Padahal ada kemarin dan esok
Tapi rasanya hari hanyalah hari ini
Siapa yang lebih dulu menyapa
Pijak telapak kaki ataukah mentari
Siapa yang lebih dulu sampai
Apakah senja ataukah raga
Pijak kaki menyambut mentari
Mentari memberi arah kaki melangkah
Pada jalan setapak yang terdapat mandat
Belum selesai tangan menggapai
Bangku taman mulai melambai
Meminta waktuku mengisi kekosongan
Sejenak aku duduk pada bangku taman
Mencoba mengisi bangku taman yang kosong
Menatap matahari yang tak bisa ditatap
Daun dan ranting bergoyang
Membuka jalan bagi mentari
Mengingatkan diri
Harus ada yang diakhiri
Berakhir atau tidak
Senja menantang raga
Untuk kembali pada kekasih
Sebelum lelap dalam gelap
Kekasihku menunggu kisahku
Namun ia menyimpan kisahnya
Dari atap ku menatap sabit
Menunggunya menjadi purnama
Karena bersama purnama
Kasih kekasih ku rasakan
Tetiba aku terjatuh
Saat mentari menyapaku
Dan membawaku
Pada jalan setapak
Aku kembali sebelum senja
Kemudian mulai bercerita
Bahwa aku pernah seperti ini
Dan aku bertanya
Apakah hari itu hanya satu, yang seperti ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar