Di sebuah
ruang dalam kehidupan terdapat sebuah cerita. Cerita tentang kegiatan mahaguru
dengan para muridnya. Seorang mahaguru mengajarkan profesionalitas dalam
bekerja kepada para muridnya dan ia pun memberikan pekerjaan untuk diselesaikan
sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tak peduli pula seberapa banyak pekerjaan
yang para murid harus selesaikan. “ Saya tidak mau tau, pokoknya minggu depan
harus sudah selesai! ” kira kira begitu titah mahaguru kepada para murid. Bisa
karna terbiasa, mungkin itu prinsipnya. Dengan terbiasa memberikan pekerjaan
dengan cara yang dia tentukan dan dia inginkan, harapannya para murid bisa
mengerjakan semua pekerjaanya. Minggu demi minggu berlalu tak ada yang berubah
dengan kondisi itu.
Kini tibalah puncak dari kegiatan
mahaguru dengan muridya. Kegiatan ini berlangsung ramai dan riuh karena ada
hiburan yang mengiringi kegiatan ini. Namun tak ada yang menyangka seorang
murid tak dapat ikut merasakan riuhnya kegiatan ini karena sebuah alasan. Sang
murid pun menghadap ke mahaguru, “ guru, mana pekerjaan saya, apa yang bisa
saya kerjakan ? ” pinta murid kepada mahaguru tersebut. “ oh, iya. Temui saya
lagi di waktu mendatang, akan saya pikirkan pekerjaan yang pas untuk mu, saya
juga sedang ada pekerjaan. ” begitu jawab mahaguru itu. Sang murid kembali
menghadap kepada mahaguru tetapi kalimat sama yang ia dapat. Berukang kali hal
itu terjadi. Mana profesionalitas yang kau ajarkan, mahaguru ?
Pada lain sudut di sebuah ruang kehidupan ada
lagi sebuah cerita, kini cerita sang mahaguru dengan seorang murid yang
sebenarnya memiliki pemikiran yang kritis tetapi tidak dalam tindakan ( ada
yang menyebutnya sebagai kritis apatis ). “ nak, mana pekerjaanmu ? kapan
hendak kau serahkan pekerjaan itu kepadaku ? ” begitu berjiwa besar sang maha
guru ini, sampai-sampai ia yang mengingatkan dengan menghubungi murid itu untuk
segera menyelesaikan pekerjaannya. Sungguh kontras cerita dari sudut yang
berbeda dalam sebuah ruang kehidupan.
Ah, sudahlah. Cerita ini hanyalah
tarian jemari belaka dari jiwa yang geram terhadap sebuah realita. Goresan yang
tak bermakna jika tak ada aksi nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar