Rabu, 11 Maret 2015

Iseng



Temanku bilang menulis itu iseng, dia pun bergumam menulislah selain skripsi. Dan isengnya itu pun menghasilkan sebuah kumpulan puisi yang lahir dari balik kacamatanya, juga dari kepekaan indranya. Tentang bis kota, tentang kopi, tentang ruang dalam hidup, juga tentang jalannya kehidupan yang diatur rambu. Itu sebagian hasil dari iseng yang diberikan kepadaku, yang ku tau pun masih banyak tulisannya termasuk yang belum lama dimuat di surat kabar tentang perhatiannya kepada petani yang lahannya dibegal. Dan yang kutulis ini pun merupakan hasil dari iseng ditengah giatnya menulis skripsi.

Kau yakin ? Maka lakukanlah !



Ada sebuah kisah, tentang Abu Nawas. Entah kisah ini menceritakan Abu Nawas, atau Abu Nawas yang bercerita tentang kisah ini. Pada suatu hari seorang anak bersama bapaknya hendak pergi ke suatu tempat dengan unta. Unta yang tidak kecil, namun tidak terlalu besar juga. Berangkatlah mereka menaiki unta dengan barang bawaan mereka. Di perjalanan ada orang yang mengomentari keadaan tersebut, “apa mereka ga kasian sama unta itu, masa untanya jalan sambil bawa beban yang berat.” Si bapak yang mendengar komentar tersebutpun kemudian turun untuk berjalan kaki agar unta tidak merasakan beban yang terlalu berat. Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Dan kembali diperjalanan ada pemuda yang berkomentar dengan keadaan si bapak berjalan kaki sedangkan si anak berada di atas unta, “kurang ajar itu anak, masa bapaknya disuruh jalan kaki tapi dia enak-enakan duduk di atas unta.” Si anak pun kmudian turun dan meminta bapaknya bergantian untuk naik ke atas unta, dan mereka meneruskan perjalanan.
Ternyata orang-orang di perjalanan tidak berhenti berkomentar. Dengan kondisi anak berjalan kaki sedangkan bapaknya duduk dipunggung unta masih ada yang berkomentar dengan keadaan tersebut. “apa bener orang yang di atas unta itu bapak si anak yang jalan kaki itu ? masa bapaknya tega nyuruh anaknya jalan kaki sedangkan dia enak duduk di atas unta.” Dengan segera si bapak turun dari unta dan mereka pun berjalan kaki. Hanya barang bawaan mereka yang ada di punggung unta. Mereka terus berjalan menuju tempat tujuan mereka. Lagi lagi ada saja orang yang berkomentar, “ngapain mereka bawa unta kalo mereka ga naik unta itu dan cuma jalan kaki.” Di sepanjang perjalanan apa yang dilakuan si bapak dan anaknya terhadap unta mereka selalu mendapat komentar dari orang-orang yang tidak mereka kenal.
Hidup manusia dipenuhi dengan tindakan dan perbuatan. Apabila manusia tidak bertindak dan berbuat maka manusia itu mati. Manusia memiliki alasan dan tujuan tertentu untuk melakukan tidakan dan perbuatan dalam hidup mereka. Entah itu alasan dan tujuan untuk diri sendiri atau alasan dan tujuan untuk orang lain. Namun, sering kali tindakan dan perbuatan seseorang mendapatkan komentar dari orang lain dengan alasan dan tujuan tertentu pula. Atau bahkan tanpa alasan dan tujuan tertentu orang-orang memberikan komentar terhadap apa yang orang lain lakukan karena hanya itu yang bisa mereka lakukan. Yang memberikan komentarpun dari banyak kalangan, bisa dari orang disekitar kita, orang terdekat kita, dan bahkan orang yang tidak mengenal kita atau tidak kita kenalpun bisa memberikan komentar atas apa yang kita lakukan.
            Bagi kita tidaklah terlalu penting apa yang orang lain katakan terhadap apa yang kita lakukan. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan itu sendiri. Dengan tujuan dan alasan apa kita melakukan suatu hal tersebut ? jika kita melakukan suatu hal untuk kebaikan diri sendiri apalagi kita melakukan suatu hal untuk kebaikan orang lain, maka lakukanlah. Memang apa yang kita anggap baik belum tentu orang lain menganggap dan merasakan baik pula. Kuncinya adalah percaya dan yakin apa yang kita lakukan dan apa yang kita anggap baik itu baik untuk banyak orang karena kebaikan di manapun sama, hanya cara orang melakukan dan memandang kebaikan itu saja yang berbeda.
            Dalam sebuah acara di televisi mentri kelautan dan perikanan mengatakan, “saat seleksi mentri saya berbicara kepada Presiden apa yang akan saya lakukan tidak akan membuat semua orang senang.” Presiden sepakat dan sadar betul apa yang dikatakan mentri Susi itu benar bahwa apa yang akan kita lakukan tidak bisa membuat smua orang senang. Karena Presiden Jokowi sudah merasakan apa yang dikatakan mentri Susi tadi saat menjadi walikota dan juga gubernur.
            Yang terpenting dalam hidup kita adalah jika apa yang kita lakukan baik untuk banyak orang dan kita yakin itu, maka lakukanlah.

Jumat, 23 Januari 2015

Teruntuk : Silvia



Kulihat kau dalam sebuah bingkai
dengan tatap kosong, karna kau hanya maya.
Dan kini kau berada di hadapanku
menjawab segala tanya, tentang hidup bekerja.
Itulah awal mula kita berbincang
namun kau berkata, kau telah lebih dulu mengenalku.

Saat itu bersama dengan yang lain
kita berada dalam satu peraduan,
ada yang bilang itu bahtera perkumpulan
untuk menggapai suatu tujuan.

Namun bersamaan dengan itu,
ditengah perjalanan bahtera
yang disaksikan (bisu) oleh nahkoda
kita mengikat kata, menyambung rasa.

Kita nikmati rasa yang tersambung itu
dalam malam ditemani hujan yang pertama kita rasakan.
Dan seterusnya juga kita rasakan berbagai macam bumbu kehangatan,
yang juga kau serasa hirup kopi dan juga susu yang pahit dan manisnya
membuat kau mual hingga memuntahkannya jika kau telan.
Namun itulah kenyataan yang bersama-sama dihadapi.

Kau berkeluh kesah tentang rasa kopi dan juga susu itu,
namun tetap saja kuberikan rasa itu.
Hingga sempat kau mencabut kata-kata yang terikat itu
akan tetapi rasa saling itu masih tersambung.

Hingga kini banyak hal-hal serupa terus berulang
Kucoba tawarkan upaya pencegahan namun kau tolak
Kau bilang tak sanggup bila harus melakukannya
Karena bila melakukannya kau bukanlah dirimu lagi

Kini waktupun kembali pada saat itu, kau ingin aku merekam perjalanan waktu
sebagai kenangan kebersamaan. Karena yang kau tau aku biasa melakukannya.
Dan kuhadiahkan untukmu perjalanan waktu yang singkat ini
sebagai kenangan kebersamaan (meskipun terlambat)
Dan juga ku yakin kau tak mengerti isi dari perjalanan waktu ini
Akan tetapi kehangatan kebersamaan dalam perjalanan ini akan terus kita rasakan.