Malam ini
malam minggu. Bagus biasa berkeliling di sekitar rumahnya dengan bersepeda. Hal
itu dilakukan atas perintah bapaknya. Bapaknya ingin Bagus kenal dengan
lingkungannya. Bukan karena supaya Bagus terkenal. Tetapi dengan saling
mengenal akan banyak kebaikan yang akan datang kepada kehidupan Bagus. Bagus diminta
bukan hanya berkeliling, tetapi menegur sapa dengan orang orang yang
ditemuinya. Selain itu Bagus juga diminta untuk memperhatikan apa saja yang
terjadi atau apa saja yang ditemuinya pada saat dia berkeliling.
Bagus berkeliling
setelah melaksanakan shalat isya. Sekitar tiga puluh menit sampai satu jam dia
berkeliling. Bapaknya meminta Bagus seperti itu untuk melatih supaya Bagus
memiliki kepekaan sosial yang baik. Karena hal itu akan menjadi bekal hidup
yang baik. Bagus selesai berkeliling dan pada saat dia pulang dia mendapati
bapaknya sedang menonton televisi. “assalamualaikum,” Bagus seperti biasa
mengucap salam ketika memasuki rumah. “pak nonton film apa?” Tanya Bagus. “sini
duduk, kamu ikut nonton aja sekalian.” Bapaknya menonton film tentang bela diri
kungfu. Seorang anak yang ingin belajar bela diri kungfu.
Cerita film sampai kepada anak
tersebut di bawa oleh gurunya ke suatu tempat perguruan bela diri. Tempat tersebut
berada di pegunungan. Anak tersebut diajak untuk berkeliling perguruan bela
diri itu. Dan dia diajak ke suatu tempat atas pegunungan. Sesampainya di sana
terdapat telaga air. Gurunya meminta anak tersebut meminumnya. Dia merasakan
kesegaran hingga dia mencelupkan mukanya ke telaga air itu. Dan film pun telah
selesai.
“Gus, walaupun kamu gak nonton
dari awal tapi pasti kamu bisa ceritain ulang film ini. Atau ada gak pelajaran
yang bisa kamu ambil dari film ini?” Tanya bapak Bagus ketika film tersebut
telah selesai. “Iya Pak, film itu sebelumnya juga udah pernah ditayangin. Jadi Bagus
sudah lihat film itu dari awal. Kalo disuruh cerita lagi ya bisa aja. Tapi ada
satu adegan yang Bagus pikirin.” Jawab Bagus. Mendengar jawaban Bagus, bapaknya
tertarik adegan seperti apa yang Bagus pikirkan. “Emang adegan yang mana Gus yang
kamu pikirin?” Tanya bapak Bagus. “itu Pak yang tadi yang orang gerakannya
ngikutin ular, ehh ular yang gerakannya ngikutin orang itu ya?”. Bagus mulai
bercerita.
Bapak Bagus kaget ternyata adegan
seperti itu yang Bagus pikirkan. Karena bapaknya mengira bahwa adegan si anak
yang belajar kungfu yang menjadi perhatian Bagus. “ohh yang itu, kenapa memang
sama adegan yang itu?” jawab bapak Bagus merespon pernyataan Bagus. “iya pak
awalnya Bagus berpikirnya sama kaya anak itu, kalo orang itu ngikutin gerakan
ular, tapi ternyata ular itu yang ngikutin gerakan orang itu. Nahh dari situ
juga Bagus tahu bersikap tenang itu bukan tidak ngelakuin apa apa. Bersikap tenang
itu juga melakukan sesuatu, yaitu berpikir dan merasakan.” Bapak Bagus kaget
mendengar penjelasan Bagus. Dia juga senang ternyata Bagus sudah bisa mengamati
dan membuat kesimpulan atau analisis dengan baik.
“Iya terus apalagi?” ucap bapak
Bagus memancing pemikiran Bagus. “iya kalo kita tenang, merasakan yang terjadi
di sekitar kita, terus kita berpikir dengan cepat dan tepat orang orang bakalan
dengerin dan ngikutin omongan kita. Kaya ular itu yang ngikutin gerakan orang
di depannya.” Bapak bagus nampak senang bahwa ternyata Bagus sudah mulai
menyadari hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Setidaknya kalaupun
dia belum benar benar paham tapi pemikirannya itu akan tersimpan di dirinya dan
suatu hari akan timbul pada waktunya.
“Selain itu ada hal lain lagi gak
Gus?” Tanya bapak Bagus merespon sekaligus mencoba terus menggali pemikiran
Bagus. “nahh belom lama Bagus nonton anime
tentang detektif. Ada adegan yang nyontohin sikap tenang tadi itu. Jadi ceritanya
ada stasiun tv nyiarin tentang kasus pembunuhan. Polisi pengen siaran itu
diberhentiin supaya ga terjadi kegaduhan. Pihak tv sudah dicoba ditelpon tapi
ga bisa, akhirnya ada seorang polisi yang ke studio tv buat ngeberhentiin
siarannya. Tapi tiba tiba polisi itu tewas waktu sampe pintu masuk gedung
studio tv. Ternyata ada orang yang bisa ngebunuh cuma dengan ngeliat muka
orang. Trus ada polisi lain yang nyoba dateng ke studio tv itu. Tapi dicegah
sama pemimpin penyelidikan kasus pembunuhan yang lagi diusut. Pemimpin itu
minta polisi tadi supaya bersikap tenang, tapi polisi itu ga terima karena dia
tahu temannya baru aja tewas. Sampe polisi itu mengira pemimpin itu ga mau
berbuat apa apa karena takut mati. Tapi pemimpin itu bilang dia siap mati, tapi
ga mau mati cuma cuma. Dan kalo polisi itu ceroboh dia yang bakalan mati sia
sia. Tangan dan kaki pemimpin itu gemeteran sewaktu dia menjelaskan suasana yang
terjadi saat itu kepada polisi. Akhirnya polisi itu ngerti kondisinya. Bagus juga
ngerti dari adegan ini.” Bagus bercerita panjang lebar tentang apa yang dia
pahami.
Bapak Bagus semakin senang
mendengar penjelasan Bagus yang dia pahami tentang berdiam diri itu berbeda
dengan bersikap tenang. “wahh hebat nihh anak bapak, bisa paham sekaligus
ngejelasin ke bapak kalo berdiam diri sama bersikap tenang itu berbeda.” Bapak Bagus
merespon apa yang telah Bagus sampaikan. “tapi inget Gus, ada juga orang yang
bersikap tenang tanpa merasakan juga berpikir. Bukan berarti mereka ga bisa
merasakan atau ga bisa berpkir. Cuma mereka belum terbiasa atau terlatih
perasaan dan pikirannya. Nahh kamu bapak suruh bersepeda keliling itu untuk
membiasakan dan melatih perasaan juga pikiran kamu. Yang kamu jelasin tadi itu
udah nunjukin kalo perasaan dan pikiran kamu itu sudah mulai terlatih dan
terasah. Terus biasain yang sudah kamu lakuin. Nantinya kamu juga yang
ngerasain manfaatnya.” Tutup bapak Bagus pada percakapan malam itu. Kemudian bagus
ke kamarnya membaca buku juga bermain game
sebelum dia tidur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar