Jumat, 01 Mei 2020

Beribadah Di Tengah Wabah

Kegiatan belajar dan bekerja di rumah sudah dilaksanakan selama dua pekan. Belum ada tanda-tanda bahwa wabah yang sudah masuk kategori pandemik global ini akan berakhir. Bagus mulai gusar, karena bukan hanya kegiatan belajar dan bekerja saja yang dari rumah, tetapi kegiatan beribadah di rumah juga sangat dianjurkan.

“Pak, Mushalla deket rumah kan kecil, gak nampung banyak orang. Jadi gak terlalu berpengaruh penyebaran virus dong pak?”

Bagus membuka diskusi pagi dengan bapaknya di teras rumah pada saat libur belajar dan bekerja dari rumah.

“Gus, sebelumnya kamu sudah bapak beri tau kontrakan tempat tinggal kita waktu kamu kecil dulu, dan kamu belum pernah tanya kenapa bapak milih tinggal di lingkungan ini kan?”

“Iya pak, suasana lingkungannya gak beda jauh sih, kaya ngerasa di sana lebih banyak rumah kontrakan aja dan di sini gak banyak rumah kontrakan. Kalo dari sini juga relatif strategis karena ga terlalu jauh juga sama fasilitas umum.”

“Itu salah satunya, menurut bapak ada yang lebih strategis lagi, tetapi di sini tata letak bangunannya lebih rapih, walaupun bukan komplek perumahan elit.”

“Terus apa hubungannya sama pertanyaan Bagus tadi?”

Bagus merasa heran dan berpikir sama sekali tidak ada hubungannya apa yang disampaikan Bapaknya dengan pertanyaan yang ia ajukan. Setelah diam sejenak, bapak Bagus mulai menjawab pertanyaan Bagus.

“Bapak kepengen kamu lebih memperhatikan lingkungan sekitar kamu. Soal penyebaran virus, bukan tentang sedikitnya perkumpulan orang lalu penyebaran virus jadi terhambat. Sebelumnya hanya ada anjuran mengenai pembatasan sosial, tapi sekarang anjurannya semakin ketat menjadi pembatasan fisik.”

“Iya Pak, kalau itu Bagus sudah baca artikel dan beritanya. Terus yang masih ada shalat berjamaah itu bagaimana Pak? Bagus ngerasa beberapa pernyataan orang-orang tentang tetap shalat berjamaah itu ada benernya juga ko pak.”

“Orang-orang yang kamu lihat dan dengar berpendapat seperti itu pasti bukan orang biasa kan. Dan mereka itu tidak hanya menyampaikan pernyataan tetapi juga memberikan alasan dibalik pernyataannya itu. Bapak kepingin kamu mesti belajar dari situ.”

Bagus mulai merasa jengkel karena Bapaknya tidak memberikan pendapatnya mengenai topik yang sedang mereka bicarakan.

“Iya Pak, dan salah satu alasan logisnya memohon supaya virus ini cepet hilang lebih afdol ya di tempat ibadah.”

“Bapak merasa kamu tidak ambil pusing dengan pro-kontra mengenai kegiatan beribadah di rumah. Tapi seperti ada suatu hal yang lain yang kamu pikirkan.”

“Hehehe, iya Pak. Sebentar lagi kan puasa, Bagus ngerasa aneh aja kalau sampai tidak ada kegiatan tarawih berjamaah di masjid. Apalagi kalau nanti sampai tidak ada shalat Id berjamaah. Sekarang ga ada shalat Jumat berjamaah aja sudah ngerasa aneh, apalagi nanti saat puasa sama lebaran.”

“Kamu sebelumnya kan juga sudah pernah ngerasain gak shalat tarawih berjamaah di masjid. Dan beberapa tahun lalu waktu kamu sakit juga sudah ngerasain gak shalat Id berjamaah.”

“Yaa memang bener itu, tapi kondisinya beda Pak. Dulu masjid tetap melaksanakan, tapi sekarang gak ada yang melaksanakan kegiatannya.”

“Kegiatannya tetap ada Gus, cuma dilaksanakan di rumah masing masing. Dan sebelumnya bapak sudah bilang ke kamu kalau wabah seperti ini juga terjadi di zaman dahulu. Mereka pun merasakan hal yang sama.”

“Terus gimana pak, kehidupan zaman dulu waktu ada wabah?”

“Sekarang zaman sudah berkembang jauh sangat pesat. Apalagi informasi begitu cepat sampai ke kita. Jadi hidup kita lebih ramai. Sangat berbeda dengan kondisi zaman dulu. Bisa jadi pada zaman dulu hidupnya tidak seramai sekarang, tidak seheboh sekarang, dan tidak banyak pro-kontra seperti sekarang karena arus informasi yang relatif lebih lambat.”

Bagus mulai menatap wajah bapaknya dengan sangat serius, mungkin karena dia belum serius mendengarkan jadi dia merasa belum mendapatkan kesimpulan atau pengetahuan apapun tentang diskusi ia pagi ini. Melihat tatapan Bagus yang sangat serius, sambil tersenyum bapaknya menyarankan Bagus untuk bertanya kepada Kyai dekat rumahnya tentang kondisi saat ini yang ia rasakan.

“Gus, soal pro-kontra mengenai kegiatan beribadah dari rumah, tadi sudah bapak sampaikan yang terpenting kamu ketika menyampaikan pendapat harus punya alasan yang kuat. Dan yang gak kalah pentingnya juga kamu boleh menyampaikan pendapat kamu dengan lantang, tetapi kamu tidak harus memaksakan orang harus ikut atau setuju dengan pendapat kamu, yang kamu harus lakukan yaitu tunjukkan bukti nyata alasan dari pernyataan yang kamu sampaikan. Setelah itu bisa saja secara otomatis orang akan setuju dan akan ikut dengan apa yang kamu sampaikan.”

Mendengar pernyataan bapaknya yang disampaikan dengan cukup serius, Bagus mulai memalingkan pandangan terhadap bapaknya dan mencoba memahami situasi saat ini dengan diskusi dan pernyataan dari bapaknya.

“Gus, supaya kamu lebih paham dengan kondisi pada zaman dahulu ketika wabah dan bagaimana menyikapi kondisi saat ini, kamu coba pergi ke tempat Ustad Umar sampaikan kepada dia apa yang menjadi kegelisahan kamu.”

Mendapat saran dari bapaknya, Bagus tak langsung berangkat, namun ia mengganti terlebih dahulu celananya dengan celana panjang. Lama Bagus tak keluar dari kamarnya. Bapak Bagus penasaran apa yang dilakukan Bagus di kamarnya.

“Gus, kamu ga jadi ke tempat Ustad Umar?”

“Nanti sore pak, atau besok.”

Bagus menunda untuk bertanya kepada Ustad karena dia teringat tentang anjuran menjaga jarak fisik. Akhirnya Bagus melanjutkan kegiatan di hari liburnya dengan membaca buku dan berita dari media sosial dan elektronik.