Senin, 02 Juni 2014

MEDOK



Disaat menunggu seseorang ditemani oleh narasi fiktif yang tercantum dalam lembar demi lembar kertas tiba-tiba terdengar ucapan dari seseorang yang menyarankan temannya untuk duduk sekitar sembilan ubin di sampingku dengan suara medoknya, khas suku jawa.

Sempat ingin menoleh untuk melihat wujud dari orang bersuara medok itu namun tertahan oleh suara hati. Tak lama setelah itu datang seseorang menghampiri dan duduk di samping orang medok itu dan mereka pun saling tegur dilanjut dengan perbincangan yang akrab, namun ketika kepala ingin menoleh kepada mereka terlintas dibenak, ‘dengarkan dulu apa yang mereka perbincangkan barulah menoleh kepada mereka.’

Perbincangan mereka seputar perkuliahan yang mereka alami ditambah dengan tema lain yang berkaitan yang diselipkan dalam perbincangan itu, seketika terdengar orang medok itu berkata
“buat apa kuliah lebih enak langsung kerja.”
Entah apa yang diperbincngkan sebelumnya sehingga si medok berkata seperti itu, namun aku sepakat dengan jawaban yang dilontarkan oleh temannya
“yaudah kerja aja sana trus ngapain di sini ?”

Setelah itu mereka pun memberi argumen tentang pernyataan yang mereka keluarkan. Teman si medok itu terdengar lebih tepat memberikan argumen. Setelah mendengar percakapan mereka terbayanglah bagaimana bentuk fisik serta penampilan dari mereka. Si medok dengan kemeja sedikit lusuh terlihat agak gelap dengan rambut berantakan dan temannya dengan suara yang halus terdengar dengan kaos rapih dan rambut yang tertata. Namun pendengaran ini tertipu setelah mata menyaksikan penampilan mereka.

Si medok memang berkemeja, namun kemeja yang digunakan rapih seakan disetrika dengan licin dan rambutnya pun bukan berantakan seperti tak disisir namu lebih kepada gaya rambutnya yang memang agak keriting. Dan teman si medok itu memang berkaos namun terlihat kusam dengan kulit gelap kecoklatan. Mata ini membuktikan dan menunjukkan bahwa pendengaran ini telah tertipu.

Tapi tak berhenti sampai di sini. Mata ini menyaksikan bahwa si medok telihat lebih kurus dibanding temannya. Ternyata setelah menyaksikan mereka beranjak dari tempat duduknya si medok berjalan dengan tegap dan langkah yang cukup mantap namun berbeda dengan temannya yang berjalan dengan langkah yang sedikit gemulai. Dan mata ini tertipu, dua indra telah tertipu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar