Senin, 02 Juni 2014

Melancong



Ketika kami memutuskan untuk tetap berangkat kami tidak memikirkan nantinya akan bagaimana, akan seperti apa perjalanan yang akan kami lalui tetapi kami hanya berpikir dan melihat bagaimana nanti. Itu tidak baik untuk dilaksanakan setidaknya setelah kami melewati kepergian dan kepulangan kami. Hidup bukan hanya menjalani takdir tetapi juga untuk merubah nasib, itulah yang terbaca pada tulisan dalam simbol-simbol hidup dan kehidupan. Untuk itu perlu dan penting bagi kami, bahkan bagi kita untuk memikirkan nantinya akan bagaimana, akan seperti apa. Sampai  pada ada yang ingin bergabung dengan kami, kami hanya menentukan bumi bagian mana yang akan kami diami untuk menyiapkan langkah demi langkah. Berangkatlah kereta.
Masih berpikir untuk menentukan nanti akan bagaimana karena itu juga merupakan sebuah alunan doa dari seorang sahabat yang tentunya berharap kami akan baik-baik saja di tanah lancong. Duss, tidak perlu berpikir terlalu keras karena ini bukan ujian akademik yang sering dan rutin kami lakukan karena tujuan kami untuk melepas penat dari rutinitas akademik dan yang lainnya. Dan juga tujuan kami untuk melihat kondisi dan mengetahui kabar dari keluarga besar yang belum pernah kami berjumpa dengannya dan untuk itulah kami pergi agar saling mengenal. Di perjalanan dalam sebuah gerbong kereta akhirnya kami menentukan nanti akan bagaimana.

Ketika kaki manapakkan jejak
Tak begitu terasa bumi bagian lain
Mungkin karena gelap
Mereka masih sembunyi terlelap
Mungkin juga karena kesadaranku
Belum sepenuhnya sadar
Namun terhirup sebuah kesegaran
Yogyakarta, sampai juga kami di sana. Sesampainya di lempuyangan bergegas kami menuju surau masa kini untuk melaksanakan kewajiban dan sejenak merenggangkan kaki menunggu kawan teman kami menjemput untuk mengantarkan dan mengenalkan kami kepada Yogyakarta. Ramah kami –para pelancong- disambutnya, disambut oleh penghuni disambut oleh perilaku para penghuni. Ketika sampai kepada suatu bagian bumi yang akan dijadikan sebagai hotel disinilah berperan yang telah kami tulis mengenai nantinya akan bagaimana kami di sini. Setelah beristirahat sejenak pergi kami menyiapkan kendaraan yang akan mengantar kami berkeliling.
Borobudur – UNY – UICCI – Parangtritis - Titik Nol Kota – Malioboro - Keraton. Itulah tempat-tempat yang telah kami rencanakan untuk kami jejaki. Namun rencana tinggallah rencana ketika tak ada kesungguhan untuk melaksanakannya sehingga hanya beberapa tempat yang telah kami tinggalkan jejak kaki kami. Borobudur menjadi tempat pertama, dengan sepeda motor yang disewa dengan kecepatan yang tak biasa dan dengan kondisi jalan yang sepi akan kendaraan tiba kami di tempat tujuan. Nampak besar nan megah batu yang tersusun itu, tak terbayang bagaimana manusia Indoesia dulu membangunnya untuk diwariskan generasi penerus. Tak terbayang pula teknologi macam apa yang digunakan untuk membangun candi itu. Bila kini manusia bangga akan ke modernitas dan teknologinya yang dapat membangun pula gedung nan tinggi dan indah dengan segala pernak perniknya maka manusia zaman itu juga dapat berbangga karena membangun candi dari bebatuan yang kini menjadi situs dunia. Bagi mereka zaman yang mereka lalui adalah juga merupakan zaman modern dengan bangunan candi yang dapat mereka buat.
Setelah memasuki daerah wisata itu dan menaiki setapak demi setapak anak tangga untuk mencapai puncak candi pandangan dan perhatian bukan lagi tertuju pada batu-batu yang tersusun disekeliling, bukan lagi pada orang-orang di bawah yang berusaha melewati anak tangga agar sampai pada puncak candi akan tetapi sudut mata ini tertuju pada alam yang berada tak jauh dari candi (setidaknya itulah yang terlihat oleh mata), berdiri nan kokoh gunung disertai pepohonan dan dikelilingi oleh awan. Puncak gunung itu lebih tinggi dari puncak candi, terasa sejuk mata memandangnya. Memang terasa tak elok membandingkan kemegahan candi yang merupakan buatan dari manusia dengan keindahan gunung yang merupakan ciptaan Sang Pencipta, namun satu hal yang  terasa adalah ketika berdiri diantara keduanya tubuh ini tak lebih dari sekedar manusia kecil yang masih terdapat dosa di dalamnya, manusia kecil yang masih dibaluti rasa sombong disekitarnya, manusia kecil yang masih dipenuhi hawa nafsu pada dirinya, manusia kecil yang harus terus dan selalu bersyukur dan memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas apa yang telah diberikan dan atas apa yang telah dilakukan. Senja datang kami pun pulang.
Pada hari kedua kami berada di bumi lancong mengunjungi keluarga yang belum pernah kami kunjungi menjadi jadwal kami selanjutnya. Universitas negeri Yogyakarta beranjak kami ke sana hingga siang hari. Pada pertemuan tersebut kami disambut dengan ramah. Dalam sepetak ruangan yang disekat oleh kayu karena keharusan untuk berbagi terjadi perbincangan sepi, namun sesekali suasana pecah oleh tawa karena kelakar seseorang. Meski singkat dan sepi suasana namun hangat terasa silaturahim yang hendak kami jaga. Selepas zuhur kami kembali untuk beristirahat.
Setelah satu tempat diputuskan untuk tidak dikunjungi bersiap kami untuk menuju tempat selanjutnya. Seperti biasa dengan sepeda motor yang disewa dengan kecepatan yang tak biasa dan dengan kondisi jalan yang sepi akan kendaraan sampai kami dihadapan hamparan air yang amat luas. Tidak seperti ketika memasuki daerah wisata borobudur yang memerlukan secarik kertas sebagai tanda masuk bagi pengunjung, untuk berada di atas pasir dan dihadapan hamparan air ini kami tidak memerlukan itu. Tak banyak yang kami lakukan di tempat ini, kegiatan yang kami lakukan hanyalah mengabadikan moment keberadaan kami di tempat ini dalam berbagai ekspresi. Dan juga satu fenomena alam yang tak luput dari pandangan kami, sunset.

Dengan perlahan seolah tenggelam
Seperti menipu seakan menghilang
Dengan indah kau berpamitan
Untuk esok kembali terang
Sejatinya kau tetap ada
Sampai pada waktunya tiba

Sampai kami pada hari terakhir di bumi bagian lain ini. Terjadwal pagi ini kami menuju keramaian untuk menyiapkan buah tangan namun sang tour guide sudah bangun lebih pagi untuk ujian. Dia pulang dengan diiringi hujan yang juga menyebabkan kami menunda jalan. Sampai pada tersusun sebuah rencana di waktu sore kami berpamitan untuk menuju malioboro dan meneruskannya menuju stasiun. Namun dengan kelalaian yang dimiliki manusia rencana itu gagal sampai-sampai ada yang murung dengan kegagalan rencana itu. Layaknya ketika sampai pada tempat ini, untuk meninggalkan tempat ini pun kami lagi-lagi singgah di Surau masa kini untuk berdoa seraya menunggu kerata. Tibalah kereta yang mengantar kami pulang, bergegas kami masuk dan mencari tempat duduk. Sebuah perjalanan yang tak biasa tentunya dengan barbagai cerita, berharap kita dapat berjalan bersama lagi dengan tempat , suasana, dan cerita berbeda tentunya.

Pagi cerah dan malam sunyi, dibalik rasa dongkol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar