Senin, 02 Juni 2014

Goresan Pertama, Cerita Tentang Realita



Di sebuah ruang dalam kehidupan terdapat sebuah cerita. Cerita tentang kegiatan mahaguru dengan para muridnya. Seorang mahaguru mengajarkan profesionalitas dalam bekerja kepada para muridnya dan ia pun memberikan pekerjaan untuk diselesaikan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tak peduli pula seberapa banyak pekerjaan yang para murid harus selesaikan. “ Saya tidak mau tau, pokoknya minggu depan harus sudah selesai! ” kira kira begitu titah mahaguru kepada para murid. Bisa karna terbiasa, mungkin itu prinsipnya. Dengan terbiasa memberikan pekerjaan dengan cara yang dia tentukan dan dia inginkan, harapannya para murid bisa mengerjakan semua pekerjaanya. Minggu demi minggu berlalu tak ada yang berubah dengan kondisi itu.
            Kini tibalah puncak dari kegiatan mahaguru dengan muridya. Kegiatan ini berlangsung ramai dan riuh karena ada hiburan yang mengiringi kegiatan ini. Namun tak ada yang menyangka seorang murid tak dapat ikut merasakan riuhnya kegiatan ini karena sebuah alasan. Sang murid pun menghadap ke mahaguru, “ guru, mana pekerjaan saya, apa yang bisa saya kerjakan ? ” pinta murid kepada mahaguru tersebut. “ oh, iya. Temui saya lagi di waktu mendatang, akan saya pikirkan pekerjaan yang pas untuk mu, saya juga sedang ada pekerjaan. ” begitu jawab mahaguru itu. Sang murid kembali menghadap kepada mahaguru tetapi kalimat sama yang ia dapat. Berukang kali hal itu terjadi. Mana profesionalitas yang kau ajarkan, mahaguru ?
             Pada lain sudut di sebuah ruang kehidupan ada lagi sebuah cerita, kini cerita sang mahaguru dengan seorang murid yang sebenarnya memiliki pemikiran yang kritis tetapi tidak dalam tindakan ( ada yang menyebutnya sebagai kritis apatis ). “ nak, mana pekerjaanmu ? kapan hendak kau serahkan pekerjaan itu kepadaku ? ” begitu berjiwa besar sang maha guru ini, sampai-sampai ia yang mengingatkan dengan menghubungi murid itu untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Sungguh kontras cerita dari sudut yang berbeda dalam sebuah ruang kehidupan.
            Ah, sudahlah. Cerita ini hanyalah tarian jemari belaka dari jiwa yang geram terhadap sebuah realita. Goresan yang tak bermakna jika tak ada aksi nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar