Senin, 29 Agustus 2016

Membaca



Dalam sebuah kelas seorang guru mengajari muridnya, "Nak, kalian tau firman Tuhan yang pertama kali disampaikan kepada kanjeng Nabi ?" Guru memulainya dengan bertanya. "Iya pak saya tau, Tuhan memerintahkan untuk membaca, tapi bukankah kanjeng Nabi tidak bisa membaca?" Seorang murid menjawab pertanyaan guru yang dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan dari murid tersebut.

"Ya kanjeng Nabi memang tidak bisa membaca maka kanjeng Nabi didampingi oleh malaikat. Tapi apa kau tau apa yang tidak bisa dibaca oleh kanjeng Nabi ?" Semua murid terdiam seakan pikiran mereka bersepakat bahwa yang tidak bisa dibaca itu adalah sebuah tulisan berupa susunan huruf, kata, kalimat dan seterusnya. "Dan apa kalian tau kanjeng Nabi itu bukanlah manusia bodoh karna hanya tidak bisa membaca padahal beliau itu sesungguhnya adalah manusia cerdas yang bisa membaca ?" Guru tersebut melanjutkan perkataannya. Kini semua murid benar benar terdiam pikiran mereka kosong dan sekali lagi semua murid seolah bersepakat bahwa mereka tidak mengetahui dan belum mampu memikirkan apa maksud dari perkataan guru mereka itu.

"Kalian benar jika berpikir bahwa yang tidak bisa dibaca oleh kanjeng Nabi adalah tulisan berupa susunan huruf, kata, kalimat, dst. Namun jika kalian belum mampu memikirkan apa yang dapat dibaca oleh kanjeng Nabi itu bukanlah kesalahan kalian karna sebab itulah kalian berada di ruangan ini duduk dengan tenang dan dengan setia menjadi pemerhati guru yang baik." Semua murid masih belum mampu berpikir memahami apa yang dimaksud oleh guru itu.

"Nak kalian semua tau ketika kanjeng Nabi mendekati ajalnya, malaikat maut memohon ijin kepada kanjeng Nabi untuk mencabut ruhnya ?" Sebagian siswa nampak antusias mendengar cerita dari guru dan yang lainnya entah apa yang ada dipikiran mereka. "Kanjeng Nabi mempersilahkan kepada malaikat maut untuk segera mencabut ruhnya karna Kanjeng Nabi tau saat itu memang sudah waktunya untuk kembali kepada Sang Pencipta, padahal malaikat maut menawarkan jika kanjeng Nabi mau malaikat maut akan menghadap kepada Sang Pencipta memohon untuk menunda ajal kanjeng Nabi. Namun kanjeng Nabi menolak dan meminta kepada malaikat maut untuk segera melaksanakan perintah Sang Pencipta.

Jika kanjeng Nabi sepakat terhadap malaikat maut untuk menunda ajalnya mungkin dengan maksud agar kanjeng Nabi dapat berdakwah lebih lama tapi apa yang akan terjadi pada ummatnya jika mereka tau bahwa ajal dapat ditunda ? Pada saat itulah kanjeng Nabi dapat membaca." Setelah mendengar sebagian cerita guru beberapa siswa sudah mulai terbuka pikirannya tentang apa maksud dari membaca. Dan siswa lain masih nampak antusias mendengarkan cerita guru mereka.

"Apa yang dibaca kanjeng Nabi pada saat itu?" Celoteh seorang siswa memecah keheningan kelas. Sang gurupun tersenyum mendengar pertanyaan siswa tersebut. "Yang dibaca kanjeng Nabi adalah sebuah keadaan sebuah situasi sebuah kondisi di mana jika kanjeng Nabi sepakat untuk menunda ajalnya maka mungkin ummatnya akan berpikir bahwa ajal dapat ditunda yang mana ajal merupakan ketentuan Tuhan dan jika ketentuan Tuhan itu belum pasti, apa yang disampaikan kanjeng Nabi kepada ummatnya akan bertolak belakang dan akan membuat setan mampu menggoda manusia lebih mudah lagi untuk tidak taat tidak patuh tidak yakin kepada Nabi dan kepada Tuhan. Karna kanjeng Nabi membaca kondisi itulah kanjeng Nabi menolak usul malaikat maut." Saat itu lebih banyak pikiran siswa yang terbuka tentang apa yang dapat dibaca oleh kanjeng Nabi, dan beberapa dari mereka -sekali lagi masih- nampak antusias mendengar dan ingin mengetahui bagaimana ujung cerita guru itu.

"Maka dari itu nak, jika kalian sudah pandai membaca tulisan janganlah kalian sudah merasa pintar, perbanyaklah berliterasi karna masih banyak yang belum kalian tau, bacalah apa yang kaliat lihat agar kalian mengerti apa itu hidup yang sesungguhnya bacalah apa yang kalian rasakan agar kalian paham bagaimana menjalani hidup itu." Demikianlah pesan penutup dari guru yang disampaikan kepada muridnya dalam pelajaran saat itu.

Beberapa waktu setelah guru itu mengajari muridnya tentang membaca, guru tersebut menemukan sebuah tulisan yang sangat menarik baginya. Ia membaca tulisan itu sampai ia merasakan seperti mengenal isi tulisan itu. Tapi ia tak dapat membaca maksud tulisan itu, ia tak dapat membaca tujuan dari tulisan itu, dan ia tak dapat membaca pesan –apa, siapa, kapan, kenapa, di mana, dan bagaimana- dari tulisan itu. Guru kah dia ? ketika dia mengajari muridnya membaca namun hal itu tak dapat dia lakukan hingga menimbulkan keresahan dalam hatinya. Dan untuk menghilangkan kerasahan itu  yang dia lakukan adalah menuangkan keresahannya dalam sebuah tulisan agar dia dapat kembali membacanya untuk terus belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar