Pada suatu hari di sebuah sekolah dalam ruang kelas. Setelah istirahat para murid langsung memasuki kelas bersiap untuk mengikuti pelajaran. Seorang guru memasuki sebuah ruang kelas. "Ayo anak anak duduk rapih siapkan kertas dan alat tulis, yang lainnya disimpan dimasukan ke dalam tas." Ucap seorang guru setelah memasuki kelas dan mengucap salam. "Lho pak ko ga dikasih kisi kisi dulu kaya kelas sebelah?" Celetuk seorang murid. Sejenak guru tersebut diam tidak langsung menjawab pertanyaan murid tadi. "Lohh memang untuk apa kisi kisinya? Kan kamu sudah belajar tohh seminggu dua kali bertemu bapak jadi tidak perlu lagi diberikan kisi kisi," jawab guru tersebut.
Sebelum memulai ulangan guru tersebut memberikan motivasi kepada para muridnya. "Nak ada sebuah ujian yang pertanyaannya itu sudah diberitahu kepada seluruh peserta ujian, bahkan jawabannyapun juga sudah diberitahu. Tetapi tidak semua peserta ujian bisa menjawab soal ujian tersebut pada pelaksaan ujian. Soal tersebut diberikan ketika kalian, kita berada di dalam kubur. Kita tidak bisa menjawab soal itu karena perbuatan kita tidak sesuai dengan soal dan pertanyaan dari malaikat."
Setelah bercerita guru tersebut melanjutkan omongannya. "Sama halnya seperti sekarang, ketika kalian diberikan kisi kisi ulangan tetapi tidak membaca atau mempelajarinya kalian tidak bisa menjawab soal tersebut dan tidak akan mendapatkan nilai yang baik. Jika kalian meminta kisi kisi supaya bisa menjawab soal dan mendapatkan nilai yang baik, bukan itu sesungguhnya tujuan belajar yang utama." Guru tersebut menutup motivasinya kepada para murid saat sebagian murid masih nampak belum memahami maksud dari perkataan guru itu.
Pada akhirnya ulangan tetap dilaksanakan namun guru tersebut memberikan waktu beberapa menit kepada para muridnya untuk membaca terlebih dahulu. Setelah ulangan para murid langsung mengetahui nilai mereka karena seketika itu juga ulangan diperiksa bersama. Sebagian murid tidak puas dan sebagian murid merasa puas dengan nilai yang diperoleh. Namun salah satu murid, si Bagus, tak acuh dengan nilai yang dia peroleh karena memang meski nilai yang ia peroleh tak terlalu tinggi tapi nilai dia melebihi nilai minimal yang ditetapkan. Yang Bagus pikirkan adalah cerita dari gurunya tentang soal dan jawaban yang sudah dibocorkan tetapi banyak yang tidak bisa menjawabnya. Dia takut akan menjadi golongan orang yang tidak bisa menjawab soal yang sudah dibocorkan jawabannya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar