Ketika
kami memutuskan untuk tetap berangkat kami tidak memikirkan nantinya akan
bagaimana, akan seperti apa perjalanan yang akan kami lalui tetapi kami hanya
berpikir dan melihat bagaimana nanti. Itu tidak baik untuk dilaksanakan
setidaknya setelah kami melewati kepergian dan kepulangan kami. Hidup bukan
hanya menjalani takdir tetapi juga untuk merubah nasib, itulah yang terbaca
pada tulisan dalam simbol-simbol hidup dan kehidupan. Untuk itu perlu dan
penting bagi kami, bahkan bagi kita untuk memikirkan nantinya akan bagaimana,
akan seperti apa. Sampai pada ada yang
ingin bergabung dengan kami, kami hanya menentukan bumi bagian mana yang akan
kami diami untuk menyiapkan langkah demi langkah. Berangkatlah kereta.
Masih berpikir untuk menentukan
nanti akan bagaimana karena itu juga merupakan sebuah alunan doa dari seorang
sahabat yang tentunya berharap kami akan baik-baik saja di tanah lancong. Duss,
tidak perlu berpikir terlalu keras karena ini bukan ujian akademik yang sering
dan rutin kami lakukan karena tujuan kami untuk melepas penat dari rutinitas
akademik dan yang lainnya. Dan juga tujuan kami untuk melihat kondisi dan mengetahui
kabar dari keluarga besar yang belum pernah kami berjumpa dengannya dan untuk
itulah kami pergi agar saling mengenal. Di perjalanan dalam sebuah gerbong
kereta akhirnya kami menentukan nanti akan bagaimana.
Ketika kaki manapakkan jejak
Ketika kaki manapakkan jejak
Tak
begitu terasa bumi bagian lain
Mungkin
karena gelap
Mereka
masih sembunyi terlelap
Mungkin
juga karena kesadaranku
Belum sepenuhnya
sadar
Namun
terhirup sebuah kesegaran
Yogyakarta, sampai juga kami di sana. Sesampainya
di lempuyangan bergegas kami menuju surau masa kini untuk melaksanakan
kewajiban dan sejenak merenggangkan kaki menunggu kawan teman kami menjemput
untuk mengantarkan dan mengenalkan kami kepada Yogyakarta. Ramah kami –para
pelancong- disambutnya, disambut oleh penghuni disambut oleh perilaku para
penghuni. Ketika sampai kepada suatu bagian bumi yang akan dijadikan sebagai
hotel disinilah berperan yang telah kami tulis mengenai nantinya akan bagaimana
kami di sini. Setelah beristirahat sejenak pergi kami menyiapkan kendaraan yang
akan mengantar kami berkeliling.
Borobudur – UNY – UICCI – Parangtritis - Titik Nol
Kota – Malioboro - Keraton. Itulah tempat-tempat yang telah kami rencanakan
untuk kami jejaki. Namun rencana tinggallah rencana ketika tak ada kesungguhan
untuk melaksanakannya sehingga hanya beberapa tempat yang telah kami tinggalkan
jejak kaki kami. Borobudur menjadi tempat pertama, dengan sepeda motor yang
disewa dengan kecepatan yang tak biasa dan dengan kondisi jalan yang sepi akan
kendaraan tiba kami di tempat tujuan. Nampak besar nan megah batu yang tersusun
itu, tak terbayang bagaimana manusia Indoesia dulu membangunnya untuk
diwariskan generasi penerus. Tak terbayang pula teknologi macam apa yang
digunakan untuk membangun candi itu. Bila kini manusia bangga akan ke
modernitas dan teknologinya yang dapat membangun pula gedung nan tinggi dan
indah dengan segala pernak perniknya maka manusia zaman itu juga dapat
berbangga karena membangun candi dari bebatuan yang kini menjadi situs dunia.
Bagi mereka zaman yang mereka lalui adalah juga merupakan zaman modern dengan
bangunan candi yang dapat mereka buat.
Setelah memasuki daerah wisata itu dan menaiki setapak
demi setapak anak tangga untuk mencapai puncak candi pandangan dan perhatian
bukan lagi tertuju pada batu-batu yang tersusun disekeliling, bukan lagi pada
orang-orang di bawah yang berusaha melewati anak tangga agar sampai pada puncak
candi akan tetapi sudut mata ini tertuju pada alam yang berada tak jauh dari
candi (setidaknya itulah yang terlihat oleh mata), berdiri nan kokoh gunung
disertai pepohonan dan dikelilingi oleh awan. Puncak gunung itu lebih tinggi
dari puncak candi, terasa sejuk mata memandangnya. Memang terasa tak elok
membandingkan kemegahan candi yang merupakan buatan dari manusia dengan
keindahan gunung yang merupakan ciptaan Sang Pencipta, namun satu hal yang terasa adalah ketika berdiri diantara keduanya
tubuh ini tak lebih dari sekedar manusia kecil yang masih terdapat dosa di
dalamnya, manusia kecil yang masih dibaluti rasa sombong disekitarnya, manusia
kecil yang masih dipenuhi hawa nafsu pada dirinya, manusia kecil yang harus
terus dan selalu bersyukur dan memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas apa
yang telah diberikan dan atas apa yang telah dilakukan. Senja datang kami pun
pulang.
Pada hari kedua kami berada di bumi lancong
mengunjungi keluarga yang belum pernah kami kunjungi menjadi jadwal kami
selanjutnya. Universitas negeri Yogyakarta beranjak kami ke sana hingga siang
hari. Pada pertemuan tersebut kami disambut dengan ramah. Dalam sepetak ruangan
yang disekat oleh kayu karena keharusan untuk berbagi terjadi perbincangan
sepi, namun sesekali suasana pecah oleh tawa karena kelakar seseorang. Meski
singkat dan sepi suasana namun hangat terasa silaturahim yang hendak kami jaga.
Selepas zuhur kami kembali untuk beristirahat.
Setelah satu tempat diputuskan untuk tidak
dikunjungi bersiap kami untuk menuju tempat selanjutnya. Seperti biasa dengan
sepeda motor yang disewa dengan kecepatan yang tak biasa dan dengan kondisi
jalan yang sepi akan kendaraan sampai kami dihadapan hamparan air yang amat
luas. Tidak seperti ketika memasuki daerah wisata borobudur yang memerlukan
secarik kertas sebagai tanda masuk bagi pengunjung, untuk berada di atas pasir
dan dihadapan hamparan air ini kami tidak memerlukan itu. Tak banyak yang kami
lakukan di tempat ini, kegiatan yang kami lakukan hanyalah mengabadikan moment
keberadaan kami di tempat ini dalam berbagai ekspresi. Dan juga satu fenomena
alam yang tak luput dari pandangan kami, sunset.
Dengan perlahan seolah tenggelam
Seperti
menipu seakan menghilang
Dengan
indah kau berpamitan
Untuk
esok kembali terang
Sejatinya
kau tetap ada
Sampai
pada waktunya tiba
Sampai kami pada hari terakhir di
bumi bagian lain ini. Terjadwal pagi ini kami menuju keramaian untuk menyiapkan
buah tangan namun sang tour guide sudah
bangun lebih pagi untuk ujian. Dia pulang dengan diiringi hujan yang juga
menyebabkan kami menunda jalan. Sampai pada tersusun sebuah rencana di waktu
sore kami berpamitan untuk menuju malioboro dan meneruskannya menuju stasiun.
Namun dengan kelalaian yang dimiliki manusia rencana itu gagal sampai-sampai
ada yang murung dengan kegagalan rencana itu. Layaknya ketika sampai pada
tempat ini, untuk meninggalkan tempat ini pun kami lagi-lagi singgah di Surau
masa kini untuk berdoa seraya menunggu kerata. Tibalah kereta yang mengantar
kami pulang, bergegas kami masuk dan mencari tempat duduk. Sebuah perjalanan
yang tak biasa tentunya dengan barbagai cerita, berharap kita dapat berjalan
bersama lagi dengan tempat , suasana, dan cerita berbeda tentunya.
Pagi cerah dan malam sunyi, dibalik rasa dongkol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar