Sesaat sebelum waktu istirahat berakhir;
"Gus, tadi waktu kita lewat depan ruang guru lu denger ga obrolan kaka kelas yang keluar dari ruang guru tadi?" Tanya Agus kepada Bagus setelah Agus menelan siomaynya.
"Obrolan siapa? Memangnya mereka obrolin apa?" Bagus tidak memperhatikan sekeliling karena ia asik mengunyah roti keju favoritnya.
"Itu kaka kelas sembilan, mantan ketua OSIS. Masa lu ga dengerin sih, kan mereka lewat sambil ngobrol di samping lu." Agus masih sambil mengunyah siomaynya.
"Oohh si kaka Doi itu, gua tau sihh dia ngobrol dan lewat di samping gua tadi, tapi gua ga denger jelas mereka ngobrolin apa. Memangnya mereka ngobrolin apa sih?" Tanya Bagus yang baru mulai tertarik dengan pembicaraan.
"Ah payah lu Gus, masa mereka ngobrol di samping lu persis lu ga denger sih. Mereka itu tadi ngobrolin kalau hari ini habis istirahat guru-guru ada rapat, tapi kita semua tetep di kelas ngerjain tugas dan besok kita cuma bersih-bersih kelas aja." Jawab Agus sedikit kesal.
"Jangan langsung ditelen, dikunyah dulu biar gampang dicerna.." Bagus menyahut sambil berlalu membuang sampah ke tempat sampah.
"Ko lu tau gua sering makan ga pake dikunyah dulu?" Agus bertambah kesal mendengar jawanan Bagus.
"Yee bukan siomaynya, tapi beritanya. Bisa jadi itu hoaks." Respon Bagus masih terlihat santai mendengar berita dari Agus.
"Memangnya berita-berita di media sekarang yang judul beritanya tinggal ditambahin hoaks atau valid orang langsung percaya, terus beritanya disebar dan malah bisa bikin orang ribut." Agus bicara dengan sedikit bijak tidak seperti biasanya.
"Kalo berita itu bener berarti hari ini kelas kita banyak pelajaran kosong dong. Eh, tumben omongan lu Gus." Bagus sedikit kaget mendengar omongan Agus.
"Hehehe itu sebenernya gua niru omongan bapak gua semalem yang habis ngobrol sama temennya di rumah gua." Agus menjelaskan dari mana kata-kata itu ia dapat.
"Yasudah, kita tunggu aja." Bagus mengakhiri pembicaraan kemudian mereka kembali ke kelas.
Setelah istirahat, Agus, Bagus, dan teman temannya belajar matematika bersama Bu Okta. Ketika pertama kali Bu Okta memperkenalkan diri, Bagus mengira Bu Okta lahir pada bulan Oktober. Ternyata Bu Okta lahir pada tanggal 30 September malam harinya.
Setelah Bu Okta menjelaskan materi bangun ruang dan memberikan beberapa soal, Bu Okta meninggalkan kelas. Lalu menguaplah berita yang didengar oleh si Agus tanpa sempat terkonfirmasi karena Agus sibuk mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Okta. Dan pada hari itu Agus pulang dari sekolah seperti biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar