Kegiatan belajar dan bekerja di rumah sudah dilaksanakan selama dua pekan. Belum ada tanda-tanda bahwa wabah yang sudah masuk kategori pandemik global ini akan berakhir. Bagus mulai gusar, karena bukan hanya kegiatan belajar dan bekerja saja yang dari rumah, tetapi kegiatan beribadah di rumah juga sangat dianjurkan.
“Pak, Mushalla deket rumah kan kecil, gak nampung banyak orang. Jadi gak terlalu berpengaruh penyebaran virus dong pak?”
Bagus membuka diskusi pagi dengan bapaknya di teras rumah pada saat libur belajar dan bekerja dari rumah.
“Gus, sebelumnya kamu sudah bapak beri tau kontrakan tempat tinggal kita waktu kamu kecil dulu, dan kamu belum pernah tanya kenapa bapak milih tinggal di lingkungan ini kan?”
“Iya pak, suasana lingkungannya gak beda jauh sih, kaya ngerasa di sana lebih banyak rumah kontrakan aja dan di sini gak banyak rumah kontrakan. Kalo dari sini juga relatif strategis karena ga terlalu jauh juga sama fasilitas umum.”
“Itu salah satunya, menurut bapak ada yang lebih strategis lagi, tetapi di sini tata letak bangunannya lebih rapih, walaupun bukan komplek perumahan elit.”
“Terus apa hubungannya sama pertanyaan Bagus tadi?”
Bagus merasa heran dan berpikir sama sekali tidak ada hubungannya apa yang disampaikan Bapaknya dengan pertanyaan yang ia ajukan. Setelah diam sejenak, bapak Bagus mulai menjawab pertanyaan Bagus.
“Bapak kepengen kamu lebih memperhatikan lingkungan sekitar kamu. Soal penyebaran virus, bukan tentang sedikitnya perkumpulan orang lalu penyebaran virus jadi terhambat. Sebelumnya hanya ada anjuran mengenai pembatasan sosial, tapi sekarang anjurannya semakin ketat menjadi pembatasan fisik.”
“Iya Pak, kalau itu Bagus sudah baca artikel dan beritanya. Terus yang masih ada shalat berjamaah itu bagaimana Pak? Bagus ngerasa beberapa pernyataan orang-orang tentang tetap shalat berjamaah itu ada benernya juga ko pak.”
“Orang-orang yang kamu lihat dan dengar berpendapat seperti itu pasti bukan orang biasa kan. Dan mereka itu tidak hanya menyampaikan pernyataan tetapi juga memberikan alasan dibalik pernyataannya itu. Bapak kepingin kamu mesti belajar dari situ.”
Bagus mulai merasa jengkel karena Bapaknya tidak memberikan pendapatnya mengenai topik yang sedang mereka bicarakan.
“Iya Pak, dan salah satu alasan logisnya memohon supaya virus ini cepet hilang lebih afdol ya di tempat ibadah.”
“Bapak merasa kamu tidak ambil pusing dengan pro-kontra mengenai kegiatan beribadah di rumah. Tapi seperti ada suatu hal yang lain yang kamu pikirkan.”
“Hehehe, iya Pak. Sebentar lagi kan puasa, Bagus ngerasa aneh aja kalau sampai tidak ada kegiatan tarawih berjamaah di masjid. Apalagi kalau nanti sampai tidak ada shalat Id berjamaah. Sekarang ga ada shalat Jumat berjamaah aja sudah ngerasa aneh, apalagi nanti saat puasa sama lebaran.”
“Kamu sebelumnya kan juga sudah pernah ngerasain gak shalat tarawih berjamaah di masjid. Dan beberapa tahun lalu waktu kamu sakit juga sudah ngerasain gak shalat Id berjamaah.”
“Yaa memang bener itu, tapi kondisinya beda Pak. Dulu masjid tetap melaksanakan, tapi sekarang gak ada yang melaksanakan kegiatannya.”
“Kegiatannya tetap ada Gus, cuma dilaksanakan di rumah masing masing. Dan sebelumnya bapak sudah bilang ke kamu kalau wabah seperti ini juga terjadi di zaman dahulu. Mereka pun merasakan hal yang sama.”
“Terus gimana pak, kehidupan zaman dulu waktu ada wabah?”
“Sekarang zaman sudah berkembang jauh sangat pesat. Apalagi informasi begitu cepat sampai ke kita. Jadi hidup kita lebih ramai. Sangat berbeda dengan kondisi zaman dulu. Bisa jadi pada zaman dulu hidupnya tidak seramai sekarang, tidak seheboh sekarang, dan tidak banyak pro-kontra seperti sekarang karena arus informasi yang relatif lebih lambat.”
Bagus mulai menatap wajah bapaknya dengan sangat serius, mungkin karena dia belum serius mendengarkan jadi dia merasa belum mendapatkan kesimpulan atau pengetahuan apapun tentang diskusi ia pagi ini. Melihat tatapan Bagus yang sangat serius, sambil tersenyum bapaknya menyarankan Bagus untuk bertanya kepada Kyai dekat rumahnya tentang kondisi saat ini yang ia rasakan.
“Gus, soal pro-kontra mengenai kegiatan beribadah dari rumah, tadi sudah bapak sampaikan yang terpenting kamu ketika menyampaikan pendapat harus punya alasan yang kuat. Dan yang gak kalah pentingnya juga kamu boleh menyampaikan pendapat kamu dengan lantang, tetapi kamu tidak harus memaksakan orang harus ikut atau setuju dengan pendapat kamu, yang kamu harus lakukan yaitu tunjukkan bukti nyata alasan dari pernyataan yang kamu sampaikan. Setelah itu bisa saja secara otomatis orang akan setuju dan akan ikut dengan apa yang kamu sampaikan.”
Mendengar pernyataan bapaknya yang disampaikan dengan cukup serius, Bagus mulai memalingkan pandangan terhadap bapaknya dan mencoba memahami situasi saat ini dengan diskusi dan pernyataan dari bapaknya.
“Gus, supaya kamu lebih paham dengan kondisi pada zaman dahulu ketika wabah dan bagaimana menyikapi kondisi saat ini, kamu coba pergi ke tempat Ustad Umar sampaikan kepada dia apa yang menjadi kegelisahan kamu.”
Mendapat saran dari bapaknya, Bagus tak langsung berangkat, namun ia mengganti terlebih dahulu celananya dengan celana panjang. Lama Bagus tak keluar dari kamarnya. Bapak Bagus penasaran apa yang dilakukan Bagus di kamarnya.
“Gus, kamu ga jadi ke tempat Ustad Umar?”
“Nanti sore pak, atau besok.”
Bagus menunda untuk bertanya kepada Ustad karena dia teringat tentang anjuran menjaga jarak fisik. Akhirnya Bagus melanjutkan kegiatan di hari liburnya dengan membaca buku dan berita dari media sosial dan elektronik.
Jumat, 01 Mei 2020
Rabu, 29 April 2020
PERINGATAN DARI VIRUS
Pertengahan bulan Maret, Gubernur Ibu Kota mengumumkan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah dengan pertimbangan untuk mencegah penyebaran virus yang sedang mewabah di Indoneisa.
Pada saat itu, sekolah bagus akan melaksanakan kegiatan PTS. Setelah PTS selesai dilaksanakan di rumah, kegiatan pembelajaran di rumah dimulai melalui media elektronik. Bagus mendapat tugas mencari tahu tentang virus.
“Pak, bisa ga kalo sekarang kita pasa wifi di rumah? Bapak juga kerjanya mulai di rumah aja kan?” Bagus memulai pembicaraan di hari pertama belajar dan bekerja di rumah.
“Memangnya paket data kamu sudah habis Gus?” jawab bapak Bagus
“Yaa masih ada sih pak.”
Bagus menjelaskan dengan adanya wifi kegiatan belajar dan bekerja di rumah akan lebih praktis. Karena Bagus memperkirakan kegiatan yang akan dia lakukan akan banyak menggunakan koneksi internet begitu juga denga pekerjaan bapaknya.
“Iyaa nanti bapak cari dulu.” Bapak Bagus menanngapi penjelasan Bagus namun tanpa menjelaskan apa yang akan ia cari.
Di hari pertama kegiatan Bagus dan keluarganya masih berjalan seperti biasa. Pada malam hari selepas Shalat dan makan malam keluarga Bagus berkumpul di ruang keluarga dengan kegiatan masing-masing.
“Beritanya tentang virus terus ya pak.”
Bagus membuka percakapan malam itu ditengah jeda iklan acara berita di televisi. Bagus dan bapaknya duduk bersampingan. Sementara ibu Bagus berada di dapur.
“Yaa karena memang itu sekarang yang sedang terjadi dan ramai, bahkan ditetapkan sebagai pandemic oleh WHO. Kamu bilang begitu memang sudah lihat berita apa saja Gus?”
“Yaa banyak, mecam-macam berita pak. Tapi lebih banyak berita yang bikin muka manyun semua. Bahkan banyak berita cendurung menyeramkan.”
“Poin dari berita itu bukan manusia digigit anjing, tapi anjing digigit oleh manusia.”
“Hah? Emangnya ada pak? Berita di mana itu?”
“Itu semacem analogi atau teori dari penyampaian berita, memangnya berita apa yang sudah kamu lihat hari ini?”
Bagus menyebutkan berbagai berita yang ia lihat dari berbagai media sosial/elektronik. Bahkan banyak berita yang ia dapat di grup whatsapp teman sekolahnya. Yang menjadi kesimpulan sementara Bagus yaitu waktu, tenaga, dan pikiran manusia sekarang terfokus pada virus. Sesuatu yang sangat kecil, yang tak kasat mata itu mencuri perhatian warga dunia. Bagus merasakan ada lebih banyak hal yang mestinya juga menjadi perhatian warga dunia.
“Ada pak, beberapa postingan dari temen, dari dulu yang lebih berbahaya dari virus itu banyak, tapi kenapa virus ini yang baru muncul langsung jadi trending topic dunia? Dan yang lebih berbahaya dari virus itu sampai sekarang masih terjadi dan masih ada. Tapi jarang banget jadi trending topik.”
“Memangnya apa yang lebih berbahaya dari virus? Kecelakaan? Kelaparan? Atau ada lagi yang lebih berbahaya dari hal-hal itu?”
“Itu Pak yang jadi postingan temen. Bahkan ada yang sampe bilang ‘giliran sama virus takut tapi kerjaannya kebut kebutan naik motor. Padahal sama-sama bahaya, sama-sama bisa bikin mati juga malahan kalau kena virus biaya pengobatan itu gratis ditanggung sama pemerintah. Tapi kalau kena kecelakaan biaya perawatan pengobatannya bayar sendiri.’ Yaa Bagus pikir itu sihh lagi menyindir tapi yang disindir juga kayanya ga ngerasa disindir.”
“Itulah kehidupan, itulah dunia. Dan kalau nanti kamu semakin tau, semakin mengenal kehidupan dunia kamu bakal menemukan hal yang jauh lebih menarik perhatian kamu tapi kamu gak bisa berbuat apa-apa gak mampu untuk berbuat apa-apa terhadap kehidupan dunia itu. Kamu hanya bisa fokus sama diri kamu, sama kehidupan kamu saja. Padahal kamu ingin berbuat sesuatu untuk dunia, tetapi kamu sadar terhadap suatu hal bahwa berbuat sesuatu untuk dunia bisa dimulai dari diri sendiri sekaligus kamu juga sadar dan merasa bahwa kamu tidak memiliki daya untuk merubah dunia.”
Bagus terdiam. Ia menunggu apa yang akan disampaikan oleh Bapaknya. Pesan-pesan itulah yang ia tunggu dari bapaknya. Ia merasa bersyukur memiliki bapak yang bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepadanya.
“Gus kamu tau gak, ada berita yang disampaikan dari ratusan tahun lalu berita yang disampaikan belasan abad yang lalu. Ada berita gembira ada juga berita yang menyeramkan. Tapi banyak manusia yang abai, banyak manusia yang tak acuh atas berita yang disampaikan itu. Padahal berita itu menurut bapak merupakan berita utama, berita terpenting bagi manusia yang pernah disampaikan.”
“Berita apa itu pak?”
Bagus semakin antusias. Rasa penasaran Bagus memuncak. Ia heran kenapa bapaknya bisa membuat Bagus selalu penasaran. Atau memang Bagus orang yang mudah penasaran.
“Selepas maghrib tadi, kamu sudah tilawah kan. Kamu baca arti dari ayat yang kamu baca gak? Di sana banyak sekali berita yang disampaikan. Berita gembira maupun berita yang menyeramkan. Sebentar lagi ramadhan, mulai dibiasakan baca juga arti dari surat atau ayat yang kamu baca. Nanti kamu akan menemukan kesimpulan dari kejadian yang telah, sedang dan yang akan terjadi di dunia ini. Yang terjadi sekarang sudah disampaikan beberapa ratus tahun atau beberapa abad yang lalu. Bahkan sebelumnyapun wabah juga sudah pernah terjadi dan dalam berita itu juga disampaikan bagaimana kita mesti bertindak saat wabah terjadi. Sekarang bantu dulu ibu kamu di dapur.”
Setelah diminta membantu ibu nya di dapur, Bagus tidak segera berbegas. Ia melamun sejenak. Setelah bapak Bagus menepuk pundaknya barulah Bagus bergegas. Tak sampai satu menit Bagus keluar dari dapur berjalan menuju kamarnya.
“Lohh, ga jadi bantu ibu kamu, Gus?”
“Ibu sudah selesai, Pak.”
Jawaban singkat Bagus menutup percakapan malam itu. Bagus berpikir kesimpulan apa yang ia dapat dari percakapan dan pesan bapaknya tadi. Karena sering kali dalam percakapan dengan bapaknya, bapaknya tidak memberikan kesimpulan kepada Bagus. Seolah Bapak Bagus memberikan ‘PR’ kepada Bagus. Bagus berusaha untuk mencari sendiri apa kesimpulan dari percakapan tadi, hingga ia pun tertidur.
Pada saat itu, sekolah bagus akan melaksanakan kegiatan PTS. Setelah PTS selesai dilaksanakan di rumah, kegiatan pembelajaran di rumah dimulai melalui media elektronik. Bagus mendapat tugas mencari tahu tentang virus.
“Pak, bisa ga kalo sekarang kita pasa wifi di rumah? Bapak juga kerjanya mulai di rumah aja kan?” Bagus memulai pembicaraan di hari pertama belajar dan bekerja di rumah.
“Memangnya paket data kamu sudah habis Gus?” jawab bapak Bagus
“Yaa masih ada sih pak.”
Bagus menjelaskan dengan adanya wifi kegiatan belajar dan bekerja di rumah akan lebih praktis. Karena Bagus memperkirakan kegiatan yang akan dia lakukan akan banyak menggunakan koneksi internet begitu juga denga pekerjaan bapaknya.
“Iyaa nanti bapak cari dulu.” Bapak Bagus menanngapi penjelasan Bagus namun tanpa menjelaskan apa yang akan ia cari.
Di hari pertama kegiatan Bagus dan keluarganya masih berjalan seperti biasa. Pada malam hari selepas Shalat dan makan malam keluarga Bagus berkumpul di ruang keluarga dengan kegiatan masing-masing.
“Beritanya tentang virus terus ya pak.”
Bagus membuka percakapan malam itu ditengah jeda iklan acara berita di televisi. Bagus dan bapaknya duduk bersampingan. Sementara ibu Bagus berada di dapur.
“Yaa karena memang itu sekarang yang sedang terjadi dan ramai, bahkan ditetapkan sebagai pandemic oleh WHO. Kamu bilang begitu memang sudah lihat berita apa saja Gus?”
“Yaa banyak, mecam-macam berita pak. Tapi lebih banyak berita yang bikin muka manyun semua. Bahkan banyak berita cendurung menyeramkan.”
“Poin dari berita itu bukan manusia digigit anjing, tapi anjing digigit oleh manusia.”
“Hah? Emangnya ada pak? Berita di mana itu?”
“Itu semacem analogi atau teori dari penyampaian berita, memangnya berita apa yang sudah kamu lihat hari ini?”
Bagus menyebutkan berbagai berita yang ia lihat dari berbagai media sosial/elektronik. Bahkan banyak berita yang ia dapat di grup whatsapp teman sekolahnya. Yang menjadi kesimpulan sementara Bagus yaitu waktu, tenaga, dan pikiran manusia sekarang terfokus pada virus. Sesuatu yang sangat kecil, yang tak kasat mata itu mencuri perhatian warga dunia. Bagus merasakan ada lebih banyak hal yang mestinya juga menjadi perhatian warga dunia.
“Ada pak, beberapa postingan dari temen, dari dulu yang lebih berbahaya dari virus itu banyak, tapi kenapa virus ini yang baru muncul langsung jadi trending topic dunia? Dan yang lebih berbahaya dari virus itu sampai sekarang masih terjadi dan masih ada. Tapi jarang banget jadi trending topik.”
“Memangnya apa yang lebih berbahaya dari virus? Kecelakaan? Kelaparan? Atau ada lagi yang lebih berbahaya dari hal-hal itu?”
“Itu Pak yang jadi postingan temen. Bahkan ada yang sampe bilang ‘giliran sama virus takut tapi kerjaannya kebut kebutan naik motor. Padahal sama-sama bahaya, sama-sama bisa bikin mati juga malahan kalau kena virus biaya pengobatan itu gratis ditanggung sama pemerintah. Tapi kalau kena kecelakaan biaya perawatan pengobatannya bayar sendiri.’ Yaa Bagus pikir itu sihh lagi menyindir tapi yang disindir juga kayanya ga ngerasa disindir.”
“Itulah kehidupan, itulah dunia. Dan kalau nanti kamu semakin tau, semakin mengenal kehidupan dunia kamu bakal menemukan hal yang jauh lebih menarik perhatian kamu tapi kamu gak bisa berbuat apa-apa gak mampu untuk berbuat apa-apa terhadap kehidupan dunia itu. Kamu hanya bisa fokus sama diri kamu, sama kehidupan kamu saja. Padahal kamu ingin berbuat sesuatu untuk dunia, tetapi kamu sadar terhadap suatu hal bahwa berbuat sesuatu untuk dunia bisa dimulai dari diri sendiri sekaligus kamu juga sadar dan merasa bahwa kamu tidak memiliki daya untuk merubah dunia.”
Bagus terdiam. Ia menunggu apa yang akan disampaikan oleh Bapaknya. Pesan-pesan itulah yang ia tunggu dari bapaknya. Ia merasa bersyukur memiliki bapak yang bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepadanya.
“Gus kamu tau gak, ada berita yang disampaikan dari ratusan tahun lalu berita yang disampaikan belasan abad yang lalu. Ada berita gembira ada juga berita yang menyeramkan. Tapi banyak manusia yang abai, banyak manusia yang tak acuh atas berita yang disampaikan itu. Padahal berita itu menurut bapak merupakan berita utama, berita terpenting bagi manusia yang pernah disampaikan.”
“Berita apa itu pak?”
Bagus semakin antusias. Rasa penasaran Bagus memuncak. Ia heran kenapa bapaknya bisa membuat Bagus selalu penasaran. Atau memang Bagus orang yang mudah penasaran.
“Selepas maghrib tadi, kamu sudah tilawah kan. Kamu baca arti dari ayat yang kamu baca gak? Di sana banyak sekali berita yang disampaikan. Berita gembira maupun berita yang menyeramkan. Sebentar lagi ramadhan, mulai dibiasakan baca juga arti dari surat atau ayat yang kamu baca. Nanti kamu akan menemukan kesimpulan dari kejadian yang telah, sedang dan yang akan terjadi di dunia ini. Yang terjadi sekarang sudah disampaikan beberapa ratus tahun atau beberapa abad yang lalu. Bahkan sebelumnyapun wabah juga sudah pernah terjadi dan dalam berita itu juga disampaikan bagaimana kita mesti bertindak saat wabah terjadi. Sekarang bantu dulu ibu kamu di dapur.”
Setelah diminta membantu ibu nya di dapur, Bagus tidak segera berbegas. Ia melamun sejenak. Setelah bapak Bagus menepuk pundaknya barulah Bagus bergegas. Tak sampai satu menit Bagus keluar dari dapur berjalan menuju kamarnya.
“Lohh, ga jadi bantu ibu kamu, Gus?”
“Ibu sudah selesai, Pak.”
Jawaban singkat Bagus menutup percakapan malam itu. Bagus berpikir kesimpulan apa yang ia dapat dari percakapan dan pesan bapaknya tadi. Karena sering kali dalam percakapan dengan bapaknya, bapaknya tidak memberikan kesimpulan kepada Bagus. Seolah Bapak Bagus memberikan ‘PR’ kepada Bagus. Bagus berusaha untuk mencari sendiri apa kesimpulan dari percakapan tadi, hingga ia pun tertidur.
Langganan:
Postingan (Atom)