Selasa, 01 Januari 2019

Si Bagus : Berdiam Diri - Bersikap Tenang


                Malam ini malam minggu. Bagus biasa berkeliling di sekitar rumahnya dengan bersepeda. Hal itu dilakukan atas perintah bapaknya. Bapaknya ingin Bagus kenal dengan lingkungannya. Bukan karena supaya Bagus terkenal. Tetapi dengan saling mengenal akan banyak kebaikan yang akan datang kepada kehidupan Bagus. Bagus diminta bukan hanya berkeliling, tetapi menegur sapa dengan orang orang yang ditemuinya. Selain itu Bagus juga diminta untuk memperhatikan apa saja yang terjadi atau apa saja yang ditemuinya pada saat dia berkeliling.
                Bagus berkeliling setelah melaksanakan shalat isya. Sekitar tiga puluh menit sampai satu jam dia berkeliling. Bapaknya meminta Bagus seperti itu untuk melatih supaya Bagus memiliki kepekaan sosial yang baik. Karena hal itu akan menjadi bekal hidup yang baik. Bagus selesai berkeliling dan pada saat dia pulang dia mendapati bapaknya sedang menonton televisi. “assalamualaikum,” Bagus seperti biasa mengucap salam ketika memasuki rumah. “pak nonton film apa?” Tanya Bagus. “sini duduk, kamu ikut nonton aja sekalian.” Bapaknya menonton film tentang bela diri kungfu. Seorang anak yang ingin belajar bela diri kungfu.
Cerita film sampai kepada anak tersebut di bawa oleh gurunya ke suatu tempat perguruan bela diri. Tempat tersebut berada di pegunungan. Anak tersebut diajak untuk berkeliling perguruan bela diri itu. Dan dia diajak ke suatu tempat atas pegunungan. Sesampainya di sana terdapat telaga air. Gurunya meminta anak tersebut meminumnya. Dia merasakan kesegaran hingga dia mencelupkan mukanya ke telaga air itu. Dan film pun telah selesai.
“Gus, walaupun kamu gak nonton dari awal tapi pasti kamu bisa ceritain ulang film ini. Atau ada gak pelajaran yang bisa kamu ambil dari film ini?” Tanya bapak Bagus ketika film tersebut telah selesai. “Iya Pak, film itu sebelumnya juga udah pernah ditayangin. Jadi Bagus sudah lihat film itu dari awal. Kalo disuruh cerita lagi ya bisa aja. Tapi ada satu adegan yang Bagus pikirin.” Jawab Bagus. Mendengar jawaban Bagus, bapaknya tertarik adegan seperti apa yang Bagus pikirkan. “Emang adegan yang mana Gus yang kamu pikirin?” Tanya bapak Bagus. “itu Pak yang tadi yang orang gerakannya ngikutin ular, ehh ular yang gerakannya ngikutin orang itu ya?”. Bagus mulai bercerita.
Bapak Bagus kaget ternyata adegan seperti itu yang Bagus pikirkan. Karena bapaknya mengira bahwa adegan si anak yang belajar kungfu yang menjadi perhatian Bagus. “ohh yang itu, kenapa memang sama adegan yang itu?” jawab bapak Bagus merespon pernyataan Bagus. “iya pak awalnya Bagus berpikirnya sama kaya anak itu, kalo orang itu ngikutin gerakan ular, tapi ternyata ular itu yang ngikutin gerakan orang itu. Nahh dari situ juga Bagus tahu bersikap tenang itu bukan tidak ngelakuin apa apa. Bersikap tenang itu juga melakukan sesuatu, yaitu berpikir dan merasakan.” Bapak Bagus kaget mendengar penjelasan Bagus. Dia juga senang ternyata Bagus sudah bisa mengamati dan membuat kesimpulan atau analisis dengan baik.
“Iya terus apalagi?” ucap bapak Bagus memancing pemikiran Bagus. “iya kalo kita tenang, merasakan yang terjadi di sekitar kita, terus kita berpikir dengan cepat dan tepat orang orang bakalan dengerin dan ngikutin omongan kita. Kaya ular itu yang ngikutin gerakan orang di depannya.” Bapak bagus nampak senang bahwa ternyata Bagus sudah mulai menyadari hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Setidaknya kalaupun dia belum benar benar paham tapi pemikirannya itu akan tersimpan di dirinya dan suatu hari akan timbul pada waktunya.
“Selain itu ada hal lain lagi gak Gus?” Tanya bapak Bagus merespon sekaligus mencoba terus menggali pemikiran Bagus. “nahh belom lama Bagus nonton anime tentang detektif. Ada adegan yang nyontohin sikap tenang tadi itu. Jadi ceritanya ada stasiun tv nyiarin tentang kasus pembunuhan. Polisi pengen siaran itu diberhentiin supaya ga terjadi kegaduhan. Pihak tv sudah dicoba ditelpon tapi ga bisa, akhirnya ada seorang polisi yang ke studio tv buat ngeberhentiin siarannya. Tapi tiba tiba polisi itu tewas waktu sampe pintu masuk gedung studio tv. Ternyata ada orang yang bisa ngebunuh cuma dengan ngeliat muka orang. Trus ada polisi lain yang nyoba dateng ke studio tv itu. Tapi dicegah sama pemimpin penyelidikan kasus pembunuhan yang lagi diusut. Pemimpin itu minta polisi tadi supaya bersikap tenang, tapi polisi itu ga terima karena dia tahu temannya baru aja tewas. Sampe polisi itu mengira pemimpin itu ga mau berbuat apa apa karena takut mati. Tapi pemimpin itu bilang dia siap mati, tapi ga mau mati cuma cuma. Dan kalo polisi itu ceroboh dia yang bakalan mati sia sia. Tangan dan kaki pemimpin itu gemeteran sewaktu dia menjelaskan suasana yang terjadi saat itu kepada polisi. Akhirnya polisi itu ngerti kondisinya. Bagus juga ngerti dari adegan ini.” Bagus bercerita panjang lebar tentang apa yang dia pahami.
Bapak Bagus semakin senang mendengar penjelasan Bagus yang dia pahami tentang berdiam diri itu berbeda dengan bersikap tenang. “wahh hebat nihh anak bapak, bisa paham sekaligus ngejelasin ke bapak kalo berdiam diri sama bersikap tenang itu berbeda.” Bapak Bagus merespon apa yang telah Bagus sampaikan. “tapi inget Gus, ada juga orang yang bersikap tenang tanpa merasakan juga berpikir. Bukan berarti mereka ga bisa merasakan atau ga bisa berpkir. Cuma mereka belum terbiasa atau terlatih perasaan dan pikirannya. Nahh kamu bapak suruh bersepeda keliling itu untuk membiasakan dan melatih perasaan juga pikiran kamu. Yang kamu jelasin tadi itu udah nunjukin kalo perasaan dan pikiran kamu itu sudah mulai terlatih dan terasah. Terus biasain yang sudah kamu lakuin. Nantinya kamu juga yang ngerasain manfaatnya.” Tutup bapak Bagus pada percakapan malam itu. Kemudian bagus ke kamarnya membaca buku juga bermain game sebelum dia tidur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar