Kulihat kau dalam sebuah
bingkai
dengan tatap kosong, karna
kau hanya maya.
Dan kini kau berada di
hadapanku
menjawab segala tanya,
tentang hidup bekerja.
Itulah awal mula kita
berbincang
namun kau berkata, kau telah
lebih dulu mengenalku.
Saat itu bersama dengan yang
lain
kita berada dalam satu
peraduan,
ada yang bilang itu bahtera
perkumpulan
untuk menggapai suatu
tujuan.
Namun bersamaan dengan itu,
ditengah perjalanan bahtera
yang disaksikan (bisu) oleh
nahkoda
kita mengikat kata,
menyambung rasa.
Kita nikmati rasa yang
tersambung itu
dalam malam ditemani hujan
yang pertama kita rasakan.
Dan seterusnya juga kita
rasakan berbagai macam bumbu kehangatan,
yang juga kau serasa hirup
kopi dan juga susu yang pahit dan manisnya
membuat kau mual hingga
memuntahkannya jika kau telan.
Namun itulah kenyataan yang
bersama-sama dihadapi.
Kau berkeluh kesah tentang
rasa kopi dan juga susu itu,
namun tetap saja kuberikan
rasa itu.
Hingga sempat kau mencabut
kata-kata yang terikat itu
akan tetapi rasa saling itu
masih tersambung.
Hingga kini banyak hal-hal
serupa terus berulang
Kucoba tawarkan upaya
pencegahan namun kau tolak
Kau bilang tak sanggup bila
harus melakukannya
Karena bila melakukannya kau
bukanlah dirimu lagi
Kini waktupun kembali pada
saat itu, kau ingin aku merekam perjalanan waktu
sebagai kenangan
kebersamaan. Karena yang kau tau aku biasa melakukannya.
Dan kuhadiahkan untukmu
perjalanan waktu yang singkat ini
sebagai kenangan kebersamaan
(meskipun terlambat)
Dan juga ku yakin kau tak
mengerti isi dari perjalanan waktu ini
Akan tetapi kehangatan
kebersamaan dalam perjalanan ini akan terus kita rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar