Disaat menunggu seseorang
ditemani oleh narasi fiktif yang tercantum dalam lembar demi lembar kertas
tiba-tiba terdengar ucapan dari seseorang yang menyarankan temannya untuk duduk
sekitar sembilan ubin di sampingku dengan suara medoknya, khas suku jawa.
Sempat ingin menoleh
untuk melihat wujud dari orang bersuara medok itu namun tertahan oleh suara
hati. Tak lama setelah itu datang seseorang menghampiri dan duduk di samping
orang medok itu dan mereka pun saling tegur dilanjut dengan perbincangan yang
akrab, namun ketika kepala ingin menoleh kepada mereka terlintas dibenak, ‘dengarkan
dulu apa yang mereka perbincangkan barulah menoleh kepada mereka.’
Perbincangan mereka
seputar perkuliahan yang mereka alami ditambah dengan tema lain yang berkaitan
yang diselipkan dalam perbincangan itu, seketika terdengar orang medok itu
berkata
“buat apa kuliah lebih
enak langsung kerja.”
Entah apa yang
diperbincngkan sebelumnya sehingga si medok berkata seperti itu, namun aku
sepakat dengan jawaban yang dilontarkan oleh temannya
“yaudah kerja aja sana
trus ngapain di sini ?”
Setelah itu mereka pun
memberi argumen tentang pernyataan yang mereka keluarkan. Teman si medok itu
terdengar lebih tepat memberikan argumen. Setelah mendengar percakapan mereka
terbayanglah bagaimana bentuk fisik serta penampilan dari mereka. Si medok
dengan kemeja sedikit lusuh terlihat agak gelap dengan rambut berantakan dan
temannya dengan suara yang halus terdengar dengan kaos rapih dan rambut yang
tertata. Namun pendengaran ini tertipu setelah mata menyaksikan penampilan
mereka.
Si medok memang berkemeja,
namun kemeja yang digunakan rapih seakan disetrika dengan licin dan rambutnya
pun bukan berantakan seperti tak disisir namu lebih kepada gaya rambutnya yang
memang agak keriting. Dan teman si medok itu memang berkaos namun terlihat
kusam dengan kulit gelap kecoklatan. Mata ini membuktikan dan menunjukkan bahwa
pendengaran ini telah tertipu.
Tapi tak berhenti sampai
di sini. Mata ini menyaksikan bahwa si medok telihat lebih kurus dibanding
temannya. Ternyata setelah menyaksikan mereka beranjak dari tempat duduknya si
medok berjalan dengan tegap dan langkah yang cukup mantap namun berbeda dengan
temannya yang berjalan dengan langkah yang sedikit gemulai. Dan mata ini tertipu,
dua indra telah tertipu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar