Jumat, 06 Juni 2014

Catatan untuk Kawan

Pulangmu berikan kebanggaan meski bukan kabar gembira yang kau bawa
Kini satu mimpi yang kau goreskan tercoret sudah
Satu mimpi yang tersimpan di balik sebuah bilik bekal mimpi berderet dengan mimpi lain
Dengan tekadmu sekali langkah pantang surut kebelakang deretan mimpi itu menunggu coretanmu
Tapi kini serangkai aktivitas menunggu
Disebuah sela usaha meraih mimpimu
Pribadimu yang kuat tak terpengaruh suara-suara yang mencoba memberi dorongan
Walau kini sedikit upaya telah mampu mendorongmu
Mendorong tingkah laku yang sebelumnya tak terlihat
Berdikarinya untuk semua namun yang terlihat berdikarimu hanya untuk dirimu
Cobalah simpan sedikit pendapat yang telah kau ketahui maksudnya
Jangan hanya kau buang banyak hal yang sebenarnya belum kau terima secara utuh
Banyak yang tak meragukanmu sebagai pekerja keras
Meski ada yang menyangsikan kelebihanmu sebagai manusia
Entah siapa yang menyangsikan itu
Yang belum tentu lebih baik darimu
Teruslah bekerja keras
Teruslah berusaha
Dan teruslah berdoa

Agar tercoret satu demi satu deretan mimpimu

Senin, 02 Juni 2014

R



Waktu itu kau hendak menyembunyikan keberadaanmu
Bersama dengan seorang teman
Bukan bermaksud untuk menjauh atau menghilang

Dalihmu sederhana ; “Rahasia doong.”
Meski aku mengetahui apa yang kau lakukan dipersembunyianmu

Melalui sebuah pesan yang terbaca
Setelah itu kau memberiku sebuah waktu
Dari tempat persembunyianmu

Mungkin itu dalih lain yang hendak kau buat
Ah, entahlah apakah pesan itu benar adanya
Dengan waktu yang kau beri pesan itu akan terbukti

MEDOK



Disaat menunggu seseorang ditemani oleh narasi fiktif yang tercantum dalam lembar demi lembar kertas tiba-tiba terdengar ucapan dari seseorang yang menyarankan temannya untuk duduk sekitar sembilan ubin di sampingku dengan suara medoknya, khas suku jawa.

Sempat ingin menoleh untuk melihat wujud dari orang bersuara medok itu namun tertahan oleh suara hati. Tak lama setelah itu datang seseorang menghampiri dan duduk di samping orang medok itu dan mereka pun saling tegur dilanjut dengan perbincangan yang akrab, namun ketika kepala ingin menoleh kepada mereka terlintas dibenak, ‘dengarkan dulu apa yang mereka perbincangkan barulah menoleh kepada mereka.’

Perbincangan mereka seputar perkuliahan yang mereka alami ditambah dengan tema lain yang berkaitan yang diselipkan dalam perbincangan itu, seketika terdengar orang medok itu berkata
“buat apa kuliah lebih enak langsung kerja.”
Entah apa yang diperbincngkan sebelumnya sehingga si medok berkata seperti itu, namun aku sepakat dengan jawaban yang dilontarkan oleh temannya
“yaudah kerja aja sana trus ngapain di sini ?”

Setelah itu mereka pun memberi argumen tentang pernyataan yang mereka keluarkan. Teman si medok itu terdengar lebih tepat memberikan argumen. Setelah mendengar percakapan mereka terbayanglah bagaimana bentuk fisik serta penampilan dari mereka. Si medok dengan kemeja sedikit lusuh terlihat agak gelap dengan rambut berantakan dan temannya dengan suara yang halus terdengar dengan kaos rapih dan rambut yang tertata. Namun pendengaran ini tertipu setelah mata menyaksikan penampilan mereka.

Si medok memang berkemeja, namun kemeja yang digunakan rapih seakan disetrika dengan licin dan rambutnya pun bukan berantakan seperti tak disisir namu lebih kepada gaya rambutnya yang memang agak keriting. Dan teman si medok itu memang berkaos namun terlihat kusam dengan kulit gelap kecoklatan. Mata ini membuktikan dan menunjukkan bahwa pendengaran ini telah tertipu.

Tapi tak berhenti sampai di sini. Mata ini menyaksikan bahwa si medok telihat lebih kurus dibanding temannya. Ternyata setelah menyaksikan mereka beranjak dari tempat duduknya si medok berjalan dengan tegap dan langkah yang cukup mantap namun berbeda dengan temannya yang berjalan dengan langkah yang sedikit gemulai. Dan mata ini tertipu, dua indra telah tertipu.

Melancong



Ketika kami memutuskan untuk tetap berangkat kami tidak memikirkan nantinya akan bagaimana, akan seperti apa perjalanan yang akan kami lalui tetapi kami hanya berpikir dan melihat bagaimana nanti. Itu tidak baik untuk dilaksanakan setidaknya setelah kami melewati kepergian dan kepulangan kami. Hidup bukan hanya menjalani takdir tetapi juga untuk merubah nasib, itulah yang terbaca pada tulisan dalam simbol-simbol hidup dan kehidupan. Untuk itu perlu dan penting bagi kami, bahkan bagi kita untuk memikirkan nantinya akan bagaimana, akan seperti apa. Sampai  pada ada yang ingin bergabung dengan kami, kami hanya menentukan bumi bagian mana yang akan kami diami untuk menyiapkan langkah demi langkah. Berangkatlah kereta.
Masih berpikir untuk menentukan nanti akan bagaimana karena itu juga merupakan sebuah alunan doa dari seorang sahabat yang tentunya berharap kami akan baik-baik saja di tanah lancong. Duss, tidak perlu berpikir terlalu keras karena ini bukan ujian akademik yang sering dan rutin kami lakukan karena tujuan kami untuk melepas penat dari rutinitas akademik dan yang lainnya. Dan juga tujuan kami untuk melihat kondisi dan mengetahui kabar dari keluarga besar yang belum pernah kami berjumpa dengannya dan untuk itulah kami pergi agar saling mengenal. Di perjalanan dalam sebuah gerbong kereta akhirnya kami menentukan nanti akan bagaimana.

Ketika kaki manapakkan jejak
Tak begitu terasa bumi bagian lain
Mungkin karena gelap
Mereka masih sembunyi terlelap
Mungkin juga karena kesadaranku
Belum sepenuhnya sadar
Namun terhirup sebuah kesegaran
Yogyakarta, sampai juga kami di sana. Sesampainya di lempuyangan bergegas kami menuju surau masa kini untuk melaksanakan kewajiban dan sejenak merenggangkan kaki menunggu kawan teman kami menjemput untuk mengantarkan dan mengenalkan kami kepada Yogyakarta. Ramah kami –para pelancong- disambutnya, disambut oleh penghuni disambut oleh perilaku para penghuni. Ketika sampai kepada suatu bagian bumi yang akan dijadikan sebagai hotel disinilah berperan yang telah kami tulis mengenai nantinya akan bagaimana kami di sini. Setelah beristirahat sejenak pergi kami menyiapkan kendaraan yang akan mengantar kami berkeliling.
Borobudur – UNY – UICCI – Parangtritis - Titik Nol Kota – Malioboro - Keraton. Itulah tempat-tempat yang telah kami rencanakan untuk kami jejaki. Namun rencana tinggallah rencana ketika tak ada kesungguhan untuk melaksanakannya sehingga hanya beberapa tempat yang telah kami tinggalkan jejak kaki kami. Borobudur menjadi tempat pertama, dengan sepeda motor yang disewa dengan kecepatan yang tak biasa dan dengan kondisi jalan yang sepi akan kendaraan tiba kami di tempat tujuan. Nampak besar nan megah batu yang tersusun itu, tak terbayang bagaimana manusia Indoesia dulu membangunnya untuk diwariskan generasi penerus. Tak terbayang pula teknologi macam apa yang digunakan untuk membangun candi itu. Bila kini manusia bangga akan ke modernitas dan teknologinya yang dapat membangun pula gedung nan tinggi dan indah dengan segala pernak perniknya maka manusia zaman itu juga dapat berbangga karena membangun candi dari bebatuan yang kini menjadi situs dunia. Bagi mereka zaman yang mereka lalui adalah juga merupakan zaman modern dengan bangunan candi yang dapat mereka buat.
Setelah memasuki daerah wisata itu dan menaiki setapak demi setapak anak tangga untuk mencapai puncak candi pandangan dan perhatian bukan lagi tertuju pada batu-batu yang tersusun disekeliling, bukan lagi pada orang-orang di bawah yang berusaha melewati anak tangga agar sampai pada puncak candi akan tetapi sudut mata ini tertuju pada alam yang berada tak jauh dari candi (setidaknya itulah yang terlihat oleh mata), berdiri nan kokoh gunung disertai pepohonan dan dikelilingi oleh awan. Puncak gunung itu lebih tinggi dari puncak candi, terasa sejuk mata memandangnya. Memang terasa tak elok membandingkan kemegahan candi yang merupakan buatan dari manusia dengan keindahan gunung yang merupakan ciptaan Sang Pencipta, namun satu hal yang  terasa adalah ketika berdiri diantara keduanya tubuh ini tak lebih dari sekedar manusia kecil yang masih terdapat dosa di dalamnya, manusia kecil yang masih dibaluti rasa sombong disekitarnya, manusia kecil yang masih dipenuhi hawa nafsu pada dirinya, manusia kecil yang harus terus dan selalu bersyukur dan memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas apa yang telah diberikan dan atas apa yang telah dilakukan. Senja datang kami pun pulang.
Pada hari kedua kami berada di bumi lancong mengunjungi keluarga yang belum pernah kami kunjungi menjadi jadwal kami selanjutnya. Universitas negeri Yogyakarta beranjak kami ke sana hingga siang hari. Pada pertemuan tersebut kami disambut dengan ramah. Dalam sepetak ruangan yang disekat oleh kayu karena keharusan untuk berbagi terjadi perbincangan sepi, namun sesekali suasana pecah oleh tawa karena kelakar seseorang. Meski singkat dan sepi suasana namun hangat terasa silaturahim yang hendak kami jaga. Selepas zuhur kami kembali untuk beristirahat.
Setelah satu tempat diputuskan untuk tidak dikunjungi bersiap kami untuk menuju tempat selanjutnya. Seperti biasa dengan sepeda motor yang disewa dengan kecepatan yang tak biasa dan dengan kondisi jalan yang sepi akan kendaraan sampai kami dihadapan hamparan air yang amat luas. Tidak seperti ketika memasuki daerah wisata borobudur yang memerlukan secarik kertas sebagai tanda masuk bagi pengunjung, untuk berada di atas pasir dan dihadapan hamparan air ini kami tidak memerlukan itu. Tak banyak yang kami lakukan di tempat ini, kegiatan yang kami lakukan hanyalah mengabadikan moment keberadaan kami di tempat ini dalam berbagai ekspresi. Dan juga satu fenomena alam yang tak luput dari pandangan kami, sunset.

Dengan perlahan seolah tenggelam
Seperti menipu seakan menghilang
Dengan indah kau berpamitan
Untuk esok kembali terang
Sejatinya kau tetap ada
Sampai pada waktunya tiba

Sampai kami pada hari terakhir di bumi bagian lain ini. Terjadwal pagi ini kami menuju keramaian untuk menyiapkan buah tangan namun sang tour guide sudah bangun lebih pagi untuk ujian. Dia pulang dengan diiringi hujan yang juga menyebabkan kami menunda jalan. Sampai pada tersusun sebuah rencana di waktu sore kami berpamitan untuk menuju malioboro dan meneruskannya menuju stasiun. Namun dengan kelalaian yang dimiliki manusia rencana itu gagal sampai-sampai ada yang murung dengan kegagalan rencana itu. Layaknya ketika sampai pada tempat ini, untuk meninggalkan tempat ini pun kami lagi-lagi singgah di Surau masa kini untuk berdoa seraya menunggu kerata. Tibalah kereta yang mengantar kami pulang, bergegas kami masuk dan mencari tempat duduk. Sebuah perjalanan yang tak biasa tentunya dengan barbagai cerita, berharap kita dapat berjalan bersama lagi dengan tempat , suasana, dan cerita berbeda tentunya.

Pagi cerah dan malam sunyi, dibalik rasa dongkol

Goresan Pertama, Cerita Tentang Realita



Di sebuah ruang dalam kehidupan terdapat sebuah cerita. Cerita tentang kegiatan mahaguru dengan para muridnya. Seorang mahaguru mengajarkan profesionalitas dalam bekerja kepada para muridnya dan ia pun memberikan pekerjaan untuk diselesaikan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tak peduli pula seberapa banyak pekerjaan yang para murid harus selesaikan. “ Saya tidak mau tau, pokoknya minggu depan harus sudah selesai! ” kira kira begitu titah mahaguru kepada para murid. Bisa karna terbiasa, mungkin itu prinsipnya. Dengan terbiasa memberikan pekerjaan dengan cara yang dia tentukan dan dia inginkan, harapannya para murid bisa mengerjakan semua pekerjaanya. Minggu demi minggu berlalu tak ada yang berubah dengan kondisi itu.
            Kini tibalah puncak dari kegiatan mahaguru dengan muridya. Kegiatan ini berlangsung ramai dan riuh karena ada hiburan yang mengiringi kegiatan ini. Namun tak ada yang menyangka seorang murid tak dapat ikut merasakan riuhnya kegiatan ini karena sebuah alasan. Sang murid pun menghadap ke mahaguru, “ guru, mana pekerjaan saya, apa yang bisa saya kerjakan ? ” pinta murid kepada mahaguru tersebut. “ oh, iya. Temui saya lagi di waktu mendatang, akan saya pikirkan pekerjaan yang pas untuk mu, saya juga sedang ada pekerjaan. ” begitu jawab mahaguru itu. Sang murid kembali menghadap kepada mahaguru tetapi kalimat sama yang ia dapat. Berukang kali hal itu terjadi. Mana profesionalitas yang kau ajarkan, mahaguru ?
             Pada lain sudut di sebuah ruang kehidupan ada lagi sebuah cerita, kini cerita sang mahaguru dengan seorang murid yang sebenarnya memiliki pemikiran yang kritis tetapi tidak dalam tindakan ( ada yang menyebutnya sebagai kritis apatis ). “ nak, mana pekerjaanmu ? kapan hendak kau serahkan pekerjaan itu kepadaku ? ” begitu berjiwa besar sang maha guru ini, sampai-sampai ia yang mengingatkan dengan menghubungi murid itu untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Sungguh kontras cerita dari sudut yang berbeda dalam sebuah ruang kehidupan.
            Ah, sudahlah. Cerita ini hanyalah tarian jemari belaka dari jiwa yang geram terhadap sebuah realita. Goresan yang tak bermakna jika tak ada aksi nyata.