Sabtu, 22 Desember 2018

Kritik

Pada sebuah sosial media ada sebuah meme yang dibagikan oleh seseorang. Meme tersebut bercerita tentang ada seorang penjual terompet untuk perayaan penyambambutan tahun baru. Kemudian pada meme tersebut diceritakan terdapat orang yang enggan membeli terompet dengan alasan keyakinannya. Di akhir gambar penjual terompet berkeluh hendak makan apa keluarganya jika terompetnya tidak ada yang membeli.
Orang membagikan cerita pada meme tersebut sambil tertawa. Kemudian ada yang berkomentar, malaikat juga nantinya akan meniup sangkakala yang dianggapnya sebagai "terompet". Hanya orang itu dan Tuhan yang tau maksud dari orang itu membagikan meme tersebut sambil tertawa dan maksud orang berkomentar seperti itu. Dan menurut penulis orang juga berhak memberikan penilaian atau tanggapan kepada orang yang menyebarkan meme dan mengomentari meme tersebut.
Tentunya penulis juga punya hak untuk mengomentari hal yang terjadi pada sebuah media sosial tersebut. Pertama bisa jadi itu merupakan pandangan sinisme orang yang membagikan meme tersebut terhadap Islam atau muslim. Mengapa bisa menilai demikian? Dari meme tersebut jelas ada seorang muslim yang enggan membeli terompet karena enggan merayakan tahun baru dengan meniup terompet. Karena muslim tersebut berkeyakinan merayakan tahun baru dengan cara meniup terompet dan menyalakan petasan bukanlah ajaran Islam. Yang membuat orang itu sinis adalah dia beranggapan bahwa muslim tersebut tidak mau membatu orang lain dengan membeli terompet karena berpegang pada keyakinannya.
Komentar atau tanggapan berikutnya yaitu terdapat komentar dari seseorang bahwa malaikat juga akan meniup terompet sangkakala. Bagi penulis itu cukup jelas merupakan sinisme terhadap Islam. Tapi itu menjadi maklum karena orang itu tidak tahu, tidak mengerti, tidak paham, dan tidak mengenal Islam. Dalam Islam banyak perumpaan yang digambarkan atau dijelaskan supaya manusia bisa lebih mudah paham atas apa yang hendak disampaikan Islam. Seperti misalnya terdapat istilah Arsy. Manusia menganggap Asry itu sebagai singgasana. Tentunya tidak seperti singgasana yang ada di dunia. Karena Arsy merupakan "Singgasana" Allah. Begitu juga dengan sangkakala tidak seperti terompet yang ada di dunia. Tetapi sekali lagi menjadi maklum karena mereka tidak mengenal Islam. Dan kita doakan saja semoga mereka mendapat hidayah untuk mengenal Islam.
Kritik berikutnya yaitu terhadap perilaku muslim yang terdapat pada meme tersebut. Jika kita tidak ingin membeli terompet karena berpegang pada keyakinan, kita tidak perlu dan tidak harus menunjukkan sikap yang dapat menyinggung penjual terompet. Dan si penjual terompet juga tidak perlu khawatir tidak bisa makan sebab terompetnya tidak laku.karena Allah sudah mengatur rezki setiap makhluknya, sekali lagi bukan hanya setiap orang tapi setiap makhluknya. "Bahkan belatungpun punya rezkinya", begitu kata dosen penulis. "Menginjak injak kitab suci itu penghinaan mendasar atau yang paling permukaan, karena besok kau khawatir tidak bisa makan itu merupakan penghinaan paling dalam terhadap Tuhan", begitu kata Sujiwo Tedjo.
Islam itu Rahmatan Lil Alamin, Rahmat semesta alam. Perilaku penjual dan orang yang enggan membeli terompet -jika mereka muslim- belum menunjukkan ajaran Islam. Dan bagi yang menyebarkan meme dan juga yang berkomentar kita berikan maklum dan kita doakan saja karena mereka belum mengenal Islam. Serta yang penting dari peristiwa itu semua merupakan pelajaran bagi kita untuk mempelajari dan mempraktikkan Islam dengan lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar