Ada
sebuah kisah, tentang Abu Nawas. Entah kisah ini menceritakan Abu Nawas, atau
Abu Nawas yang bercerita tentang kisah ini. Pada suatu hari seorang anak bersama
bapaknya hendak pergi ke suatu tempat dengan unta. Unta yang tidak kecil, namun
tidak terlalu besar juga. Berangkatlah mereka menaiki unta dengan barang bawaan
mereka. Di perjalanan ada orang yang mengomentari keadaan tersebut, “apa mereka
ga kasian sama unta itu, masa untanya jalan sambil bawa beban yang berat.” Si
bapak yang mendengar komentar tersebutpun kemudian turun untuk berjalan kaki
agar unta tidak merasakan beban yang terlalu berat. Kemudian mereka meneruskan
perjalanan. Dan kembali diperjalanan ada pemuda yang berkomentar dengan keadaan
si bapak berjalan kaki sedangkan si anak berada di atas unta, “kurang ajar itu
anak, masa bapaknya disuruh jalan kaki tapi dia enak-enakan duduk di atas
unta.” Si anak pun kmudian turun dan meminta bapaknya bergantian untuk naik ke
atas unta, dan mereka meneruskan perjalanan.
Ternyata orang-orang di perjalanan tidak berhenti berkomentar.
Dengan kondisi anak berjalan kaki sedangkan bapaknya duduk dipunggung unta
masih ada yang berkomentar dengan keadaan tersebut. “apa bener orang yang di
atas unta itu bapak si anak yang jalan kaki itu ? masa bapaknya tega nyuruh
anaknya jalan kaki sedangkan dia enak duduk di atas unta.” Dengan segera si
bapak turun dari unta dan mereka pun berjalan kaki. Hanya barang bawaan mereka
yang ada di punggung unta. Mereka terus berjalan menuju tempat tujuan mereka.
Lagi lagi ada saja orang yang berkomentar, “ngapain mereka bawa unta kalo mereka
ga naik unta itu dan cuma jalan kaki.” Di sepanjang perjalanan apa yang
dilakuan si bapak dan anaknya terhadap unta mereka selalu mendapat komentar
dari orang-orang yang tidak mereka kenal.
Hidup
manusia dipenuhi dengan tindakan dan perbuatan. Apabila manusia tidak bertindak
dan berbuat maka manusia itu mati. Manusia memiliki alasan dan tujuan tertentu
untuk melakukan tidakan dan perbuatan dalam hidup mereka. Entah itu alasan dan
tujuan untuk diri sendiri atau alasan dan tujuan untuk orang lain. Namun, sering
kali tindakan dan perbuatan seseorang mendapatkan komentar dari orang lain dengan
alasan dan tujuan tertentu pula. Atau bahkan tanpa alasan dan tujuan tertentu
orang-orang memberikan komentar terhadap apa yang orang lain lakukan karena
hanya itu yang bisa mereka lakukan. Yang memberikan komentarpun dari banyak
kalangan, bisa dari orang disekitar kita, orang terdekat kita, dan bahkan orang
yang tidak mengenal kita atau tidak kita kenalpun bisa memberikan komentar atas
apa yang kita lakukan.
Bagi kita tidaklah terlalu penting
apa yang orang lain katakan terhadap apa yang kita lakukan. Yang terpenting
adalah apa yang kita lakukan itu sendiri. Dengan tujuan dan alasan apa kita melakukan
suatu hal tersebut ? jika kita melakukan suatu hal untuk kebaikan diri sendiri
apalagi kita melakukan suatu hal untuk kebaikan orang lain, maka lakukanlah. Memang
apa yang kita anggap baik belum tentu orang lain menganggap dan merasakan baik
pula. Kuncinya adalah percaya dan yakin apa yang kita lakukan dan apa yang kita
anggap baik itu baik untuk banyak orang karena kebaikan di manapun sama, hanya
cara orang melakukan dan memandang kebaikan itu saja yang berbeda.
Dalam sebuah acara di televisi mentri
kelautan dan perikanan mengatakan, “saat seleksi mentri saya berbicara kepada Presiden
apa yang akan saya lakukan tidak akan membuat semua orang senang.” Presiden sepakat
dan sadar betul apa yang dikatakan mentri Susi itu benar bahwa apa yang akan
kita lakukan tidak bisa membuat smua orang senang. Karena Presiden Jokowi sudah
merasakan apa yang dikatakan mentri Susi tadi saat menjadi walikota dan juga
gubernur.
Yang terpenting dalam hidup kita
adalah jika apa yang kita lakukan baik untuk banyak orang dan kita yakin itu,
maka lakukanlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar