Selasa, 07 Oktober 2025

Menuju Piala Dunia : Setitik Catatan dan Harapan

 


2002, tahun yang terpantik dalam ingatan ketika pertama kali mengingat sejak kapan  mengikuti Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Kala itu Final Piala Tiger (yang sempat berubah nama menjadi AFF Cup dan kini menjadi ASEAN CUP), di stadion Gelora Bung Karno, Indonesia vs Thailand babak adu pinalti, dengan hasil akhir Thailand yang memenangkan pertandingan.

Sejak saat itu kekecewaan atas kegagalan Timnas meraih kejayaan terus berdatangan. Kegagalan lolos dari fase grup piala asia 2004, gagal juara pada AFF cup 2004, gagal lolos dari fase grup piala asia 2007 saat menjadi tuan rumah padahal hanya butuh hasil imbang pada pertandingan terakhir sama seperti saat piala asia 2004. Gagal juara di AFF 2010, sea games 2011, dualisme federasi dan Timnas pada 2012 hingga dibekukan nya federasi dan Timnas dari event internasional pada tahun 2014-2015. Gagal juara di AFF 2016. Gagal juara di Asean cup 2020.

Namun, di tengah rentetan kegagalan tersebut terselip beberapa keberhasilan. Juara AFF U-19 tahun 2013, juara AFF U-22 2019. Medali emas sea games 2023. Tapi diantara keberhasilan tersebut terjadi pada timnas kelompok umur. Keberhasilan yang ditunggu yaitu keberhasilan pada timnas Senior. 

Secercah harapan mulai muncul. Ketika keikutsertaan timnas di Asean Cup 2020 yang dilatih oleh STY pelatih asal Korea Selatan yang berhasil mengalahkan Jerman di piala dunia 2018. Turnamen Yang dilaksanakan pada tahun 2021 karena terjadi pandemi dengan final dilaksanakan pada awal tahun 2022. Kala itu dengan tim yang masih sangat muda untuk ukuran sebuah tim nasional senior tapi mampu menampilkan permainan yang sangat baik. Ada anggapan bahwa Timnas pada saat itu merupakan hasil dari potong generasi Timnas. Meski belum memberikan juara tapi banyak menunjukkan kemajuan dari segi teknis sepakbola.

Hasil dari potong generasi tersebut terlihat saat kualifikasi piala asia 2023. Timnas Indonesia berhasil mengalahkan tuan rumah Kuwait, serta Nepal, meski sempat kalah tipis oleh Yordania yang pada akhirnya sampai final piala asia, namun tetap berhasil melaju ke babak utama piala asia melalui jalur kualifikasi sejak 20 tahun terakhir. Hingga hasil di piala asia pun mencapai target dengan lolos dari fase grup untuk pertama kali meski melalui jalur peringkat tiga terbaik.

Lanjut pada pagelaran piala asia u-23, timnas lolos babak utama untuk pertama kalinya. Pada fase grup mengalahkan tim kuat Australia serta Yordania dan pada babak 8 besar kembali mengalahkan tim kuat lainnya Korea Selatan meski pada babak adu pinalti. Dengan mencapai target lolos dari fase grup bahkan mencapai semifinal dan hampir mengikuti olimpiade, dengan permainan yang baik dan sebagian dari tim ini juga merupakan bagian dari tim senior, muncul kembali secercah harapan untuk timnas Indonesia.

Harapan itu kini di depan mata. 2 x 90 menit jika menuntaskan pertandingan itu, maka sejarah tercipta, pertama kalinya sejak kemerdekaan Indonesia berpartisipasi di piala dunia. 

Namun kondisi tim kini berbeda. STY Pelatih  yang membawa Timnas meraih hasil positif di piala asia senior dan U23 dengan permainan yang baik, telah diganti dengan tim kepelatihan dari Belanda yang notabene memiliki kesamaan dengan banyak pemain diaspora Indonesia.

Banyak spekulasi beredar terkait pergantian tim kepelatihan. Apapun itu alasannya, tujuannya kini hanya satu, bawa Indonesia ke Piala Dunia. Kerangka tim sejatinya sudah terbentuk, dari formasi, gaya bermain sampai pemain yang bisa masuk dsp. Jika tim kepelatihan saat ini sedikit banyak merubah kerangka yang ada dan ternyata hasilnya kegagalan, maka mereka harus bersiap tanggung jawab, termasuk federasi yang mempunyai hak mengganti tim kepelatihan juga harus bertanggung jawab.

Untuk saat ini yang terpenting adalah bukan cara bermain, tetapi hasil yang bisa membawa kita ke piala dunia. Maka dari itu cara bermain apapun, lakukanlah untuk hasil yang kita inginkan bersama. Singkirkan dulu prinsip maupun filosofi bermain dan sejenisnya. Kami ingin Indonesia Raya berkumandang, Merah Putih berkibar di kancah Internasional, di panggung terbesar dunia, di Piala Dunia 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar