Jumat, 24 Oktober 2025

PSSI Harus Segera Tunjuk Pelatih Baru

Indonesia kembali harus mengubur mimpinya untuk bisa tampil pada ajang piala dunia setelah dua kekalahan beruntun melawan Arab Saudi dan juga Irak masing masing dengan skor 2-3 dan 1-0 pada round 4 kualifikasi piala dunia 2026 zona Asia. Hasil tersebut membuat Indonesia berada diposisi ketiga atau juru kunci grup B babak round 4 kualifikasi piala dunia zona Asia. Sementara Arab Saudi menjadi pemuncak klasemen grup dan berhasil lolos langsung menuju piala dunia 2026. Sementara Irak berada di posisi kedua grup B dan harus melewati babak playoff melawan Uni Emirat Arab yang menempati posisi ke dua Grup A. Qatar sebagai pemuncak grup A otomatis lolos ke piala dunia 2026.

Setelah selesai menjalani pertandingan round 4 kualifikasi piala dunia 2026 zona Asia, Patrick Kluivert bersama tim kepelatihan langsung pulang ke Belanda. Bagi supporter hal tersebut nampak kurang etis, mestinya mereka menuju Indonesia terlebih dahulu untuk memberikan penjelasan kepada federasi dan juga masyarakat Indonesia. Terlebih setelah pertandingan melawan Irak, tim kepelatihan tidak ada yang mendatangi suporter yang hadir di stadion untuk mengucapkan terima kasih telah mendukung langsung di stadion serta meminta maaf atas hasil yang diraih. Suara #patrickout pun menggema dikalangan suporter. Hal itu nampaknya didengar oleh pengurus PSSI serta Exco yang memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Patrick Kluivert beserta tim kepelatihan yang berasal dari Belanda.


Kini setelah mengakhiri kerja sama dengan Patrick Kluivert, publik menunggu siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan pada Tim Nasional Indonesia. Nampaknya masyarakat masih menginginkan STY untuk kembali menjadi nahkoda untuk Timnas Indonesia. Apalagi setelah menyaksikan beberapa cuplikan wawancara STY pada beberapa akun YouTube yang menunjukkan bahwa STY masih sangat terbuka untuk kembali melatih Timnas Indonesia.


Kini, keputusan ada di tangan PSSI apakah mau kembali bekerja sama dengan STY atau memilih sosok baru untuk menukangi Timnas Indonesia. Siapapun yang dipilih oleh PSSI, yang terpenting adalah PSSI harus segera menunjuk pelatih baru untuk Timnas. Hal tersebut dalam rangka untuk persiapan Timnas pada ajang piala Asia 2027. Setidaknya selama tahun 2026, seluruh agenda FIFA match day harus diikuti oleh Indonesia agar persiapan lebih matang apalagi jika nanti PSSI lebih memilih pelatih baru untuk menukangi Timnas Indonesia dibandingkan kembali bekerja sama dengan STY.


Tujuan dari ikutnya Timnas Indonesia pada agenda FIFA match day sepanjang 2026 yaitu selain mempersiapkan tim, juga untuk meningkatkan peringkat FIFA. Karena hal itu berpengaruh pada undian grup pada piala Asia nanti. Dan agenda FIFA match day pada bulan November 2025 ini sebaiknya Indonesia sudah memiliki pelatih baru. Ada beberapa tim yang bisa diajak untuk mengisi agenda FIFA match day bulan November diantaranya Oman, Palestina, Kuwait, dan beberapa negara Asia Barat maupun asia Timur yang tidak mengikuti kualifikasi piala Asia. 


Sebagai suporter yang tetap mendukung Timnas dengan segala kondisinya, menuntut PSSI untuk segera menunjuk pelatih baru dengan kompetensi dan kualifikasi yang sudah terbukti dan juga bisa terlepas dari segala kepentingan individu maupun kelompok yang ada agar bisa mempersiapkan tim sebaik mungkin dan bisa tampil maksimal pada gelaran Piala Asia 2027.

Selasa, 07 Oktober 2025

Menuju Piala Dunia : Setitik Catatan dan Harapan

 


2002, tahun yang terpantik dalam ingatan ketika pertama kali mengingat sejak kapan  mengikuti Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Kala itu Final Piala Tiger (yang sempat berubah nama menjadi AFF Cup dan kini menjadi ASEAN CUP), di stadion Gelora Bung Karno, Indonesia vs Thailand babak adu pinalti, dengan hasil akhir Thailand yang memenangkan pertandingan.

Sejak saat itu kekecewaan atas kegagalan Timnas meraih kejayaan terus berdatangan. Kegagalan lolos dari fase grup piala asia 2004, gagal juara pada AFF cup 2004, gagal lolos dari fase grup piala asia 2007 saat menjadi tuan rumah padahal hanya butuh hasil imbang pada pertandingan terakhir sama seperti saat piala asia 2004. Gagal juara di AFF 2010, sea games 2011, dualisme federasi dan Timnas pada 2012 hingga dibekukan nya federasi dan Timnas dari event internasional pada tahun 2014-2015. Gagal juara di AFF 2016. Gagal juara di Asean cup 2020.

Namun, di tengah rentetan kegagalan tersebut terselip beberapa keberhasilan. Juara AFF U-19 tahun 2013, juara AFF U-22 2019. Medali emas sea games 2023. Tapi diantara keberhasilan tersebut terjadi pada timnas kelompok umur. Keberhasilan yang ditunggu yaitu keberhasilan pada timnas Senior. 

Secercah harapan mulai muncul. Ketika keikutsertaan timnas di Asean Cup 2020 yang dilatih oleh STY pelatih asal Korea Selatan yang berhasil mengalahkan Jerman di piala dunia 2018. Turnamen Yang dilaksanakan pada tahun 2021 karena terjadi pandemi dengan final dilaksanakan pada awal tahun 2022. Kala itu dengan tim yang masih sangat muda untuk ukuran sebuah tim nasional senior tapi mampu menampilkan permainan yang sangat baik. Ada anggapan bahwa Timnas pada saat itu merupakan hasil dari potong generasi Timnas. Meski belum memberikan juara tapi banyak menunjukkan kemajuan dari segi teknis sepakbola.

Hasil dari potong generasi tersebut terlihat saat kualifikasi piala asia 2023. Timnas Indonesia berhasil mengalahkan tuan rumah Kuwait, serta Nepal, meski sempat kalah tipis oleh Yordania yang pada akhirnya sampai final piala asia, namun tetap berhasil melaju ke babak utama piala asia melalui jalur kualifikasi sejak 20 tahun terakhir. Hingga hasil di piala asia pun mencapai target dengan lolos dari fase grup untuk pertama kali meski melalui jalur peringkat tiga terbaik.

Lanjut pada pagelaran piala asia u-23, timnas lolos babak utama untuk pertama kalinya. Pada fase grup mengalahkan tim kuat Australia serta Yordania dan pada babak 8 besar kembali mengalahkan tim kuat lainnya Korea Selatan meski pada babak adu pinalti. Dengan mencapai target lolos dari fase grup bahkan mencapai semifinal dan hampir mengikuti olimpiade, dengan permainan yang baik dan sebagian dari tim ini juga merupakan bagian dari tim senior, muncul kembali secercah harapan untuk timnas Indonesia.

Harapan itu kini di depan mata. 2 x 90 menit jika menuntaskan pertandingan itu, maka sejarah tercipta, pertama kalinya sejak kemerdekaan Indonesia berpartisipasi di piala dunia. 

Namun kondisi tim kini berbeda. STY Pelatih  yang membawa Timnas meraih hasil positif di piala asia senior dan U23 dengan permainan yang baik, telah diganti dengan tim kepelatihan dari Belanda yang notabene memiliki kesamaan dengan banyak pemain diaspora Indonesia.

Banyak spekulasi beredar terkait pergantian tim kepelatihan. Apapun itu alasannya, tujuannya kini hanya satu, bawa Indonesia ke Piala Dunia. Kerangka tim sejatinya sudah terbentuk, dari formasi, gaya bermain sampai pemain yang bisa masuk dsp. Jika tim kepelatihan saat ini sedikit banyak merubah kerangka yang ada dan ternyata hasilnya kegagalan, maka mereka harus bersiap tanggung jawab, termasuk federasi yang mempunyai hak mengganti tim kepelatihan juga harus bertanggung jawab.

Untuk saat ini yang terpenting adalah bukan cara bermain, tetapi hasil yang bisa membawa kita ke piala dunia. Maka dari itu cara bermain apapun, lakukanlah untuk hasil yang kita inginkan bersama. Singkirkan dulu prinsip maupun filosofi bermain dan sejenisnya. Kami ingin Indonesia Raya berkumandang, Merah Putih berkibar di kancah Internasional, di panggung terbesar dunia, di Piala Dunia 2026.