Jumat, 23 Januari 2015

Teruntuk : Silvia



Kulihat kau dalam sebuah bingkai
dengan tatap kosong, karna kau hanya maya.
Dan kini kau berada di hadapanku
menjawab segala tanya, tentang hidup bekerja.
Itulah awal mula kita berbincang
namun kau berkata, kau telah lebih dulu mengenalku.

Saat itu bersama dengan yang lain
kita berada dalam satu peraduan,
ada yang bilang itu bahtera perkumpulan
untuk menggapai suatu tujuan.

Namun bersamaan dengan itu,
ditengah perjalanan bahtera
yang disaksikan (bisu) oleh nahkoda
kita mengikat kata, menyambung rasa.

Kita nikmati rasa yang tersambung itu
dalam malam ditemani hujan yang pertama kita rasakan.
Dan seterusnya juga kita rasakan berbagai macam bumbu kehangatan,
yang juga kau serasa hirup kopi dan juga susu yang pahit dan manisnya
membuat kau mual hingga memuntahkannya jika kau telan.
Namun itulah kenyataan yang bersama-sama dihadapi.

Kau berkeluh kesah tentang rasa kopi dan juga susu itu,
namun tetap saja kuberikan rasa itu.
Hingga sempat kau mencabut kata-kata yang terikat itu
akan tetapi rasa saling itu masih tersambung.

Hingga kini banyak hal-hal serupa terus berulang
Kucoba tawarkan upaya pencegahan namun kau tolak
Kau bilang tak sanggup bila harus melakukannya
Karena bila melakukannya kau bukanlah dirimu lagi

Kini waktupun kembali pada saat itu, kau ingin aku merekam perjalanan waktu
sebagai kenangan kebersamaan. Karena yang kau tau aku biasa melakukannya.
Dan kuhadiahkan untukmu perjalanan waktu yang singkat ini
sebagai kenangan kebersamaan (meskipun terlambat)
Dan juga ku yakin kau tak mengerti isi dari perjalanan waktu ini
Akan tetapi kehangatan kebersamaan dalam perjalanan ini akan terus kita rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar