Pertengahan bulan Maret, Gubernur Ibu Kota mengumumkan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah dengan pertimbangan untuk mencegah penyebaran virus yang sedang mewabah di Indoneisa.
Pada saat itu, sekolah bagus akan melaksanakan kegiatan PTS. Setelah PTS selesai dilaksanakan di rumah, kegiatan pembelajaran di rumah dimulai melalui media elektronik. Bagus mendapat tugas mencari tahu tentang virus.
“Pak, bisa ga kalo sekarang kita pasa wifi di rumah? Bapak juga kerjanya mulai di rumah aja kan?” Bagus memulai pembicaraan di hari pertama belajar dan bekerja di rumah.
“Memangnya paket data kamu sudah habis Gus?” jawab bapak Bagus
“Yaa masih ada sih pak.”
Bagus menjelaskan dengan adanya wifi kegiatan belajar dan bekerja di rumah akan lebih praktis. Karena Bagus memperkirakan kegiatan yang akan dia lakukan akan banyak menggunakan koneksi internet begitu juga denga pekerjaan bapaknya.
“Iyaa nanti bapak cari dulu.” Bapak Bagus menanngapi penjelasan Bagus namun tanpa menjelaskan apa yang akan ia cari.
Di hari pertama kegiatan Bagus dan keluarganya masih berjalan seperti biasa. Pada malam hari selepas Shalat dan makan malam keluarga Bagus berkumpul di ruang keluarga dengan kegiatan masing-masing.
“Beritanya tentang virus terus ya pak.”
Bagus membuka percakapan malam itu ditengah jeda iklan acara berita di televisi. Bagus dan bapaknya duduk bersampingan. Sementara ibu Bagus berada di dapur.
“Yaa karena memang itu sekarang yang sedang terjadi dan ramai, bahkan ditetapkan sebagai pandemic oleh WHO. Kamu bilang begitu memang sudah lihat berita apa saja Gus?”
“Yaa banyak, mecam-macam berita pak. Tapi lebih banyak berita yang bikin muka manyun semua. Bahkan banyak berita cendurung menyeramkan.”
“Poin dari berita itu bukan manusia digigit anjing, tapi anjing digigit oleh manusia.”
“Hah? Emangnya ada pak? Berita di mana itu?”
“Itu semacem analogi atau teori dari penyampaian berita, memangnya berita apa yang sudah kamu lihat hari ini?”
Bagus menyebutkan berbagai berita yang ia lihat dari berbagai media sosial/elektronik. Bahkan banyak berita yang ia dapat di grup whatsapp teman sekolahnya. Yang menjadi kesimpulan sementara Bagus yaitu waktu, tenaga, dan pikiran manusia sekarang terfokus pada virus. Sesuatu yang sangat kecil, yang tak kasat mata itu mencuri perhatian warga dunia. Bagus merasakan ada lebih banyak hal yang mestinya juga menjadi perhatian warga dunia.
“Ada pak, beberapa postingan dari temen, dari dulu yang lebih berbahaya dari virus itu banyak, tapi kenapa virus ini yang baru muncul langsung jadi trending topic dunia? Dan yang lebih berbahaya dari virus itu sampai sekarang masih terjadi dan masih ada. Tapi jarang banget jadi trending topik.”
“Memangnya apa yang lebih berbahaya dari virus? Kecelakaan? Kelaparan? Atau ada lagi yang lebih berbahaya dari hal-hal itu?”
“Itu Pak yang jadi postingan temen. Bahkan ada yang sampe bilang ‘giliran sama virus takut tapi kerjaannya kebut kebutan naik motor. Padahal sama-sama bahaya, sama-sama bisa bikin mati juga malahan kalau kena virus biaya pengobatan itu gratis ditanggung sama pemerintah. Tapi kalau kena kecelakaan biaya perawatan pengobatannya bayar sendiri.’ Yaa Bagus pikir itu sihh lagi menyindir tapi yang disindir juga kayanya ga ngerasa disindir.”
“Itulah kehidupan, itulah dunia. Dan kalau nanti kamu semakin tau, semakin mengenal kehidupan dunia kamu bakal menemukan hal yang jauh lebih menarik perhatian kamu tapi kamu gak bisa berbuat apa-apa gak mampu untuk berbuat apa-apa terhadap kehidupan dunia itu. Kamu hanya bisa fokus sama diri kamu, sama kehidupan kamu saja. Padahal kamu ingin berbuat sesuatu untuk dunia, tetapi kamu sadar terhadap suatu hal bahwa berbuat sesuatu untuk dunia bisa dimulai dari diri sendiri sekaligus kamu juga sadar dan merasa bahwa kamu tidak memiliki daya untuk merubah dunia.”
Bagus terdiam. Ia menunggu apa yang akan disampaikan oleh Bapaknya. Pesan-pesan itulah yang ia tunggu dari bapaknya. Ia merasa bersyukur memiliki bapak yang bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepadanya.
“Gus kamu tau gak, ada berita yang disampaikan dari ratusan tahun lalu berita yang disampaikan belasan abad yang lalu. Ada berita gembira ada juga berita yang menyeramkan. Tapi banyak manusia yang abai, banyak manusia yang tak acuh atas berita yang disampaikan itu. Padahal berita itu menurut bapak merupakan berita utama, berita terpenting bagi manusia yang pernah disampaikan.”
“Berita apa itu pak?”
Bagus semakin antusias. Rasa penasaran Bagus memuncak. Ia heran kenapa bapaknya bisa membuat Bagus selalu penasaran. Atau memang Bagus orang yang mudah penasaran.
“Selepas maghrib tadi, kamu sudah tilawah kan. Kamu baca arti dari ayat yang kamu baca gak? Di sana banyak sekali berita yang disampaikan. Berita gembira maupun berita yang menyeramkan. Sebentar lagi ramadhan, mulai dibiasakan baca juga arti dari surat atau ayat yang kamu baca. Nanti kamu akan menemukan kesimpulan dari kejadian yang telah, sedang dan yang akan terjadi di dunia ini. Yang terjadi sekarang sudah disampaikan beberapa ratus tahun atau beberapa abad yang lalu. Bahkan sebelumnyapun wabah juga sudah pernah terjadi dan dalam berita itu juga disampaikan bagaimana kita mesti bertindak saat wabah terjadi. Sekarang bantu dulu ibu kamu di dapur.”
Setelah diminta membantu ibu nya di dapur, Bagus tidak segera berbegas. Ia melamun sejenak. Setelah bapak Bagus menepuk pundaknya barulah Bagus bergegas. Tak sampai satu menit Bagus keluar dari dapur berjalan menuju kamarnya.
“Lohh, ga jadi bantu ibu kamu, Gus?”
“Ibu sudah selesai, Pak.”
Jawaban singkat Bagus menutup percakapan malam itu. Bagus berpikir kesimpulan apa yang ia dapat dari percakapan dan pesan bapaknya tadi. Karena sering kali dalam percakapan dengan bapaknya, bapaknya tidak memberikan kesimpulan kepada Bagus. Seolah Bapak Bagus memberikan ‘PR’ kepada Bagus. Bagus berusaha untuk mencari sendiri apa kesimpulan dari percakapan tadi, hingga ia pun tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar