Suatu waktu pada suatu malam. Sekelompok pemuda berkumpul dalam ruang maya. "Yuk kita kemana," buka seorang pemuda memecah sunyi ruang. Tiga, dua, satu, waktu hanya berlalu. Sunyi kembali mengisi, hingga pemuda lain membuka sapa. "Yuk kemana kita". Pemuda pemuda lain mulai membalas sapa. Satu hal yang mereka tanya dan ingin pastikan, hendak berjalan kemana jiwa mereka?
Para pemuda itu berjalan, keluar dari ruang maya, karena dalam ruang maya tak menjawab tanya. Kini mereka bertatap sapa, berbalas tawa. Hingga seorang pemuda membuka kata, "jalan yuk kita." Dan pemuda lain menjawab kata, "yuk kita jalan." Pada akhirnya mereka tetapkan sebuah keputusan, yaitu terlebih dahulu menyusuri jalan, baru tetapkan tujuan. Meski mereka belum mendapatkan sebuah kepastian, tetapi mereka harus mulai berjalan.
Pemuda pemuda harus berjalan, agar mereka tau kehidupan. Pemuda pemuda harus tau kehidupan, agar mereka dapat mengisi kehidupan. Pemuda pemuda harus mengisi kehidupan, karena mereka bagian dari kehidupan.
Dalam perjalanan terlebih dahulu mereka putuskan untuk mengunjungi kawan, sambil mereka diskusikan, tujuan. "Ke sana yuk kita." Celoteh seorang pemuda. "Yuk kita ke sana," pemuda lain menetapkan. Tidak harus terus berjalan. Sejenak, perlu untuk berhenti dan menepi, kemudian melihat kembali dalam kehidupan apa yang belum terisi. Karena sebagai bagian dari kehidupan, pemuda mesti memberikan bukti bahwa mereka berarti.
Untuk memberikan bukti bahwa pemuda berati, jalan yang mereka lalui mestilah berkelok, naik dan turun serta tajam dan curam. Jika mereka berhasil lalui kemudian kembali dengan membawa bukti, saat itulah pemuda membuktikan diri bahwa mereka mampu berarti dalam mengisi kehidupan. Lalu jika kita tak mampu untuk berjalan kembali, dan memang sesunguhnya kita perlu petunjuk untuk kembali, maka memohonlah kepada Yang Maha Kuasa, "Tunjukilah kami jalan yang lurus".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar