERO dan harus digantikan oleh
pemain lain sama halnya dengan kondisi Andik Vermansyah. Itu beberapa hal
menarik yang viral di beberapa media sosial.
Lain halnya dengan penulis yang
punya perbandingan tersendiri terhadap kondisi sepakbola saat ini dengan
kondisi sepakbola yang pernah terjadi di dunia. Indonesia mendapat sanksi dari
FIFA setelah campur tangan pemerintah -yaitu semua kegiatan dibawah naungan
PSSI tidak direstui oleh pemerintah setelah terjadi kisruh dalam dalam
kepengurusan PSSI- dalam urusan organisasi sepakbola Indonesia berupa larangan
tampil di laga internasional dalam jangka waktu satu tahun lebih yang berakibat
pada tidak ikutnya Indonesia dalam kualifikasi pra piala dunia 2018 serta
kualifikasi piala asia 2019 meskipun
Indonesia mendapat toleransi dari FIFA timnas Indonesia U-23 bisa berlaga di
SEA Games 2015. Kisruhnya kondisi sepakbola dalam negeri -meskipun tidak identik-
mirip dengan kondisi Italy saat menjuarai Piala Dunia 1982 dan 2006. Saat itu
kondisi liga Italy dihebohkan dengan kasus calciopoli
atau pengaturan skor di beberapa pertandingan yang mengarahkan tim tertentu
untuk menang bahkan menjadi juara. Kondisi kisruhnya sepakbola dalam negeri di
Italy mengakibatkan Italy menjadi juara dunia. Meskipun kondisi sepakbola
Indonesia belum pulih sepenuhnya namun harapan untuk meniru semangat timnas
Italy sehingga menjadi juara juga timbul di Indonesia.
Di luar perbandingan dengan tim-tim
dan keadaan sepakbola yang pernah terjadi di dunia, terdapat rekor maupun data
yang mengarahkan Indonesia mampu menjadi juara dalam gelaran AFF Suzuki Cup
tahun ini. Teerasil Dangda kapten dari timnas Thailand yang menjadi pencetak
gol terbanyak sementara dengan enam gol memiliki catatan yang cukup unik. Jika pemain tersebut menjadi pencetak gol
terbanyak turnamen maka meskipun masuk final Thailand tidak menjadi juara. Satu
lagi catatan menarik yaitu tim yang menang dalam leg pertama final selalu
berhasil menjadi juaara. Catatan tersebut mengarah pada Indonesia akan menjadi
juara meskipun masih ada 90 menit yang tersisa di Bangkok.
Namun diluar yang sudah diuraikan di
atas penulis ingin memberikan warna, catatan, dan semangat tersendiri terhadap
sepkbola Indonesia. KITA INDONESIA, BUNG!, dengan segala catatan dan kisah heroik
yang pernah dilakukan oleh pejuang dan pahlawan kita. Buang semua segala
perbandingan maupun persamaan dengan tim dan kondisi sepakbola yang ada dan
terjadi di dunia. Tak perlu kita acuhkan rekor, catatan, dan data yang terjadi
selama gelaran AFF CUP. Berjuanglah dengan semangat selalu, bermainlah dengan
gembira, tancapkanlah rasa bangga di hati terhadap garuda di dada. Buatlah cacatan
kisah heroik kalian. Bung Karno pernah berkata “perjuanganku lebih mudah karna
melawan penjajah, sedangkan perjuanganmu lebih berat karna melawan bangsamu
sendiri”. Kalian tidak sedang melawan bangsa sendiri, jadi bawalah pulang piala
itu.